Mariska Hargitay: Membongkar Trauma Masa Lalu, Menemukan Kebebasan Sejati
Baca dalam 60 detik
- Aktris Law & Order: SVU, Mariska Hargitay, mengaku mengalami perubahan mendasar pada sistem sarafnya setelah menyelesaikan dokumenter tentang ibunya, Jayne Mansfield.
- Proyek dokumenter My Mom, Jayne menjadi katalis penyembuhan PTSD yang dideritanya sejak kecelakaan mobil tahun 1967 yang merenggut nyawa sang ibu.
- Keberanian menghadapi masa lalu membuka jalan bagi debut Broadway-nya dalam Every Brilliant Thing, sebuah langkah karier yang dinilainya sebagai kelanjutan alami dari proses penyembuhan.

Mariska Hargitay, bintang serial Law & Order: Special Victims Unit, mengaku mengalami transformasi mendalam setelah menyelesaikan dokumenter tentang ibunya, Jayne Mansfield. Aktris berusia 62 tahun itu mengatakan bahwa proses pembuatan film My Mom, Jayne tidak hanya membantunya memahami tragedi masa lalu, tetapi juga secara fisik mengubah sistem sarafnya—sebuah pengakuan yang jarang diungkapkan oleh publik figur.
Dalam wawancara dengan People, Hargitay mengungkapkan bahwa selama puluhan tahun ia hidup dengan trauma akibat kecelakaan mobil tahun 1967 yang menewaskan ibunya. Saat itu, ia berada di dalam kendaraan yang sama. "Saya merasa terjebak di dalam mobil, dan saya mengalami banyak PTSD serta sistem saraf yang sangat tegang dan ketakutan, selalu menunggu hal buruk terjadi," ujarnya. Namun, setelah menyelesaikan dokumenter yang juga menelusuri misteri ayah kandungnya, ia merasa "sangat lega dan bebas".
Proyek dokumenter yang dirilis tahun 2025 itu tidak hanya mengupas kematian tragis Jayne Mansfield, tetapi juga menjadi sarana katarsis bagi Hargitay. "Satu-satunya cara untuk sembuh adalah dengan berada dalam komunitas dan di masa kini, tidak hidup di masa lalu. Membuat film ini sangat katartik. Ini memberi saya banyak ruang internal kembali," jelasnya. Ia yakin bahwa proses kreatif tersebut telah mengubah sistem sarafnya secara fundamental.
Keberanian menghadapi masa lalu ini membawanya pada langkah besar berikutnya: debut Broadway dalam pertunjukan tunggal Every Brilliant Thing. Hargitay mengakui bahwa tanpa menutup pintu pada masa lalunya yang menyakitkan, ia tidak akan memiliki keberanian untuk menjalani peran tersebut. "Ini terasa seperti perkembangan alami. Saya pini tidak ada yang kebetulan. Sungguh luar biasa bahwa ibu saya memulai karier di Broadway saat berusia 22 tahun, dan saya belum pernah pentas di sana sebelumnya," katanya.
Every Brilliant Thing, yang sebelumnya dibintangi Daniel Radcliffe, berkisah tentang seorang anak yang bereaksi terhadap percobaan bunuh diri ibunya dengan membuat daftar hal-hal yang membuat hidup layak dijalani. Penonton diajak berpartisipasi dengan meneriakkan daftar tersebut. Hargitay akan memulai debutnya pada 26 Mei 2026 di Hudson Theatre, New York, dengan pertunjukan diperpanjang hingga 28 Juni. Dalam pernyataannya, ia menyebut naskah itu sebagai "karya yang sangat cemerlang" yang menegaskan kehidupan dengan penuh semangat.
Bagi publik Indonesia, kisah Hargitay menyoroti pentingnya kesehatan mental dan penyembuhan trauma—isu yang kerap menjadi stigma di masyarakat. Prosesnya menunjukkan bahwa menghadapi masa lalu bukanlah kelemahan, melainkan langkah berani menuju pemulihan. Di tengah meningkatnya kesadaran akan PTSD dan terapi trauma di Indonesia, perjalanan Hargitay bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang bergulat dengan luka batin.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah semakin banyak figur publik yang berani membuka diri tentang perjuangan mental mereka, seperti yang dilakukan Hargitay? Ataukah trauma masa lalu akan tetap menjadi tabu yang sulit diungkap?



