Lazio Bantah Tawaran Rp7,4 Triliun dari Investor AS: Klub Tak Dijual
Baca dalam 60 detik
- Klub Serie A Lazio membantah laporan adanya tawaran akuisisi senilai €450 juta dari investor Amerika melalui JP Morgan.
- Presiden Claudio Lotito disebut menolak tawaran tersebut, namun Lazio secara resmi menyatakan tidak pernah menerima proposal atau komunikasi terkait penjualan.
- Situasi ini memicu ketegangan dengan suporter yang sudah lama memprotes kebijakan Lotito yang dinilai kurang agresif dalam belanja pemain.

Klub Serie A Lazio dengan tegas membantah laporan yang menyebut Presiden Claudio Lotito menolak tawaran akuisisi senilai €450 juta atau sekitar Rp7,4 triliun dari investor Amerika Serikat yang difasilitasi oleh JP Morgan. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Senin malam, Lazio menyebut informasi tersebut tidak berdasar dan tidak memiliki fakta yang jelas.
Laporan yang dimuat harian Il Tempo dan ditulis oleh Luigi Bisignani mengklaim bahwa tawaran pembelian Lazio diajukan melalui JP Morgan oleh calon pembeli yang tidak disebutkan namanya. Namun, Lotito dikabarkan menolak mentah-mentah tawaran tersebut karena ingin tetap memegang kendali klub. Meski demikian, Lazio menegaskan tidak pernah menerima proposal, ekspresi minat, atau komunikasi apa pun dari JP Morgan maupun pihak lain yang bertindak atas nama mereka.
“Perusahaan dengan tegas dan tanpa keraguan membantah kebenaran laporan tersebut,” demikian bunyi pernyataan Lazio. Klub juga meminta Il Tempo untuk segera menerbitkan koreksi dengan prominensi yang setara, serta mengancam akan membawa masalah ini ke otoritas pasar modal Italia, CONSOB, karena dianggap dapat mengganggu stabilitas harga saham dan menciptakan ketidakpastian di kalangan investor.
Kabar ini muncul di tengah ketegangan yang sudah memanas antara manajemen Lazio dan suporter. Sejak awal musim, kelompok ultras memboikot Stadio Olimpico sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Lotito yang dinilai terlalu hemat. Mereka menilai sang presiden lebih mementingkan keseimbangan buku keuangan ketimbang prestasi tim. Musim panas lalu, Lazio bahkan dijatuhi larangan transfer selama enam bulan karena gagal memenuhi persyaratan tes stres keuangan Serie A, sehingga tidak bisa mendatangkan pemain baru tanpa menjual lebih dulu.
Bagi pengamat sepak bola Italia, situasi ini mencerminkan dilema klasik antara stabilitas finansial dan ambisi olahraga. Lotito, yang menyelamatkan Lazio dari ambang kebangkrutan pada 2004, dianggap berhasil menjaga klub tetap hidup namun gagal bersaing di level tertinggi. Sementara itu, minat investor asing terhadap klub Serie A terus meningkat, seperti terlihat dari akuisisi AC Milan dan AS Roma oleh dana asing. Namun, Lazio tampaknya belum siap untuk berganti kepemilikan.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini relevan karena menunjukkan bagaimana tekanan finansial dan suporter dapat memengaruhi arah sebuah klub besar. Di tengah maraknya investasi asing di sepak bola Eropa, Lazio menjadi contoh klub yang memilih bertahan di jalur konservatif. Pertanyaannya, akankah Lotito mampu mempertahankan posisinya jika protes suporter terus berlanjut dan performa tim tidak kunjung membaik?



