ADHD Tak Hanya Soal Fokus: Risiko Kematian 70% Lebih Tinggi, Pengobatan Bisa Tekan Angka
Baca dalam 60 detik
- Meta-analisis terbaru menemukan diagnosis ADHD berkorelasi dengan risiko kematian 70% lebih tinggi dari segala penyebab dibandingkan populasi umum.
- Obat ADHD dikaitkan dengan penurunan risiko kematian hingga 25%, meski bukti masih terbatas pada tiga studi.
- Temuan ini menegaskan perlunya deteksi dini dan akses layanan kesehatan mental yang setara, termasuk di Indonesia.

Orang dengan diagnosis attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) menghadapi risiko kematian 70% lebih tinggi dari segala penyebab dibandingkan mereka yang tidak memiliki kondisi tersebut. Kesimpulan itu muncul dari meta-analisis sistematis yang melibatkan hampir 16 juta partisipan di Amerika Utara, Eropa, dan Asia, dipublikasikan di JAMA Network Open.
Studi yang digarap peneliti University College London dan University of Liverpool ini menganalisis 19 studi kohort longitudinal, sebagian mengikuti peserta hingga 20 tahun. Temuan utamanya bukan sekadar angka kematian yang lebih tinggi, melainkan bahwa kelebihan risiko itu tidak hanya berasal dari kematian akibat bunuh diri atau cedera, tetapi juga dari penyebab alami—menandakan beban kesehatan yang lebih luas pada populasi ADHD.
“Kami sebelumnya menemukan bahwa orang dengan ADHD memiliki harapan hidup lebih pendek, jadi temuan ini menambah pemahaman tentang apa yang mendorong statistik yang sangat mengkhawatirkan itu,” ujar Joshua Stott, PhD, penulis senior studi, dalam siaran pers.
Lucy Corrigan, penulis pertama dari University of Liverpool, menyebut kaitan antara ADHD dan kematian akibat penyebab alami sebagai “agak mengejutkan.” Ia menegaskan temuan ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat langsung, tetapi mengisyaratkan bahwa risiko kesehatan pada ADHD melampaui kecelakaan dan bunuh diri. “Perbedaan kekuatan asosiasi antarstudi dapat mencerminkan variasi populasi, sistem kesehatan, dan metode penelitian,” katanya kepada Medical News Today.
Para peneliti memetakan sejumlah jalur yang menjelaskan kelebihan mortalitas. Untuk kematian akibat bunuh diri, misalnya, mereka menyoroti tingginya prevalensi depresi, gangguan penggunaan zat, dan eksklusi sosial di kalangan individu dengan ADHD. Risiko cedera diperkirakan terkait dengan kecenderungan mengalami kecelakaan lalu lintas dan perilaku berisiko akibat gangguan penggunaan zat. Sementara kematian akibat penyebab alami dikaitkan dengan pola hidup tidak sehat—merokok, diet buruk, gangguan tidur—serta penyakit kardiovaskular. Kesulitan memusatkan perhatian dan mengorganisasi diri juga membuat penderita ADHD lebih sulit mengikuti rencana pengobatan atau menjalani gaya hidup sehat secara konsisten.
“ADHD bukanlah kondisi yang secara definisi membatasi hidup, karena dukungan dan pengobatan yang tepat dapat membantu penyandangnya hidup panjang dan sehat. Temuan kami menegaskan pentingnya memastikan setiap orang yang mungkin memiliki ADHD mendapat akses diagnosis dan pengobatan yang akurat.” — Joshua Stott, PhD
Meski demikian, harapan muncul dari analisis terhadap penggunaan obat. Di antara partisipan dengan ADHD, mereka yang menerima medikasi memiliki risiko kematian 25% lebih rendah dibandingkan yang tidak. Namun, Corrigan mengingatkan bahwa bukti ini masih awal karena hanya tiga studi yang secara khusus meneliti intervensi farmakologis. “Obat hanyalah sebagian dari cerita; banyak penyandang ADHD memperoleh manfaat dari perawatan dan dukungan jangka panjang yang komprehensif,” ujarnya.
Psikiater konsultan Sylvia Baker dari Re:Cognition Health, yang tidak terlibat dalam studi, menambahkan bahwa kebutuhan dukungan penyandang ADHD berubah seiring usia. “Penyesuaian pendidikan penting di usia muda, tetapi orang dewasa mungkin memerlukan dukungan berkelanjutan untuk pekerjaan, hubungan, regulasi emosi, kesehatan fisik, dan mengelola kondisi penyerta seperti kecemasan dan depresi,” kata Baker. Ia menekankan bahwa ADHD bukanlah kondisi masa kanak-kanak yang tidak lagi memerlukan perhatian di kemudian hari.
Dalam konteks Indonesia, temuan ini relevan mengingat layanan kesehatan mental masih menghadapi tantangan akses dan stigma. Diagnosis ADHD pada orang dewasa sering terlewat, sementara psikiater dan psikolog klinis terkonsentrasi di kota-kota besar. Kesenjangan antara angka diagnosis dan prevalensi riil, seperti disorot Stott, berpotensi membuat banyak individu tidak mendapat penanganan yang semestinya. Di sisi lain, kesadaran publik yang meningkat perlahan mulai mendorong permintaan layanan, meski kapasitas fasilitas kesehatan dan cakupan asuransi masih menjadi kendala.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana sistem kesehatan—termasuk di Indonesia—bersedia memperluas skrining dan intervensi dini ADHD, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga dewasa. Tanpa itu, risiko kematian yang lebih tinggi akan terus menghantui kelompok yang sebenarnya bisa dibantu.



