Pemerintah Thailand resmi memulai program kontroversial namun krusial untuk mengendalikan populasi gajah liar dengan menggunakan vaksin kontrasepsi (KB). Langkah yang dilaporkan oleh Associated Press ini menandai pertama kalinya metode tersebut diterapkan pada gajah di alam liar, khususnya di provinsi timur Trat. Inisiatif ini diambil sebagai respons darurat terhadap meningkatnya insiden konflik antara manusia dan gajah yang telah merenggut puluhan nyawa dan merusak lahan pertanian warga akibat perebutan ruang hidup yang semakin sempit.
Vaksinasi di Tengah Hutan
Tim dokter hewan dari Departemen Taman Nasional Thailand telah mulai menyuntikkan vaksin buatan Amerika Serikat kepada tiga gajah betina liar pada akhir Januari 2026. Vaksin ini bekerja dengan cara mencegah pembuahan sel telur tanpa menghentikan siklus ovulasi alami gajah, dengan efektivitas yang diklaim dapat bertahan hingga tujuh tahun. Sebelumnya, metode ini telah melalui uji coba selama dua tahun pada tujuh gajah jinak dengan hasil yang menjanjikan.
Fokus utama program ini adalah wilayah timur Thailand, di mana tingkat kelahiran gajah liar tercatat melonjak hingga 8% per tahun—jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 3%. Ledakan populasi ini memaksa kawanan gajah keluar dari hutan lindung untuk mencari makan, sering kali masuk ke perkebunan durian dan karet milik warga. Data resmi mencatat bahwa sepanjang tahun lalu saja, gajah liar telah menyebabkan 30 kematian manusia dan melukai 29 orang lainnya, serta merusak ribuan hektar tanaman.
Solusi Jangka Panjang atau Risiko Baru?
Meskipun disambut baik oleh petani yang terdampak, langkah ini juga memicu perdebatan di kalangan konservasionis. Beberapa pihak khawatir intervensi hormonal ini dapat mengganggu struktur sosial kawanan gajah yang kompleks. Namun, pemerintah Thailand menegaskan bahwa tanpa pengendalian populasi, konflik akan terus memburuk dan berpotensi merugikan kedua belah pihak. Program ini akan diawasi ketat selama tujuh tahun ke depan untuk mengevaluasi dampak jangka panjangnya terhadap kesejahteraan satwa ikonik nasional tersebut.




