Campur Tangan Trump di Piala Dunia: Norwegia Siap Gugat FIFA ke Komite Etik
Baca dalam 60 detik
- Federasi Sepak Bola Norwegia mempertimbangkan pengaduan formal ke komite etik FIFA terkait keputusan membatalkan skorsing otomatis Folarin Balogun setelah intervensi Presiden AS Donald Trump.
- Keputusan kontroversial itu memicu kecaman dari Belgia dan UEFA, yang menilai langkah FIFA telah melanggar prinsip fair play dan independensi peradilan olahraga.
- Kasus ini berpotensi memperlemah kredibilitas FIFA di mata publik dan memicu investigasi lebih lanjut dari Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) tengah mengkaji langkah untuk mengajukan pengaduan resmi ke komite etik FIFA atas keputusan badan sepak bola dunia itu yang membatalkan skorsing otomatis satu pertandingan terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, selama Piala Dunia. Keputusan yang dipicu intervensi langsung Presiden AS Donald Trump itu dinilai telah mencederai prinsip keadilan dan independensi peradilan olahraga.
Balogun, yang menjadi top skor tim AS di Piala Dunia dengan tiga gol, seharusnya absen pada laga babak 16 besar melawan Belgia setelah menerima kartu merah langsung saat AS mengalahkan Bosnia-Herzegovina 2-0. Namun, setelah Trump menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino, larangan bermain itu ditangguhkan selama 12 bulan tanpa penjelasan rinci, hanya merujuk pada aturan yang memungkinkan penundaan hukuman. Balogun pun tampil sejak menit awal dalam laga yang berakhir dengan kekalahan AS 1-4 dari Belgia.
Presiden NFF Lise Klaveness, dalam pernyataan kepada BBC, mengungkapkan bahwa federasinya bereaksi dengan "keprihatinan yang kuat" dan akan memutuskan langkah selanjutnya dalam rapat dewan mendatang. Norwegia sebelumnya telah mengajukan keluhan terkait pemberian Penghargaan Perdamaian pertama FIFA kepada Trump. "Adalah tepat untuk memasukkan kasus Balogun dalam penyelidikan ke komite etik FIFA yang kami ajukan sebelum Piala Dunia mengenai penghargaan perdamaian yang kontroversial itu," ujar Klaveness.
Keputusan FIFA ini memicu gelombang protes dari berbagai pihak. Federasi Sepak Bola Kerajaan Belgia menyatakan "sangat prihatin" dan akan berjuang membela prinsip etika, persaingan sehat, dan kepentingan sepak bola secara keseluruhan. Namun, FIFA menolak permintaan Belgia untuk penjelasan dengan menyatakan gugatan tersebut "tidak dapat diterima". UEFA, induk sepak bola Eropa, bahkan menyebut langkah FIFA telah "melewati garis merah" dan merupakan "keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan."
Trump, dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 6 Juli, mengakui telah meminta FIFA meninjau keputusan kartu merah tersebut. "Saya melihat permainannya, dan itu bukan pelanggaran. Saya meminta peninjauan karena saya tidak menganggapnya sebagai pelanggaran. Saya tidak menyuruhnya melakukan apa pun, saya tidak bisa menyuruhnya," kata Trump. Sementara itu, Infantino bersikeras bahwa badan peradilan FIFA beroperasi secara independen.
Kasus ini juga berpotensi menjerat Infantino di hadapan Komite Olimpiade Internasional (IOC), di mana ia menjadi anggota sejak 2020. Piagam Olimpiade bagian kedua menyatakan bahwa anggota IOC tidak boleh menerima mandat atau instruksi dari pemerintah yang dapat mengganggu kebebasan bertindak dan memberikan suara. IOC enggan berkomentar secara terbuka, namun menyatakan sanksi hanya akan diumumkan jika komite etik memutuskan demikian.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya independensi peradilan olahraga di tengah tekanan politik. Di tengah euforia sepak bola nasional yang tengah naik daun, keputusan kontroversial FIFA ini bisa menjadi preseden buruk jika intervensi serupa terjadi di masa depan. Pertanyaan besarnya: apakah FIFA mampu menjaga marwahnya sebagai penjaga fair play, atau justru akan semakin terjerumus dalam pusaran kepentingan politik global?



