Prabowo Lantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN: 'Jadilah Pelayan Rakyat, Bukan Penguasa'
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo melantik 1.204 pamong praja muda IPDN dengan pesan tegas untuk mengedepankan kerendahan hati dan pelayanan publik.
- Kehormatan seorang aparatur negara, menurut Prabowo, diukur dari manfaat bagi rakyat, bukan dari pangkat atau jabatan.
- Pelantikan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat reformasi birokrasi yang berpihak pada kepentingan masyarakat Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto melantik 1.204 pamong praja muda Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Kampus IPDN Sumedang, Rabu, dengan amanat keras: jadilah pelayan rakyat yang rendah hati, jauh dari sikap arogan. Dalam pengarahan yang disiarkan secara luas, Prabowo menegaskan bahwa pamong praja harus hadir di tengah kesulitan masyarakat dan menjadikan kepentingan rakyat sebagai panglima.
Pelantikan Angkatan XXXIII ini terdiri dari 728 pria dan 476 wanita yang akan ditempatkan di instansi pemerintah pusat dan daerah. Presiden secara khusus menyoroti bahwa kehormatan seorang aparatur negara tidak diukur dari pangkat atau jabatan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat. "Saudara adalah pelayan rakyat, bukan penguasa," tegasnya dalam sambutan.
Pesan ini relevan di tengah sorotan publik terhadap perilaku aparatur sipil negara yang kerap dianggap lamban dan tidak responsif. Dengan jumlah pamong praja yang besar, Prabowo berharap lahir generasi baru birokrat yang jujur, disiplin, bersih dari korupsi, dan mengutamakan kepentingan golongan lemah. Ia meminta setiap pengambilan keputusan didasarkan pada kebutuhan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.
Bagi investor dan kalangan profesional, kualitas birokrasi menjadi salah satu faktor penentu iklim usaha. Pesan Prabowo untuk menjauhi arogansi dan mengedepankan pelayanan diharapkan mampu memperbaiki citra pelayanan publik yang kerap dikeluhkan dunia usaha. Pengamat kebijakan publik menilai bahwa transformasi mental aparatur adalah prasyarat utama reformasi birokrasi yang selama ini berjalan setengah hati. Tanpa perubahan sikap, kata mereka, regulasi secanggih apa pun akan sia-sia.
Presiden juga menekankan bahwa pamong praja harus menjadi "tonggak dukungan dan kepemimpinan" bagi masyarakat. Ia meminta mereka selalu dekat dengan rakyat dan membela kelompok miskin serta tidak berdaya. "Bekerjalah dengan hati tanpa kesombongan," pesannya. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana implementasi amanat ini di lapangan? Akankah pamong praja mampu melepaskan mentalitas kekuasaan dan benar-benar menjadi pelayan publik yang profesional? Jawabannya akan menentukan tingkat kepercayaan rakyat terhadap institusi pemerintahan.



