Inggris Baru Punya Dana Minyak, 50 Tahun Terlambat: Potensi £1 Triliun yang Hilang
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Inggris meluncurkan Energy Wealth Fund senilai £2 miliar, ditarik dari National Wealth Fund, untuk membiayai transisi energi hijau.
- Modeling internal Treasury memperkirakan jika penerimaan minyak Laut Utara sejak 1980-an diinvestasikan seperti Norwegia, Inggris bisa memiliki dana abadi sekitar £1 triliun.
- Dana baru ini menghadapi tantangan struktural: penerimaan pajak energi menurun dan mandat investasi domestik berisiko menghasilkan imbal hasil lebih rendah dibandingkan dana Norwegia yang global.

Setelah tertunda hampir setengah abad, Inggris akhirnya memiliki instrumen fiskal yang menyerupai dana kekayaan negara (sovereign wealth fund). Kanselir John Healey mengumumkan pembentukan Energy Wealth Fund pada Rabu (5/3/2025), bersamaan dengan persetujuan lapangan gas Jackdaw, dengan suntikan awal £2 miliar yang dialihkan dari National Wealth Fund yang sudah ada.
Langkah ini menjawab pertanyaan lama di kalangan ekonom: mengapa Inggris, yang berbagi cekungan Laut Utara dengan Norwegia, tidak pernah membangun 'celengan raksasa' dari penerimaan minyak dan gas? Norwegia telah mengumpulkan dana senilai US$2,4 triliun dari sumber daya yang sama, sementara Inggris justru mencatat utang nasional yang menembus £3 triliun untuk pertama kalinya pada pekan yang sama.
Dalam pernyataannya, Healey menegaskan bahwa hasil minyak dan gas yang kini mengalir ke darat dapat diinvestasikan untuk generasi mendatang. Ia bahkan menyebut bahwa jika kebijakan serupa diambil saat minyak Laut Utara pertama kali ditemukan pada 1980-an, Inggris mungkin sudah memiliki dana kekayaan negara senilai sekitar £1 triliun. Angka itu bukan sekadar retorika: untuk pertama kalinya, pejabat Treasury menghitung potensi tersebut melalui pemodelan internal, dengan asumsi penerimaan historis Laut Utara sebesar £200 miliar diinvestasikan tanpa penarikan dan tumbuh pada laju yang sebanding dengan dana Norwegia.
Seorang sumber di dalam pemerintah menggambarkan situasi ini sebagai 'peluang yang terlewat'. Menurutnya, jika penerimaan minyak dan gas diinvestasikan secara sistematis, Inggris dapat membangun aset nasional besar untuk generasi mendatang. Ia menambahkan bahwa Norwegia menunjukkan kekuatan investasi jangka panjang, dan pemerintah ingin belajar dari prinsip tersebut tanpa meniru modelnya secara menyeluruh.
Kritik terhadap era Margaret Thatcher sering muncul dalam debat ini. Sejumlah ekonom menilai penerimaan minyak puncak pada 1980-an habis untuk pemotongan pajak menjelang pemilu, yang antara lain dibelanjakan pada konservatori taman rumah tangga. Pihak lain berpendapat bahwa penerimaan tersebut terbuang oleh belanja pemerintah yang tidak efisien di berbagai periode. Perlu dicatat, dana Norwegia baru benar-benar beroperasi pada 1996, sehingga perbandingan langsung dengan periode sebelumnya perlu hati-hati.
Wacana 'dana minyak yang hilang' juga menjadi argumen pendukung kemerdekaan Skotlandia, dan pernah disarankan oleh sejumlah penasihat pemerintah pada 1970-an. Di Norwegia, dana negara menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari: warga dapat memeriksa nilai dana secara langsung, dan penarikan 3% per tahun membantu membiayai seperlima hingga seperempat anggaran negara, termasuk saat pandemi Covid-19. Dana itu dirancang untuk membiayai transisi pasca-minyak.
Namun, Energy Wealth Fund Inggris akan berjalan dengan logika berbeda. Dana Norwegia diwajibkan berinvestasi di luar negeri dan tumbuh besar berkat saham teknologi Amerika Serikat. Rencana Inggris justru mengarahkan investasi ke energi hijau domestik, yang berpotensi menghasilkan imbal hasil lebih rendah. Selain itu, penerimaan pajak energi Inggris diperkirakan menurun seiring melambatnya produksi Laut Utara, meskipun persetujuan Jackdaw dan perluasan lapangan yang ada dapat memperlambat penurunan tersebut. Norwegia juga masih menguasai perusahaan minyaknya, sehingga negara ikut menikmati bagian keuntungan.
"Norwegia menunjukkan kekuatan investasi jangka panjang: pemerintah ingin belajar dari prinsip itu, bukan meniru modelnya secara keseluruhan," ujar sumber pemerintah tersebut.
Dua miliar kroner Norwegia adalah investasi awal dana mereka 30 tahun lalu, dan kini nilainya lebih dari seribu kali lipat. Tidak ada yang berharap £2 miliar Energy Wealth Fund menjadi £2 triliun pada 2056. Pertanyaannya bukan sekadar berapa nilai dana baru ini di masa depan, melainkan sejauh mana Inggris mampu mengubah pelajaran dari keterlambatan setengah abad menjadi kebijakan fiskal yang konsisten — atau justru mengulang kesalahan yang sama.



