Bitcoin Bertahan di $81.700, Altcoin Bangkit saat Pasar Menanti Keputusan The Fed
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin menguat tipis 0,5% ke sekitar $81.700, sementara indeks altcoin dan memecoin mencatat kenaikan lebih tinggi.
- Pemulihan terjadi setelah aksi jual besar-besaran di saham teknologi AS yang menekan Nasdaq 2,6%, memicu kekhawatiran penularan ke aset kripto.
- Pelaku pasar kini mencermati rapat The Fed 27-28 Oktober dan arus dana ETF Bitcoin spot yang kembali negatif setelah sebelumnya mencatat inflow besar.

Harga Bitcoin (BTC) kembali stabil di kisaran $81.700 pada Jumat (23/10/2026), menguat 0,5% sejak tengah malam UTC, meski laju apresiasinya kalah dari altcoin. Ether (ETH) naik 0,9% ke $2.357, indeks CoinDesk 80 (CD80) yang melacak 80 aset kripto selain Bitcoin bertambah 0,7%, dan indeks memecoin melonjak 2,9%. Pepe (PEPE) memimpin penguatan dengan kenaikan 13%, menandakan selera risiko mulai pulih di segmen aset spekulatif.
Reli kecil ini muncul setelah aksi jual yang dipicu sektor teknologi pada Kamis (22/10). Indeks Nasdaq Composite anjlok 2,6%—penurunan harian terdalam sejak Juni—seiring kekecewaan terhadap kinerja emiten teknologi besar. Namun, pasar Asia bergerak mixed: Kospi Korea Selatan naik 0,3%, CSI 300 China menguat 1,7%, sedangkan Nikkei 225 Jepang turun tipis 0,25%. Stabilitas di Asia menahan sentimen negatif agar tidak menular lebih jauh ke pasar kripto, yang dalam beberapa bulan terakhir semakin terkorclasi dengan saham teknologi AS.
Perhatian pelaku pasar kini beralih ke dua katalis utama. Pertama, rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27-28 Oktober mendatang. The Fed diperkirakan mempertahankan sikap hati-hati di tengah tekanan inflasi yang masih membayangi, terutama dengan harga minyak Brent yang bertahan di sekitar $113 per barel. Kedua, arus dana masuk ke exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di AS. Menurut data SoSoValue, ETF tersebut mencatat outflow $635 juta pada Kamis, membalikkan lebih dari $1 miliar inflow selama tiga hari pertama pekan ini. Perubahan arah dana ini menjadi sinyal penting bagi likuiditas pasar kripto jangka pendek.
Di sisi lain, narasi seputar stablecoin berbasis aset dunia nyata (real-world asset/RWA) terus menguat. Stablecoin RWA yang terdiversifikasi menawarkan imbal hasil 5-7% dari kredit riil, sementara pendanaan kripto terkompresi ke sekitar 4%. Inisiatif GENIUS mendorong imbal hasil ke luar rantai (off-chain), dengan total pasar yang berpotensi tumbuh menjadi $4 miliar dalam tiga tahun ke depan. Tren ini menunjukkan bahwa inovasi di sektor kripto tidak hanya soal harga aset, tetapi juga pengembangan instrumen keuangan yang lebih terhubung dengan ekonomi riil.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Meski pasar kripto domestik masih kecil dibandingkan AS, korelasi Bitcoin dengan Nasdaq dan arus ETF global dapat memengaruhi sentimen lokal, terutama bagi investor ritel yang aktif di bursa kripto dalam negeri. Selain itu, perkembangan stablecoin RWA dan imbal hasilnya bisa menjadi alternatif instrumen bagi investor yang mencari eksposur ke aset digital dengan risiko lebih terukur, meski otoritas tetap mengingatkan pentingnya pemahaman risiko.
Ke depan, apakah Bitcoin mampu mempertahankan level $81.700 dan menembus resistensi berikutnya akan sangat bergantung pada hasil rapat The Fed dan kelanjutan arus ETF. Jika The Fed memberi sinyal dovish, aset berisiko termasuk kripto berpotensi kembali menguat. Sebaliknya, jika inflasi tetap keras dan outflow ETF berlanjut, tekanan jual bisa kembali muncul. Pasar kripto tampaknya masih dalam fase konsolidasi, menunggu kejelasan arah kebijakan moneter global.



