Lab Sabu Terbesar di Indonesia Dibongkar di Aceh, 1,2 Ton Barang Bukti dan WN China Ditangkap
Baca dalam 60 detik
- Aparat gabungan Polri, BNN, dan Bea Cukai menggerebek dua ruko di Pidie, Aceh, yang difungsikan sebagai pabrik sabu skala industri.
- Dua warga negara China berperan sebagai peracik utama, sementara pengendali jaringan masih buron dan diduga berada di luar negeri.
- Penyidik menyiapkan jerat tindak pidana pencucian uang dan menelusuri enam ponsel untuk membongkar aliran dana sindikat.

Polri bersama BNN dan Bea Cukai menutup sebuah laboratorium sabu tersembunyi di Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh, pada Jumat (23/10). Operasi itu mengungkap fasilitas produksi narkotika yang disebut sebagai yang terbesar di Indonesia, dengan barang bukti mencapai 1,2 ton bruto.
Penggerebekan bermula dari pantauan intelijen atas pergerakan sindikat lintas negara yang diduga melibatkan aktor dari China, Malaysia, dan Indonesia. Sejak Februari 2026, aparat menandai aktivitas mencurigakan yang mengarah ke pembentukan jaringan produksi di wilayah Aceh. Puncaknya, tim gabungan menyergap dua ruko yang dijadikan pabrik sabu, sekaligus menangkap sejumlah tersangka di lokasi.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyatakan dua warga negara China, LJ (45) dan XM (42), ditangkap dalam penggerebekan. Keduanya disebut didatangkan khusus dari China untuk meracik sabu. “Dua warga negara Tiongkok selaku koki utama atau ahli kimia berinisial LJ (45) dan XM (42) juga kita amankan dalam penggerebekan itu,” kata Suyudi dalam keterangan pers di Pidie, Jumat (23/10).
Menurut penyidik, LJ dan XM sempat berada di Aceh selama sepuluh hari pada Juni 2026 untuk memetakan lokasi sebelum kembali ke Malaysia. Pada 15 Oktober 2026, keduanya terdeteksi terbang dari Kunming, China, ke Kuala Lumpur untuk bertemu tersangka warga Indonesia berinisial B. Tiga hari berselang, komunikasi LJ dengan atasannya di China, LX dan NX, terendus petugas. Dalam percakapan itu, LJ melaporkan produksi telah dimulai dan menerima instruksi agar proses dipercepat serta barang segera dikirim.
Berdasarkan informasi tersebut, aparat melakukan penggerebekan serentak di ruko Pidie serta sejumlah titik di Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe. Selain LJ dan XM, petugas mengamankan tersangka lain berinisial F, MY, AK, dan AY. Hingga kini, sejumlah nama masih masuk daftar pencarian orang, termasuk pengatur lapangan Z, ES, J, BR, dan SS. Polri juga berkoordinasi dengan otoritas China untuk menangkap pengendali utama berinisial LS.
“Tim saat ini masih memburu para daftar pencarian orang atau DPO meliputi pengatur lapangan berinisial Z, ES, J, BR, SS serta berkoordinasi dengan NC City Tiongkok untuk menangkap pengendali utama, yaitu Saudara LS,” ujar Suyudi.
Kasus ini mencuatkan persoalan lama: Aceh kembali menjadi titik lemah pengawasan peredaran narkotika. Posisinya yang strategis di ujung barat Indonesia, dengan garis pantai panjang dan akses laut terbuka, membuat wilayah itu rawan dijadikan basis produksi maupun jalur penyelundupan. Pembongkaran laboratorium di Pidie menegaskan bahwa sindikat internasional tidak lagi sekadar menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi juga lokasi produksi.
Selain mengejar pelaku, penyidik akan memeriksa enam ponsel yang disita dari lokasi. Polri juga berencana menerapkan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU) untuk membongkar aliran dana jaringan. Langkah ini penting karena produksi sabu skala besar membutuhkan modal dan jaringan distribusi yang rapi, sehingga penelusuran aset menjadi kunci melemahkan sindikat secara menyeluruh.
Ke depan, keberhasilan operasi ini akan diuji oleh kemampuan aparat menangkap pengendali utama yang berada di luar negeri. Tanpa ekstradisi atau kerja sama hukum yang kuat dengan China dan Malaysia, rantai produksi bisa kembali tumbuh di titik lain. Publik menanti apakah pembongkaran lab terbesar ini menjadi titik balik penindakan narkotika lintas negara, atau hanya episodik sebelum sindikat mencari celah baru.



