Ledakan Tambang Shanxi Tewaskan 82 Orang, Publik Soroti Pelanggaran Keselamatan
Baca dalam 60 detik
- Ledakan di tambang batu bara Liushenyu, Shanxi, menewaskan 82 orang dan melukai 120 lainnya, menjadi bencana tambang terburuk China dalam 15 tahun terakhir.
- Otoritas menemukan pelanggaran serius oleh operator Tongzhou Group, termasuk jumlah pekerja tak tercatat dan ketidaksesuaian peta tambang yang menghambat penyelamatan.
- Kemarahan publik mengarah ke perusahaan, bukan pemerintah, mencerminkan perubahan dalam pengawasan daring yang biasanya membungkam kritik terhadap otoritas.

Ledakan dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, pada Jumat lalu menewaskan sedikitnya 82 orang dan melukai lebih dari 120 pekerja. Peristiwa ini menjadi bencana pertambangan paling mematikan di China dalam lebih dari satu dekade terakhir, memicu kemarahan publik dan sorotan tajam terhadap praktik keselamatan di sektor tersebut.
Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa penyebab ledakan masih dalam penyelidikan, namun temuan awal menunjukkan bahwa Tongzhou Group, perusahaan swasta pengelola tambang, melakukan pelanggaran ilegal yang serius. Dalam konferensi pers, pemerintah berjanji akan melakukan investigasi menyeluruh dan menghukum pihak yang bertanggung jawab. Meski demikian, Tongzhou Group belum mengeluarkan pernyataan resmi, dan manajemen perusahaan dilaporkan telah dikenakan "tindakan pengendalian" oleh aparat.
Media pemerintah melaporkan sejumlah kejanggalan di lokasi tambang. Sejumlah pekerja tidak membawa alat pelacak wajib saat masuk ke dalam tambang, dan peta yang diserahkan perusahaan kepada otoritas tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan, sehingga mempersulit upaya penyelamatan. Lebih mengejutkan lagi, jumlah pekerja yang berada di dalam tambang saat ledakan terjadi dua kali lipat dari angka resmi yang dilaporkan perusahaan. Hal ini memicu pertanyaan di media sosial: "Mengapa tiba-tiba muncul lebih dari 100 pekerja tak tercatat? Apakah untuk melampaui target produksi, menekan biaya, atau menyembunyikan jumlah korban?" tulis seorang pengguna Weibo.
Kemarahan publik kali ini sebagian besar diarahkan kepada Tongzhou Group, bukan kepada pemerintah. Ini berbeda dengan bencana sebelumnya di mana kritik terhadap otoritas sering kali dihapus dari internet. Pengamat menilai bahwa pengawasan ketat pemerintah terhadap industri tambang dalam beberapa tahun terakhir telah menekan angka kecelakaan, namun insiden ini menunjukkan bahwa celah masih ada. Hu Xijin, mantan pemimpin redaksi Global Times, menulis di Weibo bahwa "keamanan tambang batu bara China yang terus membaik tidak boleh terganggu, apalagi terbalik. Masih ada banyak ruang untuk perbaikan, dan menutup celah ini adalah hal yang sangat mendesak."
Hingga berita ini diturunkan, upaya pencarian masih berlangsung dengan melibatkan ratusan personel untuk menemukan setidaknya dua orang yang dilaporkan hilang. Keluarga korban menunggu di luar tambang dengan cemas. Seorang pria yang kehilangan kontak dengan saudaranya sejak ledakan mengaku tidak berani memberi tahu orang tuanya. "Mereka bilang dua orang hilang, tapi siapa yang tahu apakah itu akurat? Kami benar-benar tidak tahu," ujarnya kepada AFP.
Bencana ini menjadi pengingat pahit bahwa meskipun China telah berupaya keras meningkatkan standar keselamatan tambang, praktik ilegal dan pengawasan yang longgar masih dapat menimbulkan tragedi. Ke depan, diperlukan penegakan regulasi yang lebih ketat dan transparansi yang lebih besar untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa.



