Towns Siap Potong Gaji demi Knicks, tapi Negosiasi Kontrak Justru Dibekukan
Baca dalam 60 detik
- Karl-Anthony Towns menyatakan kesediaan menerima bayaran di bawah nilai maksimum agar inti skuad New York Knicks tetap utuh.
- Manajemen Knicks memilih menunda pembicaraan perpanjangan kontrak untuk Towns dan tiga pemain lain, dengan tawaran awal empat tahun senilai 200 juta dolar AS.
- Ketegangan menjelang musim 2026-27 meningkat karena jeda negosiasi memperpendek waktu kesepakatan dan membuka peluang Towns menguji pasar bebas.

Karl-Anthony Towns menegaskan dirinya tidak menuntut kontrak maksimum dari New York Knicks. Namun, sinyal kompromi itu datang bersamaan dengan keputusan klub membekukan seluruh pembicaraan perpanjangan kontrak menjelang dimulainya musim 2026-27, menciptakan paradoks yang membayangi perayaan cincin juara.
Dalam wawancara bersama ESPN, Towns mengaku telah menyampaikan keinginannya untuk mempertahankan core tim yang membawa Knicks meraih gelar. Baginya, prioritas utama bukanlah angka maksimum, melainkan menjaga kesatuan skuad. Ia bahkan menegaskan bahwa opsi menerima bayaran penuh tidak pernah menjadi pertimbangan sejak awal. Pernyataan ini disampaikan tepat sebelum Knicks menjamu Philadelphia 76ers dalam laga pembuka, malam yang seharusnya menjadi pesta atas keberhasilan musim lalu.
Sayangnya, keinginan Towns tidak serta-merta bertemu dengan tawaran klub. Menurut laporan yang beredar, Knicks mengajukan kontrak empat tahun senilai 200 juta dolar AS, atau sekitar 70 juta dolar AS lebih rendah dari nilai maksimum yang bisa diraih Towns. Angka itu jauh di bawah ekspektasi pasar yang selama ini memperkirakan kesepakatan di kisaran 225 hingga 240 juta dolar AS. Penundaan pembicaraan, yang juga berlaku untuk Josh Hart, Deuce McBride, dan Tyler Kolek, memperpendek jendela negosiasi dan memperbesar risiko Towns menguji pasar bebas pada akhir musim.
Di balik angka-angka itu, ada persoalan struktural yang lebih dalam. Pemilik Knicks, James Dolan, dikenal enggan melampaui batas second apron dalam struktur gaji NBA. Ia memilih membebankan pengorbanan finansial kepada para pemain daripada mengambil risiko pajak barang mewah yang berat. Sikap ini menempatkan Towns pada posisi sulit: di satu sisi ia ingin tetap bersama rekan-rekannya dan mengejar gelar lagi, di sisi lain ini mungkin menjadi kontrak besar terakhirnya dalam karier profesional.
"Saya ingin tim ini tetap bersama. Itu selalu menjadi prioritas utama saya," ujar Towns, seperti dikutip ESPN, seraya menambahkan bahwa pikiran tentang kontrak maksimum tidak pernah muncul dalam benaknya.
Jalen Brunson, yang sebelumnya terkenal karena menerima bayaran jauh di bawah maksimum, berharap Towns mau menandatangani perpanjangan. Namun, harapan itu tidak menghapus kenyataan bahwa Knicks sedang berusaha menetapkan preseden: pemain bintang diminta berkorban demi fleksibilitas finansial klub. Bagi Towns, keputusan ini bukan sekadar soal uang, melainkan tentang pengakuan atas nilai kontribusinya.
Jika negosiasi tetap mandek, Towns memiliki opsi untuk menolak player option dan masuk ke pasar bebas pada musim panas mendatang. Di sana, tawaran dari tim lain hampir dipastikan lebih besar. Knicks pun menghadapi dilema: mempertahankan inti juara dengan harga yang lebih tinggi, atau kehilangan salah satu pilar utama demi disiplin anggaran. Musim 2026-27 baru dimulai, tetapi ketegangan di meja negosiasi sudah lebih dulu memanas.



