Medali Olimpiade Tertinggal di Kamerun, Atlet Angkat Besi Ini Kini Bela Inggris di Commonwealth Games
Baca dalam 60 detik
- Madias Ngake, lifter Kamerun, baru menerima medali perunggu Olimpiade London 2012 tujuh tahun setelah pertandingan, namun ia belum pernah memegang medali itu karena mengungsi ke Inggris.
- Setelah orientasi seksualnya terbuka saat Olimpiade, Ngake memilih tidak pulang ke Kamerun yang menghukum mati homoseksualitas, dan ia hidup sebagai gelandangan sebelum mendapatkan suaka.
- Kini, setelah 14 tahun dan melalui kerja sebagai cleaning service, ia akan bertanding untuk Inggris di Commonwealth Games Glasgow 2026 sebagai unggulan teratas, dengan target Olimpiade Los Angeles 2028.

Sebuah medali Olimpiade yang sah menjadi miliknya sejak 2019, tetapi Madias Ngake belum pernah menyentuhnya, terbungkus rapi di dalam laci milik orang lain di Yaounde, ibu kota Kamerun. Peraih perunggu London 2012 itu tidak akan kembali ke tanah kelahirannya, karena identitas seksualnya membuatnya terpaksa memilih hidup sebagai pengungsi di Inggris.
Kisah Ngake adalah perpaduan ironi dan ketangguhan. Ia menjadi atlet Olimpiade pertama yang memperoleh medali tanpa pernah merayakannya di depan mata sendiri. Tiga lifter yang finis di atasnya pada kelas 75 kg putri terbukti doping, sehingga Ngake naik ke peringkat ketiga. Namun, medali itu tetap berada di Kamerun karena Ngake tidak pernah kembali sejak 2012.
Ketika itu, orientasi seksualnya terbuka di tengah perhelatan akbar. Homoseksualitas di Kamerun diancam hukuman penjara. "Saya takut, saya harus mengambil keputusan untuk keselamatan saya," kenang Ngake. Ia memilih "menghilang" dari desa atlet dan tidak pernah kembali. Hidupnya berubah total: dari sorotan Olimpiade menjadi gelandangan di jalanan London, tidur di halte bus, dan mandi di keran umum selama dua bulan sebelum mengajukan suaka.
Setelah status pengungsi dikabulkan, Ngake harus memulai dari nol. Butuh waktu hampir lima tahun untuk mendapatkan izin kerja. Pekerjaan pertama adalah sebagai pembersih kantorโprofesi yang dijalaninya selama sembilan tahun. "Saya senang punya kesempatan membangun hidup," katanya. Selama bertahun-tahun, ia tidak menyentuh barbel sama sekali.
Kebangkitan Ngake dimulai ketika Birmingham menjadi tuan rumah Commonwealth Games 2022. Mantan pelatihnya dari Kamerun datang dan mendorongnya untuk kembali berlatih. "Saya angkat barbel lagi dan rasanya alami," ujarnya. Setahun kemudian, ia memenangkan emas di British International, dan pada 2024 ia meraih perak di Kejuaraan Duniaโprestasi tertinggi dalam kariernya. UK Sport memberikan dana, dan Ngake beralih menjadi atlet penuh waktu.
Kini, di usianya yang ke-34, Ngake akan menapaki panggung Commonwealth Games untuk kedua kalinya, kali ini dengan seragam Inggris. Ia menjadi unggulan teratas di divisi 86 kg putri, dan optimistis meraih emas. "Cinta saya pada negara ini. Saya sudah bekerja lama, membayar pajak, dan menghormati hukum. Kalau mau tinggal di sini, harus cinta negara ini," tegasnya.
Namun, ada satu hal yang mengganjal: medali Olimpiade yang tertinggal. "Saya ingin kembali ke Kamerun dan mengambilnya, tapi karena politik di sana, saya tidak mau," ujarnya. Tujuan jangka panjangnya adalah lolos ke Olimpiade Los Angeles 2028. "Ini tantangan besar, tapi bakal sangat spesial. Kali ini medali itu akan saya pegang sendiri," katanya tersenyum.
Kisah Ngake bukan sekadar tentang olahraga. Ia menjadi simbol perjuangan identitas, keberanian memilih jalan baru, dan bukti bahwa medali tidak selalu berarti kemenangan yang sempurna. Pertanyaannya, akankah Commonwealth Games di Glasgow menjadi panggung terakhir sebelum ia mengejar mimpi yang sempat hilang? Atau akankah ada babak baru di Los Angeles? Waktu yang akan menjawab.



