Malaysia U-19 Waspadai Bayang-Bayang Kegagalan di Piala AFF U-19 2026
Baca dalam 60 detik
- Timnas Malaysia U-19 tergabung di Grup B Piala AFF U-19 2026 bersama Thailand, Singapura, dan Brunei.
- Pelatih Nafuzi Zain mengingatkan pemainnya untuk tidak mengulangi kekalahan pahit yang dialami tim U-23 di masa lalu.
- Malaysia pernah dua kali juara turnamen ini, keduanya saat digelar di Indonesia, pada 2018 dan 2022.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5282625/original/006055200_1752479779-20250714AA_Press_Conference_Piala_AFF_2025-4857.jpg)
Piala AFF U-19 2026 yang akan berlangsung di Medan, Sumatra Utara, pada 1β14 Juni mendatang menjadi ajang pembuktian bagi Timnas Malaysia U-19. Namun, di balik persiapan matang yang dilakukan, pelatih Nafuzi Zain justru menyuarakan kewaspadaan tinggi terhadap ancaman kegagalan yang membayangi tim asuhannya.
Malaysia tergabung di Grup B bersama Thailand, Singapura, dan Brunei Darussalam. Thailand jelas menjadi lawan terkuat, sementara Singapura dipandang sebagai saingan utama untuk memperebutkan tiket semifinal. Meski secara peringkat di atas kertas Malaysia lebih unggul dari Singapura, Nafuzi enggan meremehkan lawan. Ia mengingatkan bahwa pengalaman pahit bersama tim U-23 di SEA Games 2025 lalu menjadi pelajaran berharga.
βSaya tahu ini bukan grup yang mudah. Berdasarkan pengalaman kami sebelumnya dengan tim U-23, ada kalanya kami mengira akan memenangkan pertandingan tetapi akhirnya kalah,β ujar Nafuzi seperti dikutip dari Soha. Ia menekankan pentingnya belajar dari masa lalu dan kesiapan menghadapi siapa pun lawan.
Untuk memperkuat skuad, Nafuzi memanggil Luka Jordy Hodak, bek tengah berusia 19 tahun yang merupakan putra dari mantan pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak. Luka telah menjadi warga negara Malaysia dan saat ini bermain untuk NK Trnje FC di Liga Kroasia. Kehadirannya diharapkan menambah soliditas lini pertahanan. Selain itu, sejumlah pemain dari Johor Darul Ta'zim dan Selangor FC juga masuk dalam daftar panggilan.
Bagi Indonesia sebagai tuan rumah, turnamen ini menjadi momentum untuk mengukur kekuatan tim muda Asia Tenggara. Persaingan di Grup B diprediksi ketat, terutama antara Malaysia dan Thailand. Jika Malaysia mampu melewati fase grup, bukan tidak mungkin mereka kembali berjaya di tanah Indonesia, seperti yang terjadi pada edisi 2018 dan 2022. Namun, Nafuzi mengingatkan bahwa masa lalu tidak menjamin kesuksesan di masa depan.
Pertanyaan besarnya, mampukah Malaysia U-19 mengatasi trauma kegagalan dan kembali merebut gelar juara di Medan? Atau justru Thailand yang akan menjadi batu sandungan?



