Cruz Hewitt, Putra Legenda Tenis, Raih Kemenangan Perdana di ATP
Baca dalam 60 detik
- Cruz Hewitt, putra mantan petenis nomor satu dunia Lleyton Hewitt, mencatat kemenangan perdana di turnamen ATP pada usia 17 tahun.
- Ia mengalahkan Marcos Giron di Washington Open, turnamen yang juga pernah dimenangkan ayahnya pada 2004.
- Kemenangan ini menandai lahirnya generasi baru tenis Australia sekaligus menjadi inspirasi bagi petenis muda di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Cruz Hewitt, remaja 17 tahun putra mantan petenis nomor satu dunia Lleyton Hewitt, memulai debutnya di turnamen utama ATP dengan kemenangan gemilang. Ia mengalahkan Marcos Giron dari Amerika Serikat dengan skor 6-3, 6-4 dalam waktu 74 menit di Washington Open, Selasa (30/7) waktu setempat.
Kemenangan ini bukan sekadar catatan statistik. Bagi Cruz, turnamen yang sama pernah menjadi saksi kejayaan sang ayah pada 2004. Lleyton Hewitt, peraih gelar Wimbledon 2002, tercatat memiliki 30 gelar sepanjang kariernya. Washington Open menjadi salah satu di antaranya.
“Ini momen yang sangat istimewa. Melihat ayah bermain di turnamen ini dan sekarang saya meraih kemenangan perdana, rasanya luar biasa,” ujar Cruz dalam wawancara usai pertandingan. Ia juga meniru selebrasi khas sang ayah—mengangkat lengan kanan membentuk otot biseps—setelah memastikan kemenangan.
“Dulu saya kecil selalu melihatnya melakukan itu. Kini saya bisa melakukannya, dan itu keren karena ayah sangat berperan dalam perjalanan saya hingga titik ini,” tambahnya.
Di babak selanjutnya, Cruz berpotensi menghadapi sesama petenis Australia, Alex de Minaur, yang merupakan unggulan pertama sekaligus juara bertahan. De Minaur sendiri akan bertemu Stefanos Tsitsipas pada Rabu (31/7). Jika pertemuan itu terjadi, akan menjadi duel antar-Australia yang menarik perhatian.
Remaja kelahiran 2007 itu mengaku terinspirasi saat melihat nama ayahnya terpampang di ‘ring of champions’ Washington DC selama kualifikasi. “Sangat surreal. Ini seperti inspirasi. Saya merasa nyaman berada di turnamen ini. Saya sudah bermimpi bermain di sini, dan sekarang bisa berada di gym dan ruang ganti bersama para pemain top, itu keren,” katanya.
Kemenangan Cruz juga menjadi sorotan bagi perkembangan tenis di kawasan Asia Pasifik. Di Indonesia, meskipun belum ada petenis muda yang menembus level ATP seperti Cruz, pencapaiannya bisa menjadi momentum untuk mendorong pembinaan usia dini. “Keberhasilan Cruz menunjukkan bahwa regenerasi tenis bisa terjadi jika ada dukungan sistem dan lingkungan yang tepat,” ujar seorang pengamat tenis nasional.
Indonesia sendiri masih berjuang melahirkan petenis yang bisa bersaing di turnamen Grand Slam atau ATP. Namun, kisah Cruz Hewitt membuktikan bahwa darah tenis bukan jaminan—kerja keras dan mentalitas juara tetap menjadi kunci. Pertanyaan selanjutnya: mampukah Indonesia mencontoh kesuksesan sistem pembinaan Australia yang berhasil melahirkan bakat seperti Cruz?



