Trump Cabut Sebagian Tarif Kanada, Tapi Ganti dengan Produk Lain Jelang Pilkada Maine
Baca dalam 60 detik
- Gedung Putih menghapus tarif Section 338 untuk sejumlah barang Kanada, namun menambahkan komoditas lain ke daftar bea masuk 50%.
- Senator Susan Collins mengklaim kemenangan atas pengecualian untuk industri Maine, tetapi lawannya menilai manuver itu sekadar tambal sulam.
- Perubahan berlaku 30 Oktober, empat hari sebelum pemilihan senator Maine yang menentukan keseimbangan Senat AS.

Pemerintahan Presiden Donald Trump memutuskan mencabut tarif impor terhadap sejumlah produk Kanada, tetapi secara bersamaan memasukkan barang-barang lain ke dalam daftar bea masuk tinggi. Langkah ini diumumkan Gedung Putih pada Jumat (23/10/2026) waktu setempat, hanya berselang kurang dari satu jam setelah Senator Susan Collins dari Partai Republik mengklaim berhasil mendesak pengecualian bagi industri di negara bagiannya, Maine.
Collins, yang sedang bertarung ketat untuk kursi Senat pada pemilihan 3 November mendatang, menyebut pengecualian itu mencakup sembilan kategori produk yang dinilainya krusial bagi pertanian Maine. Namun pengumuman timnya tidak menyinggung bahwa daftar tarif justru diperluas. Menurut lembar fakta Gedung Putih, produk yang dicabut dari daftar bea masuk 50% akan digantikan oleh “katup tertentu, karpet, produk limbah, dan lainnya”.
Perubahan tersebut dijadwalkan berlaku pada 30 Oktober, atau empat hari sebelum pemungutan suara. Bagi warga Maine, isu tarif bukan sekadar perdebatan ekonomi makro. Negara bagian itu mengimpor lebih banyak barang dari Kanada dibanding dari negara mana pun, sehingga kebijakan proteksionis Washington langsung menekan biaya operasional petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil di perbatasan.
Juru bicara Gedung Putih, Matthew Middleton, membantah bahwa manuver ini bersifat politis. Ia menyatakan bahwa proklamasi tarif terbaru merupakan bagian dari upaya mengatasi “perlakuan diskriminatif Kanada terhadap perdagangan Amerika” dan bentuk pembalasan atas retaliasi yang menyasar ekspor AS. “Presiden bertindak untuk melindungi petani, produsen, dan pekerja Amerika,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa Washington akan terus menggunakan segala instrumen untuk memulihkan timbal balik dalam hubungan dagang bilateral.
Di sisi lain, lawan politik Collins, Troy Jackson, seorang penebang kayu generasi kelima dari Partai Demokrat, menilai klaim rekannya itu menyesatkan. Menurut Jackson, Collins justru ikut meloloskan orang-orang yang merancang kebijakan tarif dan kini berusaha mengambil kredit atas keringanan yang diberikan. “Perang dagang Trump membuat hidup warga Maine lebih sulit dan mahal. Susan Collins memungkinkan kekacauan ini, lalu ingin dipuji karena membawa segelas air untuk memadamkan api,” kata Jackson dalam pernyataannya.
Dalam debat televisi pertama pada 6 Oktober, Collins sempat menyebut keberhasilannya mengeluarkan garam jalan dari daftar tarif sebagai bukti kerja nyatanya. Jackson merespons dengan sindiran tajam: “Bagaimana dengan produk lainnya? Kita tidak bisa makan garam jalan.” Pernyataan itu menyoroti kegelisahan publik terhadap kebijakan perdagangan yang dianggap tidak konsisten dan lebih banyak menimbulkan ketidakpastian.
“Saya akan terus bekerja langsung dengan pejabat pemerintahan untuk mencari keringanan tarif tambahan dan mendorong kesepakatan dagang yang lebih luas dengan Kanada, tetangga, sekutu, dan mitra dagang terbesar kami,” kata Collins dalam siaran persnya.
Collins mengaku telah meminta keringanan kepada Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick, dengan menekankan beban biaya tambahan yang ditanggung pelaku usaha dan keluarga di Maine. Namun permintaan itu tidak serta-merta mengubah arah kebijakan tarif secara menyeluruh. Sejumlah pengamat menilai manuver Gedung Putih sebagai upaya mempertahankan tekanan dagang terhadap Kanada sambil memberi angin segar bagi konstituen di negara bagian yang menjadi medan pertempuran politik.
Bagi Indonesia, dinamika tarif AS-Kanada ini layak dicermati. Ketika Washington terus memperluas penggunaan instrumen tarif berbasis undang-undang lama seperti Section 338, risiko perang dagang dapat merembet ke mitra dagang lain, termasuk negara-negara Asia Tenggara yang mengekspor produk manufaktur dan komoditas ke pasar Amerika. Ketidakpastian aturan juga dapat mengganggu rantai pasok global dan mendorong pelaku usaha mencari pasar alternatif.
Yang paling menjadi sorotan adalah timing kebijakan. Pencabutan dan penambahan tarif yang berlaku empat hari sebelum pemilihan senator Maine menunjukkan bahwa keputusan dagang tidak pernah benar-benar lepas dari kalkulasi politik elektoral. Pertanyaannya, apakah langkah ini akan benar-benar meringankan beban industri lokal, atau justru memperpanjang ketidakpastian bagi pelaku usaha yang bergantung pada perdagangan lintas batas?



