Trenggiling Terancam Punah Ditemukan Bersembunyi di Mesin Cuci, Singapura Gencarkan Konservasi
Baca dalam 60 detik
- Seekor trenggiling Sunda yang kritis terancam punah berhasil dievakuasi tanpa cedera dari dalam mesin cuci di Bukit Batok, Singapura, setelah warga melapor ke ACRES.
- Peristiwa ini menjadi yang pertama bagi ACRES dalam menangani trenggiling di perangkat rumah tangga, menyoroti meningkatnya interaksi satwa liar dengan permukiman akibat hilangnya habitat.
- Kasus ini memperkuat urgensi konservasi trenggiling di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang menjadi pusat perdagangan ilegal sisik dan daging trenggiling global.

Seekor trenggiling Sunda (Manis javanica) berstatus kritis terancam punah ditemukan bersembunyi di dalam mesin cuci rumah warga di kawasan Bukit Batok, Singapura, Senin (25/5) pagi. Satwa bersisik itu berhasil dievakuasi tanpa cedera setelah tim penyelamat dari Animal Concerns Research and Education Society (ACRES) melakukan upaya pembujukan selama 20 hingga 40 menit.
Kepala Eksekutif ACRES, Kalaivanan Balakrishnan, mengungkapkan bahwa trenggiling tersebut mengalami stres pascaevaluasi, namun tidak menderita luka fisik. Satwa itu rencananya akan dilepaskan kembali ke alam liar. “Trenggiling Sunda, seperti hewan liar lainnya seperti biawak, ular, dan musang, dikenal bisa menyelinap ke celah-celah kecil untuk bersembunyi atau melarikan diri,” ujarnya kepada The Straits Times.
Ini adalah pertama kalinya ACRES, yang telah beroperasi selama 25 tahun, mengevakuasi trenggiling dari mesin cuci. Sebelumnya, organisasi tersebut pernah menyelamatkan berbagai hewan dari perangkat serupa, tetapi spesies trenggiling Sunda baru pertama kali ditemukan dalam situasi demikian. Balakrishnan menduga trenggiling tersebut berasal dari cagar alam yang berdekatan dengan lokasi penemuan, namun ia enggan memberikan detail lebih lanjut demi keamanan satwa.
Fenomena trenggiling masuk ke permukiman bukanlah hal baru di Singapura. Studi yang diprakarsai oleh Nature Society Singapore pada 2024 menunjukkan adanya tren peningkatan trenggiling yang keluar dari hutan antara 1996 dan 2021. Sebagian besar trenggiling yang ditemukan mati atau terluka tercatat di wilayah tengah dan barat Singapura, dekat dengan kawasan hutan lindung dan tangkapan air. Penyebab utama kematian adalah tabrakan kendaraan dan hilangnya habitat akibat pembangunan.
Bagi Indonesia, berita ini relevan mengingat Indonesia merupakan salah satu negara asal perdagangan ilegal trenggiling. Pada 2023, dua pria di Singapura ditangkap karena menjual trenggiling yang sedang hamil melalui aplikasi Telegram. Mereka terancam denda hingga SGD 50.000 atau hukuman penjara maksimal dua tahun. Indonesia sendiri memiliki populasi trenggiling Sunda di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa, namun perburuan liar dan perdagangan ilegal terus mengancam kelestariannya.
ACRES dan otoritas Singapura mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati atau menangani trenggiling jika menemukannya. Satwa liar ini memiliki cakar kuat yang dapat digunakan untuk membela diri. Jika melihat trenggiling dalam kondisi tertekan, warga dapat menghubungi ACRES di 9783-7782 (pukul 07.00–01.00) atau National Parks Board di 1800-476-1600. Pengemudi di dekat kawasan alami diminta mematuhi batas kecepatan dan mengurangi kecepatan, karena trenggiling yang bergerak lambat sering menjadi korban tabrakan.
Ke depannya, upaya konservasi trenggiling di Asia Tenggara membutuhkan kolaborasi lintas negara, terutama dalam memutus rantai perdagangan ilegal dan melindungi habitat alami. Pertanyaannya, apakah penegakan hukum yang lebih ketat dan kesadaran publik mampu menekan laju kepunahan spesies yang telah bertahan selama jutaan tahun ini?



