Peringatan PBB: Bumi Akan Terus Pecahkan Rekor Suhu dalam Lima Tahun ke Depan
Baca dalam 60 detik
- Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan 75% kemungkinan suhu global rata-rata 2026-2030 melampaui ambang batas 1,5°C dari era pra-industri.
- Pemanasan Arktik yang tiga kali lebih cepat dari rata-rata global dan kekeringan ekstrem di Amazon menjadi ancaman serius bagi ekosistem dan ketahanan pangan.
- Fenomena El Niño yang berkepanjangan hingga 2028 diprediksi akan memicu rekor suhu baru pada 2027, mempercepat laju perubahan iklim.

Dalam lima tahun ke depan, Bumi hampir pasti akan berulang kali menembus ambang batas perubahan iklim yang disepakati sebagai aman, sekaligus memecahkan rekor tahun terpanas, demikian proyeksi terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa. Laporan dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Badan Meteorologi Inggris (Met Office) yang dirilis pekan ini memberikan gambaran suram tentang masa depan planet yang semakin tidak terkendali akibat emisi gas rumah kaca.
Proyeksi tersebut menyebutkan bahwa terdapat kemungkinan sebesar 75% suhu rata-rata global antara 2026 dan 2030 akan melampaui 1,5 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri. Ambang batas ini merupakan batas aman yang disepakati dalam Perjanjian Paris 2015, meskipun diukur dalam rata-rata 20 tahun. Lebih mengkhawatirkan lagi, ada kemungkinan 91% bahwa setidaknya satu dari lima tahun ke depan akan menembus angka 1,5°C, dan 86% kemungkinan salah satunya akan memecahkan rekor tahun terpanas yang dicetak pada 2024.
Menurut Melissa Seabrook, ilmuwan iklim Met Office yang menjadi salah satu penulis laporan, setiap kenaikan sepersepuluh derajat memiliki dampak yang semakin parah. "Ini bukan seperti tepi jurang yang kita jatuhi, tetapi setiap 0,1°C membawa konsekuensi yang lebih berat," ujarnya. Ia mencontohkan gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada Mei lalu sebagai pertanda awal.
Friederike Otto, ilmuwan iklim dari Imperial College London yang tidak terlibat dalam laporan, memperingatkan bahwa satu tahun penuh di atas 1,5°C akan memicu rangkaian cuaca ekstrem yang belum pernah dialami sebelumnya. "Ini berarti banyak orang akan kehilangan nyawa, guncangan harga pangan, dan kebakaran hutan yang lebih hebat," katanya melalui surel. Otto menekankan bahwa infrastruktur kota dan sistem pertanian saat ini tidak dirancang untuk menghadapi kondisi tersebut.
Laporan WMO juga menyoroti pemanasan yang semakin cepat di Arktik, yang naik 3,5 kali lipat dibandingkan rata-rata global. Fenomena ini disebabkan oleh mencairnya es dan salju yang sebelumnya memantulkan radiasi matahari, menciptakan siklus umpan balik yang memperparah pemanasan. Sementara itu, kondisi yang lebih panas dan kering di Amazon diperkirakan akan meningkatkan risiko kebakaran hutan, mengancam fungsi hutan hujan tropis sebagai penyerap karbon utama dunia. Di sisi lain, kawasan Sahel di Afrika justru diprediksi mengalami curah hujan di atas normal, berpotensi memicu banjir.
Bagi Indonesia, proyeksi ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara kepulauan tropis, Indonesia rentan terhadap kenaikan suhu laut yang memicu pemutihan karang dan mengancam perikanan. Pola cuaca yang tidak menentu akibat perubahan iklim global juga dapat mengganggu musim tanam dan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan kekeringan. Kepala Iklim PBB Simon Stiell menegaskan bahwa upaya pengendalian iklim saat ini masih kalah cepat dibanding laju pemanasan. "Setiap negara sudah membayar harga mahal dari krisis iklim ini, baik melalui panas ekstrem, badai besar, banjir, kebakaran hutan, maupun kekeringan yang mempengaruhi pasokan pangan dan harga," ujarnya.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah dunia mampu mempercepat transisi energi dan memenuhi komitmen pengurangan emisi sebelum titik kritis terlampaui. Dengan proyeksi yang menunjukkan percepatan pemanasan, para ilmuwan mendebat apakah perubahan iklim sudah memasuki fase akselerasi. Jika ya, maka upaya adaptasi dan mitigasi harus ditingkatkan secara drastis untuk menghindari dampak yang lebih dahsyat di masa depan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7186959/original/042884900_1779983531-IMG_0027.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7253855/original/001124500_1780039906-3.jpg)
