Houthi Tembaki Arab Saudi, Bab el-Mandeb Kian Terancam
Baca dalam 60 detik
- Kelompok Houthi yang didukung Iran meluncurkan rudal dan drone ke fasilitas Aramco di Yanbu dan Jizan sebagai balasan atas serangan udara Saudi di Hodeida.
- Eskalasi ini mengancam jalur pelayaran strategis Bab el-Mandeb, yang dilalui 12% perdagangan global, dan berpotensi mengerek harga minyak serta mengganggu rantai pasok Indonesia.
- Konflik meluas dengan keterlibatan AS, Iran, dan Ukraina; korban jiwa telah mencapai lebih dari 7.000 orang di Yaman, Iran, Lebanon, dan Israel.

Serangan balasan Houthi terhadap Arab Saudi pada Sabtu (26/7) menandai babak baru konflik di kawasan Laut Merah yang langsung berdampak pada keamanan jalur pelayaran internasional. Kelompok pemberontak Yaman itu menembakkan rudal dan drone ke instalasi minyak milik Aramco di Yanbu dan Jizan sebagai respons atas serangan udara Saudi di kota pelabuhan Hodeida, yang dinilai mengancam posisi mereka di kawasan strategis itu.
Juru bicara militer Houthi, Brigjen Yahya Saree, dalam pernyataan video mengklaim serangan itu menyasar fasilitas vital milik perusahaan minyak terbesar dunia. Peringatan dini berbunyi berkali-kali di kedua kota, namun otoritas Saudi enggan berkomentar lebih lanjut. Langkah ini mempertegas ancaman Houthi untuk menutup Selat Bab el-Mandeb bagi kapal-kapal yang terkait dengan Saudi, sebagai balasan atas blokade terhadap Yaman dan serangan terhadap bandara internasional Sanaa.
Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, merupakan salah satu titik tersempit bagi lalu lintas kapal global. Sekitar 12% perdagangan dunia—termasuk seperempat angkutan kontainer—melewati jalur ini. Bagi Indonesia, stabilitas jalur ini krusial karena sebagian besar impor minyak mentah dan komoditas lainnya dari Timur Tengah masih bergantung pada rute tersebut. Gangguan di Bab el-Mandeb bisa memicu lonjakan biaya angkut dan harga energi di dalam negeri.
Ketegangan di Laut Merah tak terlepas dari rivalitas AS-Iran yang kian memanas. Amerika menuding Iran menyerang tiga kapal di Selat Hormuz dan membalas dengan puluhan serangan ke target di Iran. Teheran kemudian membalas dengan menembaki negara-negara Teluk yang beraliansi dengan AS. Dalam perkembangan terpisah, Iran mengecam serangan Ukraina terhadap kapal dagangnya di Laut Kaspia, yang disebut menewaskan satu orang. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy justru mengklaim serangan itu mengenai kapal yang digunakan untuk mengangkut kargo militer Iran.
Di tengah kebuntuan diplomasi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyerukan dialog untuk menyelesaikan konflik Yaman tanpa konfrontasi militer. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Donald Trump di Washington pekan depan, menandai upaya mencari titik temu di tengah perang yang telah menewaskan lebih dari 3.400 orang di Iran, 4.000 di Lebanon, serta puluhan warga sipil dan personel militer di Israel dan Yaman. Bagi Indonesia, eskalasi ini mengingatkan pada kerentanan rantai pasok energi dan perlunya diversifikasi sumber impor minyak, di tengah ketidakpastian keamanan maritim global.



