Inggris Minta Warga Siapkan Stok Makanan dan Air, Burnham: Bukan Panik Buying
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Inggris mengeluarkan panduan agar rumah tangga menyimpan persediaan air dan makanan kaleng untuk tiga hari guna mengantisipasi krisis.
- Wakil PM Andy Burnham menegaskan imbauan ini bukan ajakan panic buying, melainkan langkah mitigasi menghadapi ancaman cuaca ekstrem dan serangan siber.
- Kritik muncul dari oposisi yang menilai pemerintah belum menjelaskan secara transparan risiko besar dan upaya penanganannya.

Pemerintah Inggris melalui Wakil Perdana Menteri Andy Burnham mengimbau masyarakat menyiapkan persediaan darurat berupa makanan kaleng dan air minum kemasan. Imbauan ini muncul di tengah badai yang melanda sejumlah wilayah Inggris serta gangguan layanan online akibat celah keamanan besar. Menurut Burnham, peristiwa tak terduga kian sering terjadi sehingga kesiapsiagaan rumah tangga menjadi keniscayaan.
Rekomendasi resmi yang disusun pemerintah mencakup kepemilikan air minum sembilan liter per orangโcukup untuk tiga hariโserta makanan tahan lama seperti daging kaleng, sayuran kaleng, atau buah kering. Daftar perlengkapan lain meliputi radio FM bertenaga baterai atau engkol, senter, selimut, power bank terisi, uang tunai, kotak P3K, dan salinan dokumen penting. Pemerintah juga menyarankan persediaan untuk hewan peliharaan dan bayi.
"Ini bukan soal panic buying. Ini tentang mengambil langkah wajar agar rumah memiliki cukup persediaan untuk melewati situasi sulit," ujar Burnham seperti dikutip BBC Radio 5 Live.
Pernyataan Burnham disampaikan di sela KTT ketahanan kebakaran hutan di Liverpool. Ia menepis anggapan pemerintah gagal melakukan persiapan memadai. "Kita hidup di dunia di mana peristiwa tak terduga tampaknya semakin sering terjadi. Hari ini Inggris menghadapi badai, dan kami prihatin pada warga yang kehilangan listrik di Cornwall," katanya.
Imbauan ini bukan tanpa kontroversi. Menteri Keuangan James Murray mengaku belum sepenuhnya mengikuti panduan tersebut. Ia hanya menyimpan stok kopi. Murray mencatat negara tetangga seperti Irlandia, Prancis, dan Belanda telah lama memberikan saran serupa. Sementara itu, Pemimpin Oposisi Kemi Badenoch mengaku selalu menyiapkan stok untuk sepekan, namun mengkritik pemerintah karena tidak menjelaskan risiko yang dihadapi dan langkah penanganan skala besar. "Keluarga bisa menimbun, tapi bagaimana dengan pertahanan, serangan siber, perang hibrida? Dana untuk menjaga negara belum memadai," ujarnya.
Kekhawatiran akan kerentanan rantai pasok pangan sebelumnya diungkap Kantor Audit Nasional (NAO) bulan lalu. NAO menilai Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan (Defra) belum berbuat cukup untuk memperkuat ketahanan pasokan. CEO Cold Chain Federation, asosiasi perusahaan transportasi makanan berpendingin, bahkan menyebut Inggris menjadi target peretas siber Rusia yang mengetahui titik-titik kritis sistem distribusi pangan.
Di sisi lain, Burnham berusaha meredakan kekhawatiran dengan menegaskan bahwa imbauan ini bagian dari dialog ketahanan nasional, bukan indikasi kegagalan persiapan. Ia menekankan pentingnya memiliki persediaan di rumah untuk menghadapi momen-momen darurat. "Kami sedang berbicara dengan masyarakat tentang kesiapsiagaan yang lebih baik," tambahnya.
Bagi Indonesia, imbauan ini relevan mengingat posisi strategis sebagai negara kepulauan yang rawan bencana alam dan serangan siber. Kesadaran akan ketahanan pangan rumah tangga dan infrastruktur kritis perlu terus ditingkatkan. Pemerintah Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pendekatan Inggris yang mengedepankan edukasi publik tanpa memicu kepanikan.
Ke depan, efektivitas imbauan ini akan bergantung pada konsistensi kampanye kesiapsiagaan dan transparansi pemerintah dalam memetakan risiko. Pertanyaannya, akankah langkah serupa diadopsi lebih luas di negara-negara lain, termasuk Indonesia, sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional menghadapi ancaman non-tradisional?



