FIFA Pede 64 Tim di Piala Dunia: Dampak Ekonomi dan Kekuasaan Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino membuka peluang Piala Dunia 64 tim, berpotensi mengubah peta bisnis sepak bola global.
- Ekspansi ini bisa mengurangi nilai komersial kualifikasi dan memperkuat dominasi FIFA atas konfederasi regional.
- Indonesia sebagai pasar besar berpotensi terdampak melalui perubahan kalender dan peluang investasi infrastruktur.

Gianni Infantino, Presiden FIFA, secara terbuka mengakui kemungkinan Piala Dunia diperluas menjadi 64 tim, sebuah langkah yang tidak hanya menambah jumlah peserta tetapi juga berpotensi mengubah secara fundamental struktur ekonomi sepak bola dunia. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan televisi Swiss saat turnamen 48 tim edisi 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko baru saja usai.
Infantino beralasan bahwa memberi kesempatan lebih banyak negara, terutama yang kecil, untuk berpartisipasi akan mendorong mereka terus berkembang. “Jika Anda tidak memberi negara-negara kecil kesempatan tampil di Piala Dunia, mereka akan kehilangan motivasi untuk maju,” ujarnya. Namun, di balik idealisme itu, implikasi finansial dan kekuasaan menjadi sorotan utama.
Secara logistik, turnamen 64 tim jelas membutuhkan lebih banyak stadion, hotel, transportasi, dan waktu penyelenggaraan. Jika format grup empat tim dengan babak gugur 32 tim dipertahankan, jumlah pertandingan akan melonjak menjadi 128—hampir dua kali lipat dari 64 pertandingan era 32 tim. Durasi turnamen pun bisa bertambah satu minggu dari 5,5 pekan saat ini.
Namun, dampak paling signifikan justru berada di ranah ekonomi dan politik. Dengan memperlonggar jalur kualifikasi, nilai komersial babak kualifikasi—yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama konfederasi regional seperti UEFA, AFC, dan lainnya—berpotensi tergerus. Jika penyiar televisi mengurangi nilai tayang kualifikasi, konfederasi akan semakin bergantung pada distribusi dana FIFA. Akibatnya, kekuasaan finansial dan pengambilan keputusan akan semakin terpusat di tangan badan sepak bola dunia tersebut.
Penolakan sudah datang dari dua konfederasi terkuat. Presiden UEFA Aleksander Ceferin menyebut ekspansi itu tidak baik untuk Piala Dunia maupun kualifikasi. Senada, Presiden AFC Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa mempertanyakan sampai kapan perdebatan ini akan berlanjut. FIFA sendiri belum memberikan tanggapan resmi.
Bagi Indonesia, wacana ini memiliki resonansi tersendiri. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar dan ambisi menggelar turnamen internasional, perubahan format Piala Dunia bisa berdampak pada kalender kompetisi domestik. Liga 1 Indonesia yang mengikuti kalender tahunan (Februari-Oktober) bisa terganggu jika Piala Dunia musim dingin kembali digelar, seperti yang terjadi pada 2022. Selain itu, peluang menjadi tuan rumah bersama di masa depan mungkin terbuka lebih lebar jika jumlah peserta membengkak, meski persyaratan infrastruktur menjadi semakin berat.
Beban finansial juga menjadi perhatian. Federasi sekaya Perancis pun harus merogoh kocek besar untuk sekadar tampil. Presiden Federasi Sepak Bola Perancis Philippe Diallo bahkan meminta FIFA meningkatkan dukungan dana bagi peserta. Jika 48 tim saja sudah memberatkan, 64 tim jelas akan memperparah beban federasi negara berkembang, termasuk potensi Indonesia jika suatu saat lolos.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap kesejahteraan pemain kian mengemuka. Padatnya jadwal internasional dan domestik membuat pemain elite berisiko kelelahan. Pertandingan tambahan di Piala Dunia 64 tim hanya akan memperparah situasi. Isu keseimbangan kompetisi, biaya tiket bagi penggemar, dan risiko hilangnya eksklusivitas turnamen juga ikut mencuat.
Nasib wacana ini kemungkinan besar akan ditentukan oleh evaluasi terhadap Piala Dunia 48 tim pertama. Jika turnamen tersebut dinilai sukses secara komersial dan operasional, tekanan untuk memperluas lagi bisa menguat. Namun, jika muncul masalah signifikan—baik dari segi logistik, keuangan, maupun kualitas permainan—gagasan 64 tim mungkin akan kembali ke meja diskusi tanpa kepastian. Pertanyaan besarnya: sejauh mana FIFA bersedia mempertaruhkan marwah turnamen demi ambisi ekspansi yang tak pernah puas?



