Moussa Sidibe Pecah Kebuntuan, Bhayangkara FC Kokoh di Papan Atas Tanpa Tersentuh Kekalahan
Baca dalam 60 detik
- Gol tunggal Moussa Sidibe pada menit ke-59 memastikan Bhayangkara FC menang 1-0 atas PSIM Yogyakarta di Stadion Sumpah Pemuda.
- Kemenangan ini mengangkat Bhayangkara ke peringkat keempat dengan 10 poin, sekaligus mempertahankan rekor tak terkalahkan dalam enam laga awal.
- PSIM yang baru saja memecat pelatihnya semakin terpuruk di posisi ke-17 dengan hanya mengoleksi satu poin dari enam pertandingan.

Bhayangkara FC melanjutkan start impresif mereka di BRI Super League 2026/2027. Menjamu PSIM Yogyakarta di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, Selasa (20/10/2026) malam, The Guardians meraih kemenangan tipis 1-0 berkat gol tunggal Moussa Sidibe pada menit ke-59. Tambahan tiga poin ini membawa tim asuhan Oscar Bruzon ke posisi keempat klasemen sementara dengan koleksi 10 poin dari dua kemenangan dan empat imbang, tanpa sekali pun menelan kekalahan.
Kemenangan tersebut tidak datang tanpa drama. PSIM harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-27 setelah Ze Valente diusir wasit akibat mengangkat kaki terlalu tinggi hingga mengenai kepala Wahyu Subo Seto. Insiden itu mengubah jalannya pertandingan. PSIM yang semula mencoba menekan terpaksa bertahan total dengan formasi rapat 4-4-1, menyulitkan Bhayangkara menembus pertahanan mereka di babak pertama.
Oscar Bruzon mengakui bahwa kartu merah tersebut menjadi titik balik. "Kartu merah Ze Valente jelas mengubah permainan. Setelah itu PSIM bermain sangat defensif dan kami kesulitan menciptakan peluang bersih di babak pertama," ujar pelatih asal Spanyol itu. Meski demikian, ia menilai timnya mulai menguasai tempo setelah 15 menit pertama dan terus meningkatkan intensitas serangan di babak kedua.
Di babak kedua, Bhayangkara tampil lebih variatif. Gol yang dinanti akhirnya tercipta lewat aksi Moussa Sidibe memanfaatkan umpan matang Allano Lima. "Kami mulai sering menempatkan bola ke kotak penalti dan memanfaatkan lebar lapangan lewat pergerakan full back serta winger. Itu membuahkan hasil," jelas Bruzon.
Namun, pelatih berusia 48 tahun itu tetap tidak sepenuhnya puas. Ia menyoroti efektivitas tim yang dinilai masih kurang optimal meski menciptakan banyak peluang. "Saya belum bisa tersenyum penuh karena seharusnya kami bisa mencetak gol lebih cepat. Beberapa peluang membentur mistar, diblok, atau diselamatkan kiper. Itu yang membuat pertandingan tetap menegangkan hingga akhir," kritiknya.
Bagi PSIM, kekalahan ini memperpanjang mimpi buruk mereka. Tim yang baru saja memecat pelatihnya itu masih terpuruk di dasar klasemen dengan hanya satu poin dari enam pertandingan. Kekalahan dari Bhayangkara menegaskan krisis yang sedang melanda Laskar Mataram, yang belum menemukan performa terbaiknya sejak awal musim.
Di sisi lain, Bhayangkara FC terus menunjukkan konsistensi sebagai salah satu tim yang sulit dikalahkan. Meski belum sepenuhnya tajam di lini depan, kokohnya pertahanan dan kemampuan mengontrol pertandingan menjadi modal berharga untuk bersaing di papan atas. Pertanyaan ke depan: mampukah Moussa Sidibe dan kawan-kawan mempertahankan tren positif ini saat menghadapi lawan-lawan tangguh berikutnya? Jika efektivitas finis meningkat, bukan tidak mungkin The Guardians melangkah lebih jauh dari sekadar penghuni papan tengah.



