Fonseca Tumbangkan Djokovic di Roland Garros: Kematangan Sang Prodigi
Baca dalam 60 detik
- Joao Fonseca menjadi remaja pertama yang mengalahkan Novak Djokovic di Grand Slam, menang comeback dari dua set tertinggal.
- Kemenangan ini membuka peluang juara baru di Prancis Terbuka 2026 setelah Sinner tersingkir dan Alcaraz absen.
- Petenis Brasil berusia 19 tahun itu menunjukkan kedewasaan taktik dan pukulan forehand mematikan sepanjang laga.

Joao Fonseca resmi mengukir sejarah di Roland Garros, Jumat (30/5) malam waktu Paris, setelah menundukkan Novak Djokovic dalam pertarungan lima set yang berlangsung 4 jam 53 menit. Remaja Brasil berusia 19 tahun itu menjadi lawan termuda yang mampu menjungkalkan juara 24 Grand Slam tersebut di ajang mayor, sekaligus membuka babak baru dalam persaingan tenis putra.
Bermain di Court Philippe-Chatrier, Fonseca sempat tertinggal dua set (4-6, 4-6) sebelum bangkit dan merebut tiga set berikutnya 6-3, 7-5, 7-5. Ia menjadi pemain pertama sejak Philipp Kohlschreiber pada 2009 yang mengeliminasi Djokovic sebelum perempat final di Paris. Kemenangan ini juga memastikan akan ada juara Grand Slam baru di Prancis Terbuka tahun depan, menyusul tersingkirnya Jannik Sinner di putaran kedua dan absennya Carlos Alcaraz karena cedera.
Fonseca, yang kini menempati peringkat 30 dunia, mengaku tidak menyangka bisa memenangi pertandingan tersebut. "Saya hanya bermain dan menikmati berada di lapangan. Djokovic tidak pernah melakukan kesalahan, dan kami masih menganggapnya seperti berusia 20 tahun. Di akhir pertandingan, dia lebih bugar dari saya. Ketika hari mulai gelap, saya merasa lebih lambat," ujarnya usai laga. Ia juga menyempatkan diri mengucapkan selamat ulang tahun kepada ibunya yang duduk di kotak penonton.
Statistik menunjukkan dominasi Fonseca pada momen-momen krusial. Ia melepaskan 22 winner di set kelima, naik drastis dari hanya 13 winner di dua set pertama. Meskipun Djokovic unggul dalam jumlah winner (70 berbanding 68) dan melakukan lebih sedikit unforced error (39 berbanding 47), petenis Serbia itu kalah dalam pengambilan keputusan di titik-titik genting. Puncaknya, Fonseca menghujani tiga ace berturut-turut di game ke-12 set penentuan—satu untuk menyelamatkan break point dan dua untuk menutup pertandingan.
Mantan petenis top dunia, Annabel Croft, menilai penampilan Fonseca kali ini menjadi penegasan bahwa ia layak menyandang status sebagai bakat terbesar generasinya. "Joao Fonseca benar-benar telah mengumumkan dirinya sekarang. Dia bisa bangga telah memenuhi ekspektasi, karena banyak yang meragukan konsistensinya setelah gemilang di awal karier," ujar Croft di BBC Radio 5 Live. Sementara itu, Jo Konta, mantan semifinalis Prancis Terbuka, menyebut pukulan forehand Fonseca membuatnya merinding. "Saya belum pernah melihat forehand dipukul sekeras itu secara konsisten. Djokovic sampai tertawa, seolah bertanya-tanya bagaimana pemain ini bisa terus melakukannya," tambah Konta.
Bagi pecinta tenis Indonesia, kemenangan Fonseca menjadi pengingat bahwa regenerasi di puncak tenis putra tengah berlangsung cepat. Setelah era dominasi Djokovic, Nadal, dan Federer, kini muncul nama-nama seperti Carlos Alcaraz, Jannik Sinner, dan Joao Fonseca. Turnamen-turnamen di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kerap menjadi ajang pemanasan bagi para pemain muda ini. Ke depannya, publik tenis Tanah Air bisa berharap menyaksikan langsung aksi Fonseca di turnamen-turnamen Asia, mengingat popularitasnya yang meledak di kalangan penggemar global.
Pertanyaan besar kini mengemuka: akankah Fonseca mampu mempertahankan performa ini hingga akhir turnamen? Atau justru Djokovic yang mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran akibat faktor usia? Satu hal yang pasti, tenis putra memasuki era baru yang semakin tidak terduga.



