Leeds United Punya Masalah Rp3,9 Triliun di Lini Depan yang Harus Segera Dibenahi
Baca dalam 60 detik
- Leeds United telah menghabiskan sekitar £186 juta untuk belanja pemain sejak promosi 2025, tetapi hanya £18 juta yang dialokasikan untuk sektor penyerang.
- Ketergantungan pada Dominic Calvert-Lewin yang datang gratis menjadi risiko besar jika sang striker mengalami cedera, mengingat produktivitas lini depan lain minim.
- Manajemen Leeds perlu mempertimbangkan investasi besar pada penyerang mapan di bursa Januari agar peluang finis di zona Eropa tidak sirna.

Leeds United menghadapi dilema transfer yang menganga: dari total belanja £186 juta sejak promosi ke Premier League pada 2025, hanya £18 juta yang dialokasikan untuk mendatangkan penyerang. Ketimpangan ini menjadi sorotan menjelang bursa transfer Januari, ketika ambisi klub untuk finis di zona Eropa bergantung pada ketajaman lini depan yang saat ini terlalu bergantung pada Dominic Calvert-Lewin.
Sejak kembali ke kasta tertinggi, manajemen Leeds memang patut dipuji. Mereka sukses mendatangkan pemain-pemain berkualitas seperti Tarik Muharemovic, James Justin, Jayden Bogle di lini belakang, serta Ao Tanaka dan Anton Stach di tengah. Kiper James Trafford bahkan diproyeksikan sebagai penerus Jordan Pickford di timnas Inggris. Hasilnya, menjelang jeda internasional, Leeds bertengger di peringkat kelima klasemen—sebuah posisi yang menjanjikan tiket ke kompetisi Eropa musim depan.
Namun, di balik gemilangnya rekrutmen di sektor lain, lini serang menjadi titik lemah yang terabaikan. Calvert-Lewin, yang datang tanpa biaya transfer, menjelma menjadi mesin gol dengan catatan hanya kalah dari empat pemain lain dalam hal gol Premier League sejak kedatangannya. Akan tetapi, di balik performa impresifnya, ada kekhawatiran mendalam: apa yang terjadi jika sang nomor 9 cedera? Hingga kini, satu-satunya pemain lain yang mencetak lebih dari satu gol untuk Leeds musim ini adalah James Justin, seorang bek.
Kegagalan mendatangkan penyerang mahal sejatinya bukan tanpa alasan. Leeds sempat mencoba mendatangkan Mudryk pada musim panas lalu, tetapi pemain Ukraina itu lebih memilih Tottenham Hotspur. Pada Januari sebelumnya, mereka juga gagal membujuk Wolves melepas Strand Larsen, yang akhirnya bergabung dengan Crystal Palace. Meski demikian, keputusan untuk tidak membayar mahal pemain depan bisa dilihat sebagai langkah cerdas menghindari jebakan harga, terlebih Calvert-Lewin telah membuktikan bahwa kualitas tidak selalu identik dengan mahar transfer.
Namun, jika Daniel Farke ingin membangun dinasti di Elland Road, pendekatan konservatif di lini depan perlu segera direvisi. Persaingan menuju zona Eropa semakin ketat, dan ketergantungan pada satu striker rentan terhadap cedera dan fluktuasi performa. Pemain seperti Okafor, James, dan Aaronson baru mencetak satu gol masing-masing, sementara Nmecha, Wilson, dan Bahoya belum membuka rekening gol. Minimnya kontribusi gol dari lini kedua dan ketiga menjadi alarm bahwa tim ini belum memiliki kedalaman memadai untuk bersaing sepanjang musim.
"Jika Calvert-Lewin cedera, dari mana gol akan datang? Ini adalah masalah yang harus segera diatasi jika Leeds ingin bertahan di papan atas," demikian kekhawatiran yang mengemuka di kalangan pengamat.
Bagi Leeds, bursa Januari menjadi momen krusial. Mereka perlu menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan penyerang mapan yang bisa berbagi beban gol dengan Calvert-Lewin, atau setidaknya menjadi pelapis yang setara. Tanpa itu, ambisi bermain di Eropa musim depan bisa sirna di tengah jalan. Sebaliknya, investasi tepat waktu dapat menjadi kunci untuk mengubah Leeds dari tim promosi yang menjanjikan menjadi kekuatan permanen di Premier League.
Pertanyaannya, akankah manajemen Leeds berani keluar dari zona nyaman dan membuka dompet demi seorang penyerang kelas atas? Ataukah mereka akan terus mengandalkan keajaiban Calvert-Lewin hingga batas kemampuannya? Jawabannya akan menentukan arah klub ini dalam beberapa tahun ke depan.



