Di puncak piramida kekuasaan sepak bola dunia, kewarganegaraan tampaknya lebih dari sekadar identitas; itu adalah alat diplomasi. Laporan eksklusif dari The Independent pada 18 Februari 2026 mengungkapkan bahwa Presiden FIFA, Gianni Infantino, telah memperoleh paspor Lebanon. Ini menambahkan kewarganegaraan ketiga ke dalam portofolionya, setelah Swiss (tempat kelahirannya) dan Italia. Langkah ini memicu perdebatan global mengenai motif di balik keputusan tersebut, mengingat status Lebanon yang sedang bergulat dengan krisis ekonomi dan politik yang parah.
Manuver Geopolitik atau Sentimen Pribadi?
Secara legal, Infantino berhak atas kewarganegaraan tersebut melalui pernikahannya dengan Leena Al Ashqar, yang berasal dari Lebanon. Namun, analis politik sepak bola melihat ini sebagai langkah strategis dalam peta kekuatan FIFA. Dengan memegang paspor negara Asia Barat, Infantino memperkuat ikatannya dengan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), salah satu blok pemilih terbesar di FIFA. Ini bisa dilihat sebagai upaya untuk mengonsolidasikan dukungan dari dunia Arab dan Asia menjelang siklus pemilihan presiden FIFA berikutnya.
Namun, dari segi optik publik (PR optics), langkah ini menuai kritik tajam. Lebanon saat ini berada dalam kondisi "negara gagal" secara ekonomi, dengan mata uang yang hancur dan layanan publik yang lumpuh. Fakta bahwa seorang elit global yang sangat kaya seperti Infantino "masuk" menjadi warga negara—sementara jutaan warga Lebanon berjuang untuk keluar atau bertahan hidup—menciptakan kontras yang ironis. Kritikus mempertanyakan apakah ini bentuk solidaritas tulus atau sekadar kemudahan birokrasi bagi seorang VIP global.
Implikasi bagi Tata Kelola FIFA
Kewarganegaraan ganda (atau rangkap tiga) Infantino menyoroti semakin kaburnya batas antara sepak bola dan politik negara. Fokus pengawas etika olahraga kini tertuju pada potensi konflik kepentingan. Apakah paspor ini akan memengaruhi keputusan FIFA terkait alokasi dana pengembangan (FIFA Forward) di kawasan tersebut? Bagi Infantino, ini adalah bukti lain dari citranya sebagai "warga dunia", namun bagi skeptis, ini adalah manuver politik tingkat tinggi di papan catur sepak bola global.




