Roma Gagal Total: Dua Pinjaman Premier League Zonk, Satu Bintang Justru Datang di Januari
Baca dalam 60 detik
- AS Roma hanya menuai hasil pahit dari dua pemain pinjaman Premier League musim 2025/26, Evan Ferguson dan Kostas Tsimikas, yang nyaris tanpa kontribusi berarti.
- Sebaliknya, Donyell Malen yang direkrut pada Januari 2026 dari Aston Villa justru menjadi mesin gol dengan 14 gol dalam 18 laga Serie A.
- Kegagalan Ferguson dan Tsimikas menjadi pelajaran bagi klub-klub Italia yang kerap mengandalkan pemain pinjaman dari Inggris tanpa jaminan adaptasi.

Kegagalan AS Roma dalam memaksimalkan dua pemain pinjaman dari Premier League musim 2025/26 menjadi catatan kelam tersendiri di tengah keberhasilan mereka menembus zona Liga Champions. Evan Ferguson (Brighton) dan Kostas Tsimikas (Liverpool) yang didatangkan dengan penuh harapan pada bursa musim panas nyaris tidak meninggalkan jejak di Stadio Olimpico, kontras dengan performa gemilang rekrutan Januari, Donyell Malen.
Ferguson, striker muda Irlandia yang sempat digadang-gadang sebagai calon bintang, hanya tampil dalam 12 pertandingan Serie A tanpa satu gol pun. Ia kerap kesulitan beradaptasi dengan tempo dan fisik sepak bola Italia, serta kehilangan tempat di starting XI setelah cedera engkel pada November. Sementara itu, Tsimikas yang diproyeksikan menjadi pelapis kiri, hanya mencatat 8 penampilan dan tidak pernah mampu menggeser posisi Leonardo Spinazzola. Keduanya akan kembali ke klub asal mereka pada akhir musim tanpa opsi pembelian.
Kontras dengan dua pemain tersebut, Donyell Malen yang direkrut dari Aston Villa pada Januari 2026 justru menjadi fenomena. Penyerang Belanda itu mencetak 14 gol dalam 18 pertandingan Serie A, termasuk hattrick ke gawang Lazio dan gol penentu kemenangan atas Juventus. Kehadirannya mengubah wajah Roma yang sempat terpuruk di papan tengah menjadi penantang serius posisi empat besar.
Fenomena ini kembali membuka diskusi tentang risiko pemain pinjaman dari Premier League ke Serie A. Banyak klub Italia, termasuk Roma, kerap tergoda merekrut pemain yang gagal bersaing di Inggris dengan harapan mereka bisa bersinar di Italia. Namun, adaptasi taktis, perbedaan intensitas pertandingan, dan tekanan ekspektasi sering menjadi batu sandungan. Menurut analis sepak bola Italia, Luca Bianchi, kegagalan Ferguson dan Tsimikas bukanlah kasus isolasi. "Banyak pemain Premier League yang kesulitan di Italia karena mereka terbiasa dengan permainan cepat dan fisik, sementara Serie A lebih mengandalkan taktik dan disiplin posisi," ujarnya.
Bagi sepak bola Indonesia, kisah ini menjadi pelajaran berharga. Klub-klub Tanah Air yang kerap mendatangkan pemain asing dari Eropa, termasuk dari Inggris, perlu lebih cermat dalam menilai kesesuaian karakter pemain dengan kompetisi lokal. Bukan hanya nama besar yang menjamin kesuksesan, melainkan adaptasi dan kesiapan mental. Ke depan, Roma harus mengevaluasi ulang strategi rekrutmen mereka, terutama dalam memilih pemain pinjaman yang benar-benar siap bersaing. Apakah mereka akan kembali berburu pemain Premier League musim depan, atau beralih ke pasar lain yang lebih teruji? Hanya waktu yang bisa menjawab.



