Jannik Sinner Tersingkir di Prancis Terbuka: Kekalahan Mengejutkan Juara Bertahan
Baca dalam 60 detik
- Petenis nomor satu dunia Jannik Sinner gagal melaju ke babak ketiga Prancis Terbuka setelah kalah dari Juan Manuel Cerundolo dalam lima set.
- Masalah fisik yang dialami Sinner, termasuk pusing dan mual, menjadi titik balik setelah ia unggul dua set dan 5-1.
- Kekalahan ini membuka peluang bagi petenis lain di turnamen, sekaligus menyoroti kerentanan Sinner terhadap cuaca panas.

Jannik Sinner, petenis nomor satu dunia asal Italia, harus mengubur mimpinya menjuarai Prancis Terbuka setelah tersingkir di babak kedua oleh Juan Manuel Cerundolo, petenis Argentina peringkat 56 dunia, dalam pertandingan lima set yang dramatis di Paris, Kamis (30/5). Kekalahan ini menjadi kejutan terbesar turnamen, mengingat Sinner diunggulkan sebagai favorit juara setelah absennya Carlos Alcaraz dan menurunnya performa Novak Djokovic.
Sinner memulai pertandingan dengan dominan, merebut dua set pertama dengan mudah 6-3, 6-2, dan unggul 5-1 di set ketiga. Namun, momentum berbalik drastis saat ia mulai mengalami masalah fisik. Petenis berusia 24 tahun itu tampak kelelahan, kehilangan 11 poin beruntun, dan meminta waktu medis di tengah set. Ia mengeluh pusing dan mual, seperti ingin muntah, sebelum akhirnya kembali ke lapangan. Setelah itu, permainannya merosot tajam, dan Cerundolo memanfaatkan situasi dengan merebut tiga set berikutnya 7-5, 6-1, 6-1.
Kondisi cuaca di Paris yang mencapai 34 derajat Celsius menjadi faktor signifikan. Sinner sebelumnya pernah mengalami kram parah di Australian Open saat suhu mendekati 40 derajat Celsius, dan ia mengakui keberuntungannya saat aturan panas diterapkan di Melbourne. Di Roland Garros, ia dijadwalkan bermain pada sesi siang yang terik, sebuah keputusan langka dari penyelenggara karena biasanya petenis unggulan pertama baru bermain di lapangan utama pada babak semifinal. Terakhir kali hal serupa terjadi adalah 10 tahun lalu saat Novak Djokovic menghadapi Tomas Berdych.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Sinner yang tengah dalam performa terbaiknya. Ia memenangi lima turnamen Masters 1000 berturut-turut dalam tiga bulan terakhir di atas permukaan keras dan tanah liat, dan dianggap sebagai pewaris takhta setelah era Nadal, Djokovic, dan Federer. Dengan absennya Alcaraz dan menurunnya Djokovic, banyak pengamat memperkirakan Sinner akan dengan mudah merebut gelar Grand Slam keempatnya. Namun, masalah fisik kembali menghantuinya, mengingatkan pada kerentanannya di kondisi ekstrem.
Bagi Indonesia, kekalahan Sinner menjadi pelajaran tentang pentingnya manajemen kondisi fisik di tengah cuaca panas, terutama bagi atlet yang berlaga di turnamen internasional. Fenomena heat stress tidak hanya dialami petenis, tetapi juga atlet lain seperti pelari maraton atau pesepeda. Federasi Tenis Indonesia (PELTI) dapat mengambil hikmah untuk meningkatkan program aklimatisasi dan penanganan medis bagi petenis nasional yang berlaga di luar negeri.
Dengan tersingkirnya Sinner, persaingan di Prancis Terbuka semakin terbuka. Siapa yang akan memanfaatkan peluang ini? Akankah Novak Djokovic menambah koleksi Grand Slam-nya, atau justru petenis muda seperti Holger Rune atau Stefanos Tsitsipas yang akan tampil sebagai kuda hitam? Turnamen masih panjang, dan kejutan demi kejutan mungkin masih akan terjadi.



