Djokovic Tersingkir di Prancis Terbuka: Fonseca, Sang Remaja Brasil, Menjadi Pemburu Raksasa
Baca dalam 60 detik
- Novak Djokovic, 39 tahun, tersingkir di babak ketiga Prancis Terbuka setelah dikalahkan remaja Brasil Joao Fonseca dalam lima set dramatis.
- Kekalahan ini membuat Djokovic kehilangan peluang emas meraih gelar Grand Slam ke-25, setelah unggulan utama Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz sudah lebih dulu tersingkir.
- Fonseca, yang baru berusia 19 tahun, mencuri perhatian dengan permainan agresif dan ketenangan di momen krusial, membuka jalan bagi juara Grand Slam baru.

Novak Djokovic harus mengakui keunggulan remaja Brasil Joao Fonseca dalam pertarungan lima set yang berlangsung hampir lima jam di Philippe Chatrier, Kamis (5/6) malam. Kekalahan ini tidak hanya menghentikan langkah sang juara bertahan di Prancis Terbuka, tetapi juga menandai titik balik dalam persaingan tenis putra: untuk pertama kalinya sejak 2004, tidak ada satu pun mantan juara Grand Slam yang tersisa di babak ketiga turnamen ini.
Djokovic, yang berusia 39 tahun, sempat unggul dua set dan memiliki break point di set keempat. Namun, tenaganya habis saat Fonseca meningkatkan intensitas permainan. "Saya kehabisan bensin," aku Djokovic usai pertandingan. "Level saya sebenarnya bagus, tapi dia lebih baik." Ini adalah pengakuan langka dari petenis Serbia yang selama ini dikenal tak terkalahkan dalam format best-of-five.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Djokovic, yang melihat peluang emas meraih gelar ke-25 sirna. Unggulan teratas Jannik Sinner telah tersingkir sehari sebelumnya, sementara Carlos Alcaraz absen karena cedera. Dengan hanya Alexander Zverev dan Casper Ruud yang tersisa di paruhnya, Djokovic seharusnya bisa melaju mulus ke final. Namun, Fonseca—yang lahir pada 2006, tahun yang sama saat Djokovic pertama kali mencapai perempat final Prancis Terbuka—menjadi batu sandungan.
Bagi Fonseca, kemenangan ini adalah puncak dari perjalanan panjang yang dimulai sejak ia masih junior. Ia telah lama dianggap sebagai bakat istimewa, dan Djokovic sendiri sudah memuji potensinya sejak Australia Terbuka tahun lalu. Di lapangan, Fonseca menunjukkan kombinasi forehand mematikan, dropshot cerdik, dan servis kuat yang membuat Djokovic tak berdaya. "Kami semua melihat hari ini mengapa ada begitu banyak hype tentang dia," kata Djokovic.
Kemenangan Fonseca disambut euforia oleh ribuan suporter Brasil yang memadati tribun. Mereka datang dengan kaus sepak bola kuning-hijau dan bendera nasional, berharap melihat penerus Gustavo Kuerten—petenis Brasil terakhir yang memenangi Grand Slam pada 2001. Meski baru mencapai babak 16 besar untuk pertama kalinya, Fonseca telah menjadi simbol kebangkitan tenis Brasil.
Bagi Djokovic, kekalahan ini mungkin menjadi sinyal paling jelas bahwa waktu mulai berjalan melawannya. Ia telah mencapai setidaknya semifinal di lima Grand Slam terakhir, tetapi fisiknya mulai menyerah. "Saya tidak merasa baik sama sekali di lapangan pada set-set berikutnya," akunya. Meski demikian, ia masih memiliki peluang di Wimbledon, di mana ia adalah juara tujuh kali. Namun, pertanyaan tentang pensiun semakin sulit dihindari.
Di sisi lain, Fonseca membuka peluang bagi juara Grand Slam baru. Dengan Sinner dan Djokovic tersingkir, serta Alcaraz cedera, persaingan semakin terbuka. Zverev dan Ruud mungkin menjadi favorit, tetapi Fonseca telah menunjukkan bahwa ia tidak gentar. "Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan," kata Fonseca. "Tapi saya belum selesai."
Bagi penggemar tenis Indonesia, kemenangan Fonseca menawarkan cerita segar di tengah dominasi para pemain top. Tenis Asia Tenggara mungkin belum memiliki wakil di level ini, tetapi kebangkitan pemain muda seperti Fonseca menunjukkan bahwa tenis global semakin kompetitif. Pertanyaannya: bisakah Fonseca mengikuti jejak Kuerten dan membawa pulang trofi? Atau akankah Zverev atau Ruud memanfaatkan peluang yang ada? Prancis Terbuka tahun ini masih menyimpan banyak kejutan.



