Suhu 45 Derajat di Delhi: Antara Bertahan Hidup dan Risiko Kematian
Baca dalam 60 detik
- Gelombang panas ekstrem di Delhi memaksa pekerja informal memilih antara berhenti bekerja atau menghadapi risiko kesehatan yang mengancam jiwa.
- Hampir 90% tenaga kerja India di sektor informal tidak memiliki jaminan sosial, sehingga mereka harus tetap bekerja meski suhu mencapai 45 derajat Celsius.
- Para ahli memperingatkan bahwa perubahan iklim memperpanjang dan memperparah musim panas, dengan potensi kerugian ekonomi hingga 194 miliar dolar AS pada 2024.

Di tengah teriknya suhu yang menembus 45 derajat Celsius, para pekerja informal di Delhi, India, dihadapkan pada pilihan sulit: berhenti bekerja dan kehilangan pendapatan, atau terus bekerja dengan risiko kesehatan yang fatal. Sebuah realitas yang menggambarkan kesenjangan antara mereka yang bisa berlindung di dalam ruangan ber-AC dan mereka yang harus bertahan di bawah sengatan matahari.
Harish Chandra, 52 tahun, pengemudi becak, harus memilih antara beristirahat di bawah naungan atau terus mengayuh untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia telah mengirim istri dan tiga anaknya ke desa di Bihar, karena kondisi di Delhi yang semakin tidak bersahabat. "Jika kami berhenti, kami tidak mendapat uang. Dan jika tidak ada uang, keluarga tidak bisa makan," ujarnya.
Fenomena ini bukan sekadar musim panas biasa. Para ilmuwan iklim mencatat bahwa gelombang panas di Asia Selatan semakin panjang, ganas, dan tidak terduga akibat pemanasan global. Dr. Soumya Swaminathan, mantan ilmuwan utama WHO, menyebut suhu yang tercatat di India saat ini sudah mendekati batas toleransi manusia dan mengancam jiwa serta mata pencaharian.
Pemerintah Delhi sebenarnya telah mengeluarkan peringatan dini dan rencana aksi panas, termasuk pusat pendingin dan kios air. Namun, bagi pekerja seperti Mohammad Umar, 50 tahun, pengemudi tuk-tuk, nasihat untuk menghindari paparan sinar matahari pada jam sibuk tidak realistis. "Jika saya tidak bekerja sehari, saya kehilangan 500-700 rupee. Uang itu harus keluar dari tabungan kecil kami," katanya.
Dampak kesehatan juga mengkhawatirkan. Dr. Satish Koul dari Fortis Hospital Gurgaon mengatakan rumah sakit rutin menangani kasus dehidrasi, tekanan darah rendah, dan kelelahan panas. "Tanda awal seperti pusing, lemah, sakit kepala, mual sering diabaikan. Jika seseorang berhenti berkeringat atau pingsan, itu bisa menjadi darurat medis," jelasnya.
Kondisi diperparah oleh tempat tinggal para pekerja migran yang padat, dengan ventilasi buruk dan tanpa AC. Atap dari seng dan plastik menyerap panas sepanjang hari dan melepaskannya di malam hari, sehingga tubuh tidak bisa pulih dengan baik. "Kelelahan menumpuk hari demi hari," tambah Dr. Koul.
Bagi Indonesia, situasi di Delhi menjadi pengingat akan kerentanan pekerja informal di perkotaan. Dengan suhu yang juga kerap melampaui 35 derajat di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, risiko serupa mengintai jika tidak ada kebijakan perlindungan yang memadai. Apakah pemerintah Indonesia siap menghadapi gelombang panas yang semakin ekstrem di masa depan?



