Mac Allister Bongkar Perubahan Liverpool di Bawah Iraola: Ada yang Tak Beres di Era Slot
Baca dalam 60 detik
- Alexis Mac Allister menyebut Andoni Iraola berhasil membenahi masalah internal Liverpool yang tersisa dari masa kepemimpinan Arne Slot.
- Liverpool mencatat tujuh kemenangan dari sebelas laga awal Iraola, dengan Mac Allister menjadi salah satu pemain paling dipercaya.
- Perubahan pendekatan taktik dari zonal ke man-to-man marking menuntut tanggung jawab individual lebih besar dari para pemain.

Gelandang Liverpool, Alexis Mac Allister, mengungkap bahwa persoalan di dalam tim bukan sekadar soal taktik atau kualitas pemain, melainkan suasana yang tidak sehat pada musim terakhir Arne Slot. Ia menyebut kedatangan Andoni Iraola pada Juni 2026 telah memperbaiki akar masalah tersebut, dan dampaknya langsung terlihat pada performa The Reds di awal musim ini.
Liverpool memang melewati masa sulit setelah Slot mengantar tim juara Premier League pada musim debutnya 2024/2025. Performa tim menurun drastis pada musim berikutnya, dan manajemen memilih mengakhiri kerja sama dengan Slot sebelum menunjuk Iraola. Pergantian itu bukan tanpa risiko, mengingat Iraola sebelumnya lebih dikenal sebagai pelatih yang membangun tim dengan sumber daya terbatas. Namun, hasil awal bersama Liverpool menunjukkan arah yang berbeda.
Dari sebelas pertandingan yang sudah dijalani di bawah Iraola, Liverpool mengoleksi tujuh kemenangan, tiga hasil imbang, dan baru sekali menelan kekalahan. Salah satu momen paling menonjol terjadi di Liga Champions ketika Liverpool bangkit menaklukkan Villarreal 4-3, dengan Mac Allister menyumbang dua gol. Kemenangan dramatis itu menjadi bukti bahwa perubahan yang dilakukan Iraola mulai membuahkan hasil, terutama dalam hal mentalitas dan respons terhadap tekanan.
Mac Allister tidak menyembunyikan bahwa musim lalu adalah periode berat bagi dirinya dan rekan-rekan. Ia mengakui performanya sendiri jauh dari standar, dan menurutnya itu adalah cerminan dari kondisi tim secara keseluruhan. "Ada sesuatu yang tidak beres di dalam tim. Manajer ini telah mengubahnya, dan itu sangat penting," ujarnya seperti dikutip dari wawancara usai laga melawan Villarreal, Selasa (20/10/2026). Pernyataan itu secara implisit menyoroti bahwa masalah Liverpool bukan hanya soal formasi atau strategi, tetapi juga chemistry dan kepercayaan diri di ruang ganti.
"Musim lalu sangat sulit bagi kami semua. Saya jelas tidak berada di level terbaik. Saya orang pertama yang mengakuinya dan tidak masalah bagi saya," kata Mac Allister.
Perubahan paling terasa bagi Mac Allister adalah pendekatan bertahan. Jika pada era Slot Liverpool lebih sering memakai penjagaan zonal, Iraola kini menginstruksikan man-to-man marking. Konsekuensinya, para pemain dituntut lebih bertanggung jawab dalam duel individual dan tidak bisa lagi bersembunyi di balik struktur kolektif. "Sekarang, kami lebih banyak bermain man-to-man. Kami mungkin tidak perlu terlalu banyak berkomunikasi karena harus mengikuti lawan," jelasnya.
Menurut Mac Allister, kedua sistem memiliki kelebihan masing-masing. Ia tetap melihat efektivitas zonal, terutama karena ia juga menjalankannya bersama Timnas Argentina. Namun, di Liverpool, ia merasakan bahwa pendekatan man-to-man membuat permainan lebih sederhana secara mental, meski menuntut kerja fisik lebih besar. "Sekarang lebih mudah karena kami tidak perlu terlalu banyak berpikir, tetapi mungkin harus lebih banyak berlari. Memang seperti itulah perkembangan sepak bola," tuturnya.
Bagi publik sepak bola Indonesia, dinamika di Liverpool ini menjadi cermin bagaimana pergantian pelatih tidak selalu soal taktik, tetapi juga soal membangun kembali kepercayaan diri pemain. Timnas Indonesia dan klub-klub Liga 1 kerap menghadapi situasi serupa ketika pelatih baru datang dengan gaya bermain berbeda, dan adaptasi pemain menjadi penentu. Kasus Mac Allister menunjukkan bahwa pemain sekaliber juara dunia pun bisa kehilangan performa ketika lingkungan tim tidak kondusif, dan pemulihannya membutuhkan sosok yang mampu mengubah budaya kerja, bukan sekadar mengganti formasi.
Ke depan, tantangan Iraola adalah menjaga konsistensi Liverpool di tengah jadwal padat Liga Inggris dan Liga Champions. Sebelas laga memang terlalu singkat untuk menilai apakah perubahan ini bersifat permanen, tetapi indikasi awal cukup jelas. Jika Mac Allister dan rekan-rekan mampu mempertahankan intensitas man-to-man marking tanpa kehilangan kreativitas, Liverpool berpeluang kembali bersaing di papan atas. Sebaliknya, jika beban fisik mulai menggerus performa, pertanyaan tentang keberlanjutan proyek Iraola akan segera muncul.



