CSI 300 Resmi Masuk Pasar Beruang, 10 Pekan Beruntun Merah: Alarm Baru bagi Ekonomi China
Baca dalam 60 detik
- Indeks CSI 300 anjlok 20% dari puncak Juni dan mencatat penurunan mingguan ke-10, menandakan tekanan jual berkepanjangan di bursa China.
- Laba korporasi yang melemah, perang harga, dan krisis kepercayaan konsumen menjadi pemicu utama, sementara investor ritel yang mendominasi 90% transaksi memperparah volatilitas.
- Sejumlah analis menilai aksi jual sudah berlebihan dan memperkirakan rebound pada 2027, tetapi risiko geopolitik dan gelembung AI masih membayangi.

Indeks CSI 300—patokan 300 saham terbesar di bursa Shanghai dan Shenzhen—resmi memasuki wilayah pasar beruang (bear market) pada Kamis (22/10/2026), setelah terkoreksi 20% dari puncak Juni. Penurunan ini menandai pekan merah kesepuluh secara berturut-turut, mempertegas bahwa tekanan terhadap ekuitas China belum menemukan titik balik.
Data LSEG menunjukkan indeks acuan itu melemah lebih dari 1% pada perdagangan Kamis, sehingga total penurunan sepanjang pekan mencapai 2,6%. Angka ini menambah daftar panjang kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi terbesar kedua dunia tersebut, yang masih bergulat dengan warisan kelebihan kapasitas dan investasi berlebih dari tahun-tahun sebelumnya.
Jordan Cvetanovski, Chairman dan CIO Pella Funds, menilai China masih kesulitan mengendalikan dampak dari pembangunan kapasitas yang berlebihan. "Saya pikir China benar-benar berjuang untuk menahan masalah yang mereka hadapi di masa lalu dari overbuild kapasitas dan hal-hal lain," ujarnya kepada CNBC. Ia menyoroti tantangan yang dihadapi perusahaan bahkan di sektor yang kompetitif secara global seperti baterai, meski masih melihat peluang terpilih di sana.
Tekanan terhadap pasar saham China bukan tanpa akar. Pertumbuhan laba perusahaan terus menurun akibat persaingan ketat yang menggerus margin, bahkan memaksa pemerintah turun tangan. Pada September, China membukukan pertumbuhan laba industri terlemah sepanjang tahun ini. Sementara itu, ekonomi China pada kuartal II 2026 hanya tumbuh paling lambat dalam lebih dari tiga tahun, tertekan oleh perlambatan sektor properti yang berkepanjangan dan lemahnya permintaan konsumen.
Shaun Rein, Managing Director China Market Research Group, memperkirakan tekanan jual akan berlanjut seiring ketidakpastian geopolitik, kekhawatiran akan gelembung kecerdasan buatan (AI), dan memburuknya kepercayaan konsumen. Menurutnya, basis investor ritel yang besar di China dapat memperparah volatilitas pasar karena investor individu cenderung lebih cepat keluar saat ketidakpastian meningkat. Berbeda dengan bursa utama seperti NYSE yang didominasi investor institusi, pasar China sangat sensitif terhadap sentimen ritel.
"Bagi orang China, ini tentang menjaga kekayaan," kata Rein, seraya mencatat bahwa investor semakin beralih ke aset yang lebih aman seperti deposito berjangka di tengah melemahnya pasar properti dan kondisi tenaga kerja yang lesu.
Meski demikian, Rein menilai aksi jual saat ini sudah berlebihan. Ia menunjuk pada kinerja ekspor yang masih tangguh dan tanda-tanda pemulihan harga properti di kota-kota besar China. "Ini adalah krisis kepercayaan, bukan krisis ekonomi," tegasnya, sambil memprediksi rebound kuat ekuitas China pada 2027.
Senada, Daniel Gerard, Senior Multi-Asset Strategist State Street Markets, melihat sisi optimistis. Menurutnya, kemampuan China yang terus berkembang di bidang AI pada akhirnya dapat menarik kembali investor global ke pasar ekuitasnya, bahkan sebelum laba perusahaan pulih. Namun, ia tidak memungkiri bahwa saat ini sentimen pasar masih rapuh.
Bagi Indonesia, gejolak pasar China memiliki implikasi langsung. China adalah mitra dagang utama bagi banyak negara ASEAN, termasuk Indonesia, terutama untuk komoditas seperti batu bara, minyak sawit, dan nikel. Pelemahan ekonomi China yang berlanjut dapat menekan permintaan ekspor dan memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik. Selain itu, volatilitas pasar keuangan China sering kali menular ke pasar emerging, termasuk Jakarta, melalui arus modal asing. Investor global yang menarik dana dari China cenderung mencari aset safe haven, yang bisa memperlemah nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya utang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah penurunan ini akan berbalik menjadi resesi yang lebih dalam, atau justru menjadi titik masuk bagi investor jangka panjang. Pemerintah China di bawah Presiden Xi Jinping menghadapi ujian untuk memulihkan kepercayaan pasar tanpa mengorbankan stabilitas struktural. Sementara itu, pelaku pasar di Indonesia perlu mencermati sinyal dari Beijing—apakah stimulus fiskal dan moneter akan cukup untuk membendung gelombang pessimisme, atau justru menjadi bumerang jika tidak tepat sasaran.



