Kreator Life is Strange Puji Adaptasi Amazon, Sinyal Positif bagi Penggemar
Baca dalam 60 detik
- Michel Koch, sutradara game Life is Strange 2015, mengunjungi lokasi syuting serial Amazon dan menyebutnya sebagai pengalaman surealis yang membanggakan.
- Keterlibatan Koch bersama Jean-Luc Cano dan Luc Baghadoust menjadi penanda bahwa tim produksi menghormati visi original meski hak waralaba kini dipegang Square Enix.
- Serial ini belum memiliki tanggal tayang, tetapi pujian dari kreator game menambah ekspektasi penggemar di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Michel Koch, salah satu otak di balik game Life is Strange tahun 2015, memberikan penilaian positif terhadap adaptasi serial Amazon Prime Video yang tengah digarap. Kunjungannya ke lokasi syuting baru-baru ini menjadi sorotan karena ia menyebut pengalaman tersebut sebagai momen paling membanggakan dalam kariernya.
Dalam unggahan di Instagram, Koch mengungkapkan bahwa dirinya bersama Jean-Luc Cano dan Luc Baghadoust—dua sosok penting di Don't Nod—menghabiskan waktu di set produksi. Ia menyebut minggu itu sebagai salah satu yang paling surealis, bertemu dengan tim yang menurutnya sangat luar biasa. Pujian itu bukan sekadar formalitas, melainkan sinyal bahwa adaptasi ini setidaknya mendapat restu dari pencipta aslinya.
Yang menarik, Koch secara khusus menyoroti Tatum Grace Hopkins dan Maisy Stella, yang masing-masing memerankan Max dan Chloe. Dalam foto yang diunggah, ketiganya tampak berada di replika Two Whales Diner, salah satu lokasi ikonik dalam game. Bagi penggemar berat, momen ini seperti jembatan antara nostalgia dan ekspektasi baru.
"Bisa berada di lokasi syuting bersama teman-teman dekat dan dikelilingi orang-orang berbakat adalah puncak karier saya," tutur Koch, seperti dikutip dari unggahannya.
Kunjungan tersebut memiliki makna lebih dalam. Sebab, Don't Nod sebagai pengembang game original tidak lagi memegang kendali atas waralaba Life is Strange. Setelah rilis Life is Strange 2, hak pengembangan beralih ke Deck Nine, sementara Don't Nod melanjutkan proyek-proyek mandiri. Square Enix pun duduk sebagai produser, dan Don't Nod tidak memiliki keterlibatan resmi dalam serial TV ini.
Meski demikian, tim produksi tampaknya sadar betul pentingnya merangkul para pencipta asli. Mengundang Koch dan kawan-kawan ke set, meski hanya sebatas kunjungan, menjadi gestur yang akan diapresiasi penggemar. Ini menunjukkan bahwa adaptasi tidak sekadar mengeksploitasi nama besar waralaba, tetapi juga menghormati akar kreatifnya.
Bagi industri adaptasi game, langkah Amazon ini bisa jadi tolok ukur. Beberapa proyek sebelumnya menuai kritik karena dianggap mengabaikan visi kreator asli. Dengan melibatkan Koch secara simbolis, Amazon setidaknya berusaha menghindari jebakan serupa. Namun, tantangan sesungguhnya tetap pada eksekusi: apakah serial ini mampu menangkap nuansa emosional dan pilihan naratif yang membuat game-nya dicintai?
Di Indonesia sendiri, Life is Strange memiliki basis penggemar yang cukup solid, terutama di kalangan gamer PC dan konsol. Adaptasi ini berpotensi memperluas jangkauan cerita ke audiens yang lebih luas, termasuk mereka yang tidak pernah memainkan gamenya. Jika berhasil, bukan tidak mungkin akan mendorong lebih banyak adaptasi game naratif lain ke layar kaca.
Hingga kini, Amazon belum mengumumkan jadwal rilis. Namun, dengan syuting yang telah rampung dan dukungan dari kreator original, ekspektasi publik semakin meninggi. Pertanyaannya, akankah serial ini mampu memenuhi standar emosional yang telah ditetapkan game-nya, atau justru menjadi sekadar adaptasi biasa? Waktu yang akan menjawab, tetapi setidaknya langkah awal telah menuai pujian.



