Pulang dari Prancis, Prabowo Bawa Agenda Strategis Bilateral
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto kembali ke Jakarta setelah kunjungan kenegaraan di Prancis yang berlangsung selama beberapa hari.
- Kunjungan ini menghasilkan sejumlah kesepakatan bilateral yang berpotensi memperkuat kerja sama ekonomi dan pertahanan Indonesia-Prancis.
- Hasil pertemuan dengan Presiden Macron diyakini akan berdampak positif pada investasi Prancis di Indonesia dan posisi geopolitik RI.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7279720/original/047984000_1780065450-IMG-20260529-WA0182.jpg)
Presiden Prabowo Subianto mendarat di Jakarta pada Jumat (29/5/2026) setelah menyelesaikan rangkaian kunjungan kenegaraan di Paris, Prancis. Keberangkatan dari Bandara Orly, Paris, dilepas dengan upacara militer kehormatan yang melibatkan 21 personel pasukan jajar kehormatan, menandakan penghormatan tinggi dari pemerintah Prancis kepada kepala negara Indonesia.
Dalam kunjungan yang berlangsung selama beberapa hari itu, Prabowo menjalani sejumlah agenda bilateral yang krusial. Pertemuan puncak dengan Presiden Emmanuel Macron di Istana Élysée menjadi sorotan utama, di mana kedua pemimpin membahas penguatan kerja sama di bidang pertahanan, ekonomi, dan energi terbarukan. Prancis, sebagai salah satu mitra strategis Indonesia di Eropa, memiliki kepentingan besar dalam stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Selain pertemuan bilateral, Prabowo juga menghadiri jamuan kenegaraan di Salle des Fêtes, Istana Élysée, yang dihadiri oleh kalangan pejabat tinggi dan pelaku bisnis Prancis. Momen ini dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi investasi di Indonesia, terutama di sektor infrastruktur dan teknologi. Di sela-sela agenda resmi, Presiden juga melaksanakan Salat Iduladha bersama diaspora Indonesia di Paris, menunjukkan perhatian terhadap warga negara Indonesia di luar negeri.
Kunjungan ini juga menjadi ajang untuk memperkuat posisi Indonesia di forum internasional. Prancis, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, diharapkan mendukung kepentingan Indonesia dalam isu Palestina dan reformasi tata kelola global. Menurut analis hubungan internasional dari Universitas Indonesia, kunjungan ini menunjukkan bahwa Prabowo ingin membangun kemitraan yang seimbang antara negara maju dan negara berkembang.
Bagi Indonesia, hasil konkret dari kunjungan ini antara lain penandatanganan nota kesepahaman di bidang pertahanan dan ekonomi digital. Kerja sama pertahanan mencakup pembelian sistem radar dan pesawat patroli maritim buatan Prancis, yang akan memperkuat pengawasan wilayah perairan Indonesia. Sementara itu, di bidang ekonomi digital, kedua negara sepakat mengembangkan ekosistem startup dan kecerdasan buatan.
Pelepasan kepulangan Presiden di Bandara Orly dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi Prancis, termasuk Menteri Urusan Frankofoni Eléonore Caroit dan Gubernur Militer Paris Jenderal Loïc Mizon. Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, serta Duta Besar RI untuk Prancis, Mohamad Oemar, turut hadir memberikan penghormatan terakhir. Menteri Luar Negeri Sugiono dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mendampingi Presiden dalam penerbangan pulang.
Ke depan, implementasi kesepakatan yang diraih akan menjadi ujian bagi hubungan bilateral kedua negara. Apakah kerja sama ini akan berlanjut pada proyek-proyek nyata yang memberikan manfaat langsung bagi rakyat Indonesia, atau hanya sebatas seremoni diplomatik? Publik menanti langkah konkret pemerintah dalam merealisasikan komitmen yang telah ditandatangani.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7592436/original/084167000_1780375083-WhatsApp_Image_2026-06-02_at_11.35.40.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7513600/original/077726100_1780285828-Megawati_Gandeng_Prabowo.jpeg)