Kekacauan AC Milan Makin Parah, Jurnalis Peringatkan 'Yang Terburuk Belum Datang'
Baca dalam 60 detik
- AC Milan terancam gagal registrasi Serie A karena belum mengisi posisi kunci setelah pemecatan massal manajemen.
- Pemilik RedBird, Gerry Cardinale, dianggap tidak paham kultur sepak bola Italia dan hanya mengutamakan bahasa Inggris.
- Jurnalis Franco Ordine memprediksi situasi akan semakin buruk dan menyarankan rekrutan tak terduga seperti Alberto Aquilani.

Kekacauan internal yang melanda AC Milan mencapai titik baru setelah seorang jurnalis yang bertemu langsung dengan pemilik klub, Gerry Cardinale, memperingatkan bahwa situasi terburuk belum terjadi. Klub raksasa Italia itu kini berada dalam tekanan besar karena belum mengisi sejumlah posisi manajerial kunci setelah pemecatan massal, bahkan terancam gagal memenuhi tenggat registrasi Serie A.
RedBird Capital, di bawah kendali Cardinale, mengambil langkah drastis dengan memecat pelatih Massimiliano Allegri, direktur olahraga Igli Tare, CEO Giorgio Furlani, dan direktur teknis Geoffrey Moncada dalam satu waktu. Keputusan ini diambil setelah Milan gagal lolos ke Liga Champions musim depan. Namun, hingga saat ini belum ada satu pun posisi tersebut yang diisi, membuat klub tidak memiliki sosok pengambil keputusan untuk persiapan pramusim.
Menurut laporan Corriere della Sera, situasi ini memaksa Lega Serie A melakukan panggilan peringatan karena Milan belum mengajukan berkas pendaftaran untuk musim baru. Tenggat waktu 16 Juni menjadi krusial; kegagalan memenuhinya dapat berujung pada sanksi berat, termasuk kemungkinan dikeluarkan dari liga. Meskipun biasanya sanksi semacam itu terkait masalah finansial, kelalaian administratif seperti ini tetap berpotensi fatal.
Pekan lalu, Cardinale mengundang lima jurnalis pilihan untuk menjelaskan visinya ke depan. Langkah ini diduga sebagai upaya memperbaiki citra di media. Namun, hasilnya justru sebaliknya. Salah satu undangan, Franco Ordine dari Sport Mediaset, memberikan peringatan keras bagi para penggemar. "Jika kami tidak berbicara dengannya, kami tidak akan tahu apa yang ada di benak pria ini. Sekarang kami tahu, dan saya bisa katakan yang terburuk belum datang," ujar Ordine.
Ordine mengkritik pendekatan Cardinale yang dinilai tidak menghargai kultur sepak bola Italia. "Mereka tidak menginginkan orang Italia karena harus bisa berbahasa Inggris. Mereka juga tidak perlu memahami sepak bola Italia," tegasnya. Dengan minimnya dana akibat absennya pemasukan dari Liga Champions, Ordine menyarankan langkah nekat: merekrut Alberto Aquilani, pelatih yang baru saja membawa Catanzaro ke final play-off promosi Serie B meski kalah tipis dari Monza.
"Mereka tidak menginginkan orang Italia karena harus bisa berbahasa Inggris. Mereka juga tidak perlu memahami sepak bola Italia." β Franco Ordine, jurnalis Sport Mediaset
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah AC Milan ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan klub tidak hanya bergantung pada investasi finansial, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap budaya dan struktur sepak bola lokal. Banyak klub di Indonesia juga menghadapi tantangan serupa ketika pemilik baru datang dengan visi yang tidak selaras dengan tradisi yang ada. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Cardinale dan RedBird keluar dari pusaran kekacauan ini, atau justru akan menjerumuskan Milan ke jurang yang lebih dalam?



