BioWare Tutup, Mass Effect 5 Dibatalkan: EA Pangkas 400 Karyawan Usai Diakuisisi PIF
Baca dalam 60 detik
- EA menutup BioWare dan membatalkan pengembangan game Mass Effect terbaru yang sedianya diumumkan pada 2020.
- Penutupan ini bagian dari efisiensi pasca-akuisisi EA oleh konsorsium PIF, Silver Lake, dan Affinity Partners senilai US$55 miliar.
- Masa depan waralaba Mass Effect kini bergantung pada adaptasi serial TV di Prime Video dan spekulasi penjualan IP ke pihak lain.

Industri gim global kehilangan salah satu studio paling berpengaruh. Electronic Arts (EA) resmi menutup BioWare, pengembang di balik seri legendaris Mass Effect dan Dragon Age, dan sekaligus membatalkan proyek sekuel Mass Effect yang telah diumumkan sejak 2020. Keputusan itu diumumkan secara senyap pada tengah hari, beberapa pekan sebelum perayaan N7 Day—momen tahunan yang biasanya dinanti penggemar untuk mendapatkan bocoran terbaru.
Penutupan BioWare bukan peristiwa tunggal. EA tengah merampingkan operasional setelah diakuisisi oleh konsorsium yang terdiri dari Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi, Silver Lake, dan Affinity Partners—firma milik menantu Donald Trump, Jared Kushner—dengan nilai transaksi mencapai US$55 miliar. Menurut laporan Bloomberg, sekitar 400 karyawan terkena pemutusan hubungan kerja, dan BioWare menjadi unit pertama yang digugurkan.
Bagi penggemar berat waralaba ini, pukulan terasa lebih dalam. Mass Effect bukan sekadar game; ia adalah jagat fiksi ilmiah dengan lore kaya, karakter kompleks, dan potensi naratif yang nyaris tak terbatas. Pembatalan sekuel yang sempat digadang-gadang menghadirkan kembali Liara T'Soni memupus harapan akan kelanjutan kisah yang telah dibangun sejak 2007.
Jejak kemunduran BioWare sebenarnya sudah terlihat lama. Sejak Mass Effect: Andromeda (2017) yang menuai kritik, studio ini seakan kehilangan arah. Anthem (2019) yang dipaksakan menjadi game live-service berakhir sebagai salah satu kegagalan terbesar industri. Setelah itu, BioWare hanya merilis Mass Effect Legendary Edition (2021) dan Dragon Age: The Veilguard (2024) yang kinerjanya di bawah ekspektasi. Eksodus talenta kreatif selama bertahun-tahun membuat studio ini tak lagi seperti dulu.
Meski demikian, menyalahkan EA sepenuhnya tidak sepenuhnya tepat. Manajemen BioWare juga dinilai gagal menjaga kualitas dan konsistensi. Namun, keputusan EA membiarkan IP sebesar Mass Effect mati begitu saja menuai kritik. Padahal, ada banyak cara untuk memonetisasi waralaba ini: game free-to-play, MMO, ARPG, hingga lisensi ke studio lain untuk menghadirkan pengalaman baru. EA bahkan telah menjajaki adaptasi serial TV Mass Effect di Amazon Prime Video, yang menunjukkan bahwa dunia ini masih punya daya tarik komersial.
"Stand in the ashes of a trillion dead souls and ask the ghosts if honor matters. The silence is your answer." — Javik, Mass Effect 3
Kutipan di atas seolah menjadi ironi atas nasib Mass Effect. Waralaba yang begitu dihormati kini berada di ujung tanduk. Penggemar di Indonesia pun tak luput merasakan dampaknya. Komunitas gim Tanah Air, yang selama ini aktif dalam diskusi dan konten fan-made tentang Mass Effect, kehilangan momentum untuk merayakan N7 Day dengan kabar baru. Lebih dari itu, penutupan BioWare menjadi pengingat bahwa industri kreatif global semakin dikendalikan oleh kepentingan finansial jangka pendek, yang sering kali mengorbankan inovasi dan warisan budaya.
Ke depan, nasib Mass Effect bergantung pada langkah EA selanjutnya. Apakah mereka akan menjual IP kepada publisher lain yang lebih peduli, atau tetap memegangnya tanpa rencana pengembangan? Serial TV di Prime Video bisa menjadi penyelamat, tetapi tanpa game baru, ekspansi jagat ini akan terasa timpang. Industri gim menunggu apakah EA akan mengambil keputusan bijak atau justru membiarkan salah satu waralaba paling berpengaruh dalam sejarah mati perlahan.



