Victoria Beckham di Usia 50: Berdamai dengan Diri Sendiri dan Menolak Mitos Anti-Aging
Baca dalam 60 detik
- Desainer dan mantan personel Spice Girls itu mengaku puluhan tahun merasa tidak cukup baik, tetapi kini di usia 52 tahun ia mulai menerima penampilannya.
- Victoria Beckham menegaskan bahwa produk kecantikan berlabel 'anti-aging' hanyalah strategi pemasaran, karena tidak ada krim yang bisa menghentikan proses penuaan.
- Ia justru meningkatkan intensitas olahraga di usia 50-an dan mendorong perempuan untuk tidak membatasi diri hanya karena angka usia.

Di usia 52 tahun, Victoria Beckham akhirnya menemukan kedamaian yang selama puluhan tahun ia cari: menerima dirinya sendiri. Mantan personel Spice Girls yang kini sukses sebagai desainer dan pengusaha kecantikan itu mengaku bahwa masa-masa kritis terhadap penampilan perlahan memudar seiring bertambahnya usia.
Dalam wawancara dengan Sunday Times Style, Victoria mengungkapkan bahwa sebagian besar hidupnya ia habiskan dengan perasaan tidak pernah cukup baik dan tidak menyukai penampilannya. Namun, memasuki dekade kelima, ia justru merasakan kebebasan. “Hal terbaik dari menjadi lebih tua adalah saya sekarang menerima cara saya terlihat,” ujarnya. Ia menambahkan, menerima penuaan jauh lebih baik daripada alternatifnya, dan itu bukan berarti menyerah pada perawatan diri.
Victoria juga menolak anggapan bahwa usia 50 adalah batas untuk berhenti tampil menarik. “Anda tidak harus berkompromi. Anda tetap bisa terlihat baik,” tegasnya. Sikap ini mencerminkan perubahan pola pikir yang lebih luas di kalangan perempuan, terutama di industri hiburan dan mode yang kerap menekankan standar kecantikan sempit.
Fenomena ini relevan dengan tren di Indonesia, di mana tekanan sosial terhadap penampilan perempuan masih tinggi. Banyak perempuan Indonesia, terutama yang memasuki usia 40-an ke atas, merasa tertekan untuk mempertahankan keremajaan. Namun, pernyataan Victoria Beckham bisa menjadi angin segar: bahwa penuaan bukanlah musuh, melainkan proses alami yang bisa diterima dengan anggun. Di tengah maraknya produk kecantikan yang menjanjikan awet muda, suara seperti Victoria mengingatkan bahwa kepercayaan diri tidak datang dari botol krim.
Menariknya, Victoria justru meningkatkan intensitas latihan fisik di usia 50-an. Ia mengaku berolahraga lebih banyak dibanding saat usia 20 dan 30 tahun. “Hanya karena Anda bertambah tua, bukan berarti Anda terbatas dalam melakukan sesuatu. Anda bisa mencapai hal-hal hebat seiring bertambahnya usia,” katanya. Pandangan ini menantang stereotip bahwa usia lanjut identik dengan penurunan aktivitas fisik.
Di sisi lain, ia dengan tegas mengkritik industri kecantikan yang gemar menggunakan label 'anti-aging'. Menurutnya, tidak ada produk topikal yang benar-benar bisa menghentikan proses penuaan. “Itu hanya baris pemasaran yang bagus,” sindirnya. Victoria lebih percaya pada perawatan yang realistis dan memberdayakan, bukan yang menjual ilusi.
Pengalaman pribadi Victoria dengan masalah kulit sejak remaja menjadi inspirasi di balik produk Foundation Drops dari lini Victoria Beckham Beauty. Ia mengaku telah berjuang melawan jerawat sejak usia sangat muda dan menggunakan riasan sebagai topeng. Produk itu, katanya, adalah “seumur hidup dalam pembuatan” karena ia ingin perempuan lain merasa dilihat dan dipahami. “Saya tahu bagaimana rasanya tidak percaya diri,” ungkapnya kepada British Vogue.
Pernyataan Victoria Beckham ini menggemakan pergeseran budaya yang lebih luas: dari obsesi melawan penuaan menuju penerimaan diri yang lebih sehat. Pertanyaannya, akankah industri kecantikan dan masyarakat Indonesia mengikuti jejak ini, atau masih akan terus terjebak dalam mitos anti-aging?



