Krisis Petenis Tunggal Inggris: Cedera Beruntun dan Minimnya Lapangan Tanah Liat
Baca dalam 60 detik
- Untuk ketiga Grand Slam beruntun, tak ada petenis tunggal Inggris yang lolos ke pekan kedua, dengan hanya satu pria di 100 besar dunia.
- Cedera melanda sejumlah pemain kunci seperti Jack Draper dan Jacob Fearnley, memperparah minimnya kedalaman skuad tunggal putra.
- Menjelang Wimbledon, optimisme muncul dari potensi pemain muda dan dominasi ganda putra, namun tantangan struktural seperti kurangnya lapangan tanah liat masih menghantui.

Tidak ada satu pun petenis tunggal Inggris yang berhasil menembus pekan kedua Grand Slam untuk ketiga kalinya berturut-turut—sebuah catatan yang memicu pertanyaan serius tentang masa depan tenis Negeri Ratu Elizabeth, terutama dengan Wimbledon yang tinggal menghitung minggu.
Di Prancis Terbuka 2025, hanya Katie Boulter dan Francesca Jones yang mencapai babak kedua nomor tunggal. Setelah turnamen, peringkat dunia akan menempatkan hanya satu pria Inggris di dalam 100 besar, yaitu Cameron Norrie yang mundur cedera pada laga pertamanya. Di sisi putri, posisinya sedikit lebih baik dengan empat wakil, namun tetap jauh dari ekspektasi sebagai salah satu negara terkaya di dunia tenis.
Mantan petenis nomor satu Inggris, Annabel Croft, menyebut situasi ini sebagai “blip” atau gangguan sementara. “Tenis adalah olahraga yang brutal. Mempertahankan level di puncak sangat sulit. Saya yakin para pemain kami akan bangkit kembali,” ujarnya. Namun, rentetan cedera yang menimpa pemain kunci membuat optimisme itu diuji.
Jack Draper, yang mencapai semifinal AS Terbuka 2024 dan sempat menjadi momok bagi Carlos Alcaraz, nyaris tidak bermain sejak Wimbledon tahun lalu akibat cedera lutut. Ia absen di Roland Garros dan akan terlempar dari 100 besar. Jacob Fearnley, yang sempat meroket ke 50 besar, kini jatuh ke luar 140 besar setelah cedera tulang rusuk. Di pihak putri, Sonay Kartal harus melewatkan musim rumput karena cedera punggung, sementara Emma Raducanu diganggu infeksi virus.
Direktur Performa Lawn Tennis Association (LTA), Michael Bourne, membela kondisi ini dengan menyoroti tren positif sebelum cedera. “Pemain tenis bermain lebih banyak pertandingan dibanding olahraga lain. Anda tidak bisa melakukan substitusi—begitu di lapangan, Anda harus bertahan hingga tiga atau lima jam,” katanya. LTA juga menunjuk pada 23 pemain Inggris yang berada di peringkat 101–300 sebagai indikasi kedalaman skuad.
Namun, kritik tidak bisa diabaikan. Inggris, dengan sumber daya melimpah, dinilai kurang berhasil dalam pengembangan pemain tunggal. Perdebatan tentang definisi sukses—apakah juara Grand Slam seperti Andy Murray dan Raducanu, jumlah pemain di 100 besar, atau partisipasi massal—terus bergulir. CEO LTA Scott Lloyd pada 2024 menegaskan bahwa semua target itu dikejar, namun hasil Grand Slam tetap menjadi barometer utama.
Salah satu faktor struktural yang menghambat adalah minimnya lapangan tanah liat. Dari sekitar 23.000 lapangan tenis di Inggris, hanya 1.300 (5%) yang berupa tanah liat. Sebagai perbandingan, Spanyol—negeri yang mendominasi di permukaan ini—memiliki 60% lapangan tanah liat. Francesca Jones, yang besar di Barcelona, menekankan pentingnya pengembangan junior di atas tanah liat. “Ini membantu pemahaman dan konstruksi permainan,” ujarnya.
Menjelang Wimbledon, optimisme mulai merebak. Petenis Inggris biasanya lebih kuat di rumput, permukaan yang lebih akrab sejak kecil. Pemberian wildcard pada pemain muda seperti Oliver Tarvet—yang tahun lalu bertemu Alcaraz di babak kedua Wimbledon—menjadi batu loncatan berharga. Jacob Fearnley menambahkan, “Semua pemain yang kalah di Paris langsung beralih ke rumput keesokan harinya. Saya pikir kondisi tenis Inggris menjelang musim rumput cukup baik.”
Masa depan juga menyimpan harapan lewat remaja seperti Mika Stojsavljevic, Hannah Klugman, dan Mimi Xu. Namun, tenis tunggal tetaplah panggung utama yang menarik perhatian publik. Akankah Inggris mampu mengubah “blip” ini menjadi kebangkitan, atau justru krisis berkepanjangan? Jawabannya mungkin akan terlihat di Wimbledon mendatang.



