Korea Selatan Targetkan Kapal Selam Nuklir Pertama pada 2035, Tantangan Masih Menggunung
Baca dalam 60 detik
- Seoul mempercepat pengadaan kapal selam bertenaga nuklir sebagai aset strategis pertahanan masa depan.
- Negosiasi dengan AS yang tertunda, isu nonproliferasi, dan tekanan anggaran menjadi hambatan utama realisasi proyek.
- Keberhasilan program ini berpotensi mengubah peta keamanan Asia dan memicu persaingan militer regional.

Pemerintah Korea Selatan menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kapal selam bertenaga nuklir pertama pada pertengahan 2030-an, meskipun sejumlah hambatan besar masih membayangi, mulai dari keterlambatan perundingan dengan Amerika Serikat, kekhawatiran nonproliferasi, hingga tekanan fiskal. Presiden Lee pada Selasa lalu mendorong akselerasi pengadaan kapal selam tersebut, yang disebutnya sebagai aset strategis inti bagi pertahanan negara.
Dalam pertemuan dengan pejabat pertahanan, Lee menekankan perlunya percepatan adopsi kecerdasan buatan dan teknologi drone, bersamaan dengan pengenalan kapal selam nuklir. Ia menggambarkan kapal selam yang direncanakan itu sebagai "simbol tekad kami untuk bertanggung jawab atas perdamaian dan keamanan di Semenanjung Korea". Langkah ini merupakan bagian dari upaya Seoul memperkuat postur pertahanan di tengah ketegangan regional yang meningkat.
Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back melaporkan kepada Presiden bahwa rencana pemerintah menargetkan peluncuran kapal selam nuklir pertama pada pertengahan 2030-an. Proyek ini telah disepakati dalam kerangka kerja sama dengan AS pada KTT tahun lalu antara Lee dan Presiden Donald Trump. Namun, implementasinya tertunda karena negosiasi teknis yang rumit, termasuk masalah transfer teknologi nuklir dan pengawasan nonproliferasi.
Dalam waktu dekat, Allison Hooker, Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Politik, dijadwalkan memimpin delegasi lintas lembaga ke Seoul untuk membentuk kelompok kerja bilateral guna merealisasikan kesepakatan tersebut. Analis menilai bahwa selain hambatan diplomatik, tekanan anggaran juga menjadi kendala serius. Program pertahanan Korea Selatan yang ambisius harus bersaing dengan prioritas belanja lainnya di tengah perlambatan ekonomi.
Keberhasilan Korea Selatan membangun kapal selam nuklir dapat mengubah lanskap keamanan Asia, memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata di kawasan. Negara-negara tetangga seperti China dan Korea Utara diperkirakan akan merespons dengan peningkatan kapabilitas militer mereka sendiri. Meskipun demikian, Seoul menegaskan bahwa program ini murni untuk pertahanan dan tidak ditujukan untuk mengancam pihak mana pun.
Ke depan, kemampuan Korea Selatan untuk menavigasi kompleksitas teknis, diplomatik, dan fiskal akan menentukan apakah target 2035 dapat tercapai. Jika berhasil, kapal selam nuklir pertama akan menjadi tonggak sejarah bagi militer Korea Selatan, sekaligus menguji ketahanan aliansi dengan AS dalam isu nonproliferasi.



