Gempa 6,8 SR di Kumamoto: 13 Tewas, Ratusan Terjebak di Mal, Kekhawatiran Susulan
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 6,8 skala Richter melanda Kumamoto, Jepang, menewaskan 13 orang dan menyebabkan puluhan lainnya terperangkap di pusat perbelanjaan Aeon.
- Guncangan susulan yang terus terjadi memperlambat evakuasi; pasokan listrik dan air bersih terputus di sebagian besar wilayah, sementara warga mulai kehabisan makanan.
- Pemerintah Jepang mengerahkan ribuan personel, namun sejarah gempa beruntun 2016 memicu kekhawatiran akan potensi gempa besar berikutnya.

Gempa bumi berkekuatan 6,8 skala Richter yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Selasa malam telah merenggut 13 nyawa dan menyebabkan puluhan orang masih terjebak di reruntuhan pusat perbelanjaan Aeon. Guncangan hebat yang berlangsung puluhan detik itu tidak hanya meluluhlantakkan bangunan, tetapi juga mengoyak ketenangan warga yang masih trauma dengan gempa kembar mematikan pada 2016.
Wilayah Kumamoto yang berada di atas sistem patahan aktif memang tidak asing dengan gempa. Namun, menurut Hiroko Ogata, pemilik restoran Sendan Shokudo yang telah tinggal di sana seumur hidupnya, guncangan kali ini adalah yang terbesar yang pernah ia rasakan. “Saya pikir saya akan mati,” ujarnya menggambarkan kepanikan saat meja yang ia sembunyikan di bawahnya bergerak liar ke kiri dan kanan. Dampak psikologis serupa dirasakan Yui, pemilik toko kue di dekat mal Aeon, yang mengaku tak mampu membedakan suara gempa dan ledakan, serta masih sulit memproses apa yang terjadi.
Selain korban jiwa, gempa ini menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah bangunan bersejarah. Tembok luar Kastil Kumamoto yang berusia 400 tahun runtuh dalam kepulan debu, sementara aula ibadah Kuil Yatsushiro yang dibangun pada abad ke-19 ambruk total. Lebih dari 45 fasilitas medis dilaporkan rusak, dan puluhan ribu rumah kehilangan aliran listrik serta air bersih. Seorang warga, Michal Posan, mengatakan bahwa toko-toko sudah kehabisan air dan makanan, sehingga ia mulai menyiapkan tas evakuasi di tengah gempa susulan yang terus berdatangan.
Pemerintah Jepang melalui Perdana Menteri Sanae Takaichi langsung mengerahkan 4.600 personel untuk percepatan evakuasi dan pemantauan kerusakan. Namun, ia mengingatkan bahwa upaya penyelamatan adalah “perlombaan melawan waktu”. Sementara itu, Shinji Kiyomoto dari Badan Meteorologi Jepang meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, merujuk pada pola gempa 2016 yang diikuti guncangan besar kedua beberapa hari kemudian. Kenangan pahit itu membuat warga seperti Ogata dan Yui harus berjuang memulihkan usaha mereka di tengah kecemasan yang belum reda.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan serupa. Sebagai sesama negara di Cincin Api Pasifik, sistem peringatan dini dan edukasi kebencanaan perlu terus diperkuat. “Kesiapsiagaan menghadapi gempa susulan dan ketersediaan logistik darurat menjadi kunci,” kata seorang analis kebencanaan yang dihubungi LyndHub. “Jepang memiliki standar bangunan tahan gempa, tetapi tetap saja efek psikologis dan sosial-ekonominya luar biasa. Indonesia harus belajar dari ketangguhan masyarakat Jepang sekaligus kelemahan yang masih tampak.”
Hingga berita ini diturunkan, gempa susulan masih terus terjadi. Ogata berusaha membersihkan restorannya, namun setiap kali ada getaran, ia harus berhenti. “Jika terus begini, akan sangat stres,” keluhnya. Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah Kumamoto akan kembali mengalami gempa besar seperti 2016? Ataukah masyarakat dan pemerintah dapat memulihkan diri lebih cepat?



