USPS Luncurkan Prangko Burung Bangau Origami, Simbol Perdamaian dari Hiroshima
Baca dalam 60 detik
- Layanan Pos Amerika Serikat (USPS) menerbitkan prangko bertema perdamaian dengan gambar burung bangau origami, terinspirasi dari kisah Sadako Sasaki.
- Prangko bernilai 78 sen AS ini diluncurkan bertepatan dengan pameran perangko internasional Boston World Exposition 2026.
- Langkah ini diharapkan memperkuat diplomasi budaya dan pesan perdamaian global, relevan bagi Indonesia sebagai negara yang aktif dalam gerakan anti-nuklir.

Layanan Pos Amerika Serikat (USPS) resmi mengedarkan prangko baru bertajuk "International Peace Stamp" pada 27 Mei lalu, menampilkan burung bangau kertas (origami) yang menjadi simbol perdamaian universal. Prangko ini bukan sekadar alat pengiriman surat, melainkan medium pesan moral yang lahir dari kisah pilu seorang anak korban bom atom Hiroshima.
Prangko dengan nilai nominal 78 sen AS (sekitar 124 yen atau Rp13.000) ini dapat digunakan untuk mengirim surat atau kartu pos di dalam negeri AS. Peluncurannya sengaja dijadwalkan bertepatan dengan Boston World Exposition 2026, sebuah pameran perangko internasional yang tengah berlangsung. Dalam pernyataan resminya, USPS menekankan bahwa burung bangau telah menjadi simbol yang melampaui batas bahasa, agama, dan kebangsaan.
Desain prangko memperlihatkan seekor bangau putih yang sedang mengembangkan sayap, siap terbang di atas latar biru. USPS menyebut bahwa selembar kertas datar dan biasa dapat berubah menjadi sesuatu yang tampak hidup—sebuah metafora tentang kemampuan manusia memilih kreasi daripada kehancuran, koneksi daripada perpecahan, dan harapan daripada keputusasaan. Pernyataan ini menggema kuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Kisah di balik simbol ini bermula dari Sadako Sasaki, seorang gadis Jepang yang terpapar radiasi bom atom Hiroshima pada 1945. Ia terus melipat burung bangau kertas selama dirawat di rumah sakit hingga wafat di usia 12 tahun. Gerakan melipat origami crane sebagai doa perdamaian kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Di Tanah Air, tradisi ini kerap diadopsi dalam kegiatan kemanusiaan dan peringatan Hari Perdamaian Internasional.
Bagi Indonesia, peluncuran prangko ini memiliki resonansi tersendiri. Sebagai negara yang pernah mengalami konflik dan aktif dalam gerakan anti-nuklir, pesan perdamaian yang diusung prangko ini sejalan dengan semangat diplomasi budaya Indonesia. Beberapa komunitas origami di Jakarta dan Yogyakarta bahkan rutin mengadakan aksi melipat seribu bangau kertas untuk korban bencana. Prangko ini bisa menjadi pengingat bahwa perdamaian dimulai dari tindakan kecil yang bermakna.
Ke depan, prangko ini berpotensi menjadi benda koleksi yang bernilai edukatif. Pertanyaannya, mampukah simbol sederhana ini mendorong aksi nyata perdamaian di tengah konflik bersenjata yang masih terjadi di berbagai belahan dunia?



