15 Pemain Premier League di Skuad Belanda: Dominasi Liga Inggris di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Ronald Koeman memanggil 15 pemain dari Premier League untuk memperkuat Belanda di Piala Dunia 2026, menandai dominasi terbesar liga asing dalam sejarah Oranje.
- Jurrien Timber tetap dipilih meski cedera sejak Maret, menunjukkan kepercayaan tinggi pelatih pada pemain Arsenal tersebut.
- Dominasi Premier League ini mencerminkan tren globalisasi sepak bola yang juga berdampak pada strategi timnas Indonesia dalam merekrut pemain diaspora.

Pelatih tim nasional Belanda, Ronald Koeman, mengumumkan skuad berisi 26 pemain untuk Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Dari jumlah tersebut, 15 pemain berasal dari klub-klub Premier League Inggris, menjadikan liga tersebut sebagai pemasok terbesar pemain Oranje dalam satu turnamen besar. Keputusan ini menegaskan pengaruh kuat kompetisi Inggris terhadap sepak bola Belanda, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang ketergantungan pada pemain yang bermain di luar negeri.
Di lini belakang, enam dari tujuh pemain bertahan yang dipilih bermain di Premier League, termasuk Virgil van Dijk (Liverpool), Nathan Ake (Manchester City), dan Micky van de Ven (Tottenham Hotspur). Satu-satunya pengecualian adalah Denzel Dumfries dari Inter Milan. Yang menarik, Jurrien Timber (Arsenal) tetap dipanggil meskipun belum bermain sejak Maret karena cedera pergelangan kaki. Koeman tampaknya mengandalkan pengalaman Timber di level internasional, meskipun risikonya cukup besar mengingat minimnya menit bermain pemain tersebut.
Di lini tengah, Ryan Gravenberch (Liverpool) akan menjalani debut Piala Dunia pertamanya, bergabung dengan Tijjani Reijnders (Manchester City) dan Mats Wieffer (Brighton). Sementara itu, lini depan diperkuat Cody Gakpo (Liverpool), Justin Kluivert (Bournemouth), dan Crysencio Summerville (West Ham United). Kehadiran pemain-pemain ini menunjukkan bahwa Premier League tidak hanya mendominasi secara kuantitas, tetapi juga kualitas di setiap sektor.
Dominasi Premier League ini tidak lepas dari daya tarik finansial dan kompetitif liga Inggris yang mampu menarik talenta Belanda sejak usia muda. Namun, fenomena ini juga memicu perdebatan di Belanda: apakah terlalu bergantung pada pemain yang jarang bermain di liga domestik? Kooman tampaknya tidak ambil pusing. "Kami memilih pemain terbaik, di mana pun mereka bermain," ujarnya dalam konferensi pers. Meski begitu, absennya Jeremie Frimpong (Bayer Leverkusen) menjadi kejutan, mengingat performa impresifnya di Bundesliga musim ini.
Bagi Indonesia, komposisi skuad Belanda ini relevan karena menunjukkan bagaimana diaspora pemain dapat memperkuat tim nasional. Belanda, seperti Indonesia, memiliki banyak pemain keturunan yang tersebar di liga-liga Eropa. Namun, berbeda dengan Indonesia yang masih berjuang memaksimalkan potensi diaspora, Belanda telah berhasil mengintegrasikan pemain-pemain tersebut ke dalam sistem tim nasional. Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya membangun jalur komunikasi dan pemantauan yang efektif terhadap pemain keturunan di luar negeri.
Ke depan, Belanda akan menghadapi persaingan ketat di Grup A bersama tuan rumah Amerika Serikat, serta lawan-lawan tangguh lainnya. Dengan skuad yang sarat pengalaman Premier League, Oranje diharapkan bisa melaju jauh. Namun, cedera Timber dan minimnya waktu bermain beberapa pemain bisa menjadi batu sandungan. Akankah dominasi Premier League ini berbuah manis di Piala Dunia, atau justru menjadi bumerang karena kurangnya kekompakan? Jawabannya akan terlihat di lapangan hijau Amerika Utara musim panas ini.



