Andes Virus Bukan Ancaman Pandemi, Ini Bedanya dengan COVID-19
Baca dalam 60 detik
- Wabah Andes virus pada kapal pesiar MV Hondius memicu kekhawatiran publik, namun para ahli menegaskan virus ini tidak memiliki potensi penularan luas seperti SARS-CoV-2.
- Andes virus hanya menular melalui kontak erat dan dalam kondisi tertentu, berbeda dengan COVID-19 yang menyebar efisien melalui udara bahkan dari individu tanpa gejala.
- Meskipun fatalitasnya tinggi hingga 50%, kasus hantavirus tetap langka dan tidak akan memicu pandemi global karena karakteristik transmisinya yang terbatas.

Wabah virus Andes yang muncul di kapal pesiar MV Hondius kembali mengingatkan publik pada awal pandemi COVID-19. Namun, para ahli epidemiologi menegaskan bahwa virus yang dibawa hewan pengerat ini tidak akan menjadi pandemi berikutnya. Hingga 11 Mei lalu, Otoritas Kesehatan Eropa melaporkan sembilan kasus terkait kapal tersebut, termasuk tujuh kasus terkonfirmasi dan dua probable, dengan tiga kematian. Lima warga Australia dan satu warga Selandia Baru sedang dipulangkan untuk menjalani karantina di Australia.
Andes virus termasuk dalam kelompok hantavirus yang umumnya ditularkan melalui urine, feses, atau air liur tikus. Berbeda dengan kebanyakan hantavirus, Andes virus dapat menular antarmanusia, tetapi hanya dalam kondisi sangat spesifik: kontak erat di ruangan padat dan ventilasi buruk, terutama saat penderita sudah bergejala. Hal ini sangat kontras dengan SARS-CoV-2 yang menyebar efisien melalui udara bahkan sebelum gejala muncul. Setiap orang terinfeksi COVID-19 awal diperkirakan menularkan ke dua orang atau lebih, sementara penularan Andes virus membutuhkan "badai sempurna" seperti yang terjadi di MV Hondius.
Gejala awal infeksi Andes virus mirip penyakit lain: demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Pada kasus berat, dapat berkembang menjadi hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang mengancam jiwa. Tidak seperti COVID-19 yang merusak jaringan paru langsung, HPS disebabkan respons imun yang terlambat sehingga cairan bocor ke paru-paru. Masa inkubasi Andes virus juga lebih panjang, hingga 42 hari, sehingga karantina yang diterapkan Australia selama tiga minggu merupakan langkah hati-hati yang beralasan.
Hingga saat ini, belum ada obat antivirus spesifik atau vaksin untuk Andes virus. Perawatan berfokus pada pemantauan ketat, dukungan pernapasan, dan penanganan komplikasi jantung-ginjal. Namun, respons ilmiah cepat patut diapresiasi: laboratorium Swiss berhasil mengurutkan kode genetik lengkap virus dari satu pasien dan mempublikasikannya dalam hitungan hari. Data ini membantu tim kesehatan masyarakat di seluruh dunia mengonfirmasi kasus dan melacak rantai penularan.
Kecenderungan untuk melihat setiap wabah sebagai "COVID baru" memang wajar, tetapi dalam kasus Andes virus, hal itu menyesatkan. Virus ini berbahaya bagi individu yang terinfeksi, namun tidak memiliki karakteristik yang diperlukan untuk menjadi pandemi. Penularannya lambat, membutuhkan kontak erat, dan paling efisien saat penderita sudah sakit. Mengendalikan wabah Andes virus penting, tetapi ancamannya tidak sebanding dengan COVID-19.



