Greece Rekrut Kakak Sam Konstas demi Mimpi T20 World Cup 2028
Baca dalam 60 detik
- Billy Konstas, kakak dari bintang tes Australia Sam Konstas, masuk dalam skuad Yunani untuk kualifikasi T20 World Cup 2028 di Finlandia pada Agustus mendatang.
- Strategi memanfaatkan diaspora Yunani-Australia yang mencapai 400.000 jiwa ini mengikuti jejak Italia yang sukses di Piala Dunia sebelumnya.
- Federasi Kriket Yunani tetap berhati-hati dalam mengintegrasikan pemain diaspora, dengan prioritas mengembangkan bakat lokal yang sebagian besar berasal dari Pulau Corfu.

Krisis regenerasi pemain kerap menjadi momok bagi negara-negara dengan tradisi kriket yang panjang. Yunani, yang telah menjadi anggota International Cricket Council (ICC) sejak 1995 namun nyaris tanpa peringkat T20, kini mengambil langkah tak biasa: memanggil Billy Konstas—kakak dari sensasi kriket Australia Sam Konstas—untuk memburu tiket ke Piala Dunia T20 2028.
Billy, yang empat tahun lebih tua dari Sam (24 tahun), masuk dalam skuad 14 pemain Yunani untuk turnamen kualifikasi Eropa di Finlandia pada 14–21 Agustus mendatang. Di Sydney, ia bermain kriket grade sambil bekerja sebagai pelatih kriket dan fisioterapis. Kehadirannya diharapkan bisa memberikan pengalaman dan ketenangan di tengah skuad yang masih didominasi pemain lokal.
Selain Billy, Yunani juga memanggil Blake Faunce, pemain all-rounder leg-spin berusia 21 tahun yang pernah mewakili Australian Capital Territory di level usia. Federasi Kriket Hellenic (HCF) juga telah melakukan pendekatan terhadap Blake Nikitaras (26) yang tampil di kriket kelas satu New South Wales dan Big Bash League bersama Sydney Thunder. Ayah Nikitaras, Steve, pernah menjadi pemain tim nasional Yunani. Satu nama lain yang diincar adalah Peter Hatzoglou (27), pemain spesialis format pendek dengan pengalaman di The Hundred, Big Bash, dan Pakistan Super League, namun ia belum memenuhi syarat seleksi saat ini.
Strategi merekrut pemain diaspora ini bukannya tanpa preseden. Italia, yang lolos ke Piala Dunia T20 perdana mereka tahun ini, tak satu pun pemainnya lahir di Italia. Mereka bahkan membawa lima pemain Australia-Italia, termasuk dua pasang kakak-beradik. Yunani jelas belajar dari keberhasilan tersebut. Namun, para petinggi federasi Yunani menegaskan akan berhati-hati dalam mengintegrasikan pemain diaspora seperti Billy Konstas. Pengembangan bakat lokal—terutama dari Corfu, tempat kriket telah dimainkan selama lebih dari dua abad—tetap menjadi prioritas utama.
Bagi Indonesia, kisah Yunani ini menjadi pengingat bahwa kriket bisa tumbuh subur lewat diaspora dan akar lokal. Meski Indonesia belum memiliki pemain diaspora sebesar Yunani atau Italia, potensi pemain keturunan Belanda atau Tionghoa bisa menjadi pintu masuk. Federasi Kriket Indonesia (Persatuan Cricket Indonesia) dapat belajar dari model Yunani yang menyeimbangkan pemain lokal dan diaspora. Apalagi, Indonesia juga tengah mempersiapkan diri untuk tampil di ajang internasional, termasuk kemungkinan kualifikasi Piala Dunia T20 di masa depan.
“Kami akan mengintegrasikan pemain diaspora secara bertahap. Prioritas kami adalah pemain lokal yang lahir dan besar di Yunani,” ujar seorang sumber internal Federasi Kriket Hellenic kepada BBC Sport.
Jalan Yunani menuju Piala Dunia T20 2028 masih terjal. Mereka harus melewati kualifikasi sub-regional Eropa Grup C yang diikuti 10 tim, dengan Jerman sebagai lawan terkuat. Portugal, yang diperkuat mantan pemain Australia Moises Henriques dan mungkin pembuka Ricardo Vasconcelos dari Northamptonshire, juga menjadi ancaman. Jika Yunani mampu melaju, bukan tidak mungkin pemain seperti Nikitaras atau Hatzoglou akan bergabung kemudian.
Pertanyaan besarnya: akankah perpaduan antara darah Australia dan jiwa Hellas cukup untuk mengukir sejarah? Atau justru ketergantungan pada diaspora akan menggerus akar lokal yang sudah mengakar di Corfu? Finlandia, Agustus mendatang, akan memberikan jawaban pertama.



