Bintang Billions Asia Kate Dillon Buka Suara: Karier Akting Redup, Kini Cari Kerja di Restoran
Baca dalam 60 detik
- Asia Kate Dillon, pemeran Taylor Mason di Billions, mengumumkan secara terbuka bahwa mereka mencari pekerjaan paruh waktu di industri perhotelan dan restoran.
- Meski telah membintangi sejumlah produksi Hollywood ternama, Dillon mengaku tawaran akting menurun drastis, terutama bagi komunitas trans dan non-biner.
- Pengakuan ini menyoroti kerentanan karier aktor minoritas gender di industri hiburan, sekaligus mempertanyakan keberlanjutan inklusivitas di layar kaca.

Aktor non-biner Asia Kate Dillon, yang dikenal luas lewat peran Taylor Mason dalam serial Billions, mengungkapkan bahwa mereka kini harus mencari penghasilan tambahan di sektor jasa makanan. Dalam pernyataan yang diunggah ke media sosial, Dillon menyebut bahwa tawaran berakting telah menyusut drastis dalam beberapa tahun terakhir, memaksa mereka kembali ke pekerjaan yang pernah digeluti sebelum namanya melejit.
Pernyataan tersebut menjadi cermin pahit bagi industri hiburan Amerika yang kerap digadang-gadang inklusif. Dillon, 41 tahun, bukan nama sembarangan. Selain Billions, mereka tampil dalam Orange Is the New Black, film John Wick: Chapter 3 โ Parabellum, dan sejumlah proyek lain. Namun, capaian itu ternyata tak menjamin kelangsungan karier. โSeperti banyak rekan sesama performer, terutama mereka yang trans/nonbiner/gender nonconforming, pekerjaan akting nyaris habis, dan saya perlu bekerja di bidang layanan lagi,โ tulis Dillon dalam pernyataannya.
Dillon bukan tanpa pengalaman di dunia hospitality. Pada 2000, saat masih 15 tahun, mereka mulai bekerja di Ithaca Bakery, New York, mengurus bagel hingga menyambut pelanggan. Sebelum sukses di layar kaca, mereka sempat menjadi pencuci piring, pengantar makanan, dan manajer lantai di berbagai restoran. Baru pada musim gugur 2015, pendapatan dari akting cukup untuk menghidupi mereka sepenuhnya. โSelama sebelas tahun terakhir, saya hanya bekerja di teater, film, dan TV,โ ujarnya.
Dalam pernyataannya, Dillon tidak hanya berbicara soal kesulitan pribadi. Mereka menyoroti bahwa peluang kerja bagi aktor transgender, non-biner, dan gender-nonconforming semakin sempit. Hal ini kontras dengan gelombang representasi yang sempat mewarnai layar kaca beberapa tahun silam. Dillon sendiri menjadi pionir ketika memerankan Taylor Mason, karakter non-biner pertama di serial drama besar, dan muncul dalam enam musim Billions.
โSaya suka layanan pelanggan. Saya suka menciptakan lingkungan yang ramah bagi orang-orang untuk bersantai dan terhubung. Saya suka makanan dan minuman. Saya bersemangat, penasaran, dan rekan kerja yang baik,โ tulis Dillon, menegaskan bahwa mereka tidak kehilangan antusiasme meski harus kembali ke dunia yang pernah mereka tinggalkan.
Dillon juga menyadari bahwa teknologi restoran telah berubah selama sebelas tahun mereka absen. โSaya kira hambatan untuk kembali adalah mempelajari sistem POS baru, tapi saya cepat belajar. Saya tersedia untuk kerja paruh waktu, malam, dan akhir pekan,โ tambahnya. Pernyataan itu ditutup dengan tanda tangan lengkap dan pronomina they/them, menegaskan identitas yang mereka pegang teguh.
Kisah Dillon bukan sekadar drama individu. Ini adalah potret buram bagaimana industri hiburan memperlakukan talenta minoritas setelah masa keemasan representasi berlalu. Di Indonesia, isu serupa juga mengemuka, meski dalam konteks berbeda. Aktor-aktor lokal kerap menghadapi ketidakpastian pendapatan, terlebih mereka yang berada di luar arus utama. Belum ada serikat pekerja seni yang mampu menjamin kesejahteraan berkelanjutan, sehingga banyak yang beralih ke pekerjaan lain saat produksi sepi.
Jika seorang bintang Hollywood dengan portofolio impresif saja bisa terpuruk, bagaimana nasib mereka yang berjuang di industri kecil? Pertanyaan ini seharusnya menjadi cambuk bagi ekosistem perfilman global untuk tidak sekadar merayakan keragaman di atas panggung, tetapi juga memastikan keberlanjutan karier para pelakunya. Tanpa itu, inklusivitas hanya akan menjadi komoditas musiman.



