Pelatih Java United Protes Keras Penunjukan Wasit ke Komite Wasit PSSI: Jangan Jadikan Laga Kami Bahan Uji Coba
Baca dalam 60 detik
- Fabio Lefundes menyurati Ketua Komite Wasit PSSI Yoshimi Ogawa usai laga Java United vs Isenmulang FC berakhir 1-1, mempertanyakan kredibilitas pengadil.
- Wasit Bangkit Sanjaya dinilai belum berpengalaman di kasta tertinggi karena sebelumnya hanya memimpin laga di divisi bawah.
- Protes ini membuka diskusi soal transparansi penugasan wasit di BRI Super League dan standar kualitas perangkat pertandingan.

Kekecewaan Fabio Lefundes memuncak setelah Java United ditahan Isenmulang FC 1-1 pada pekan keenam BRI Super League 2026/2027 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Selasa (20/10/2026). Pelatih asal Brasil itu tidak hanya mempertanyakan keabsahan gol tuan rumah yang sempat ditinjau VAR, tetapi juga melayangkan protes resmi kepada Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, terkait penunjukan perangkat pertandingan.
Lefundes menilai keputusan Komite Wasit menempatkan Bangkit Sanjaya sebagai pengadil utama dalam laga tersebut terasa janggal. Sebab, wasit asal Lampung Timur itu belum pernah memimpin pertandingan di kasta tertinggi musim ini; pengalamannya lebih banyak di kompetisi kasta kedua. "Saya sebenarnya selalu berhati-hati dalam berkomentar, tetapi saya ingin bicara dengan Mr. Ogawa. Tolong jangan jadikan pertandingan kami sebagai bahan uji coba," ujar Lefundes seusai laga, seperti dikutip dari Bola.com.
Protes ini bukan sekadar luapan emosi sesaat. Dalam beberapa musim terakhir, isu kualitas dan independensi wasit di kompetisi domestik kerap menjadi sorotan, terutama ketika keputusan kontroversial muncul di laga-laga krusial. Penunjukan wasit yang minim pengalaman di level tertinggi berpotensi menimbulkan persepsi ketidakadilan, bahkan jika keputusannya secara teknis benar. Bagi Java United, hasil imbang ini menghentikan tren dua kemenangan beruntun mereka dan berimbas pada posisi di klasemen.
Lefundes tidak menampik bahwa gol Isenmulang FC sempat menuai kontroversi. Ia menilai proses terciptanya gol diawali pelanggaran, namun setelah direview melalui video assistant referee (VAR), gol tetap disahkan. Meski demikian, fokus kritiknya lebih kepada proses penunjukan wasit daripada keputusan spesifik di lapangan. "Anda tidak bisa memilih wasit yang bahkan belum pernah bertugas di Liga 1 musim ini untuk memimpin di pekan keenam. Pekan keenam dia datang memimpin pertandingan tim yang dia pikir bisa dia kendalikan sebaik mungkin, dan itu sangat buruk," tegasnya.
"Sepak bola Indonesia tidak hanya dibentuk oleh pemain dan pelatih, ada staf yang membuat perbedaan, tetapi dibentuk oleh satu kesatuan secara keseluruhan di mana kita membutuhkan wasit tingkat tinggi untuk memimpin pertandingan kami." โ Fabio Lefundes, Pelatih Java United
Pernyataan Lefundes menyentuh isu struktural yang lebih luas: kualitas perwasitan di BRI Super League. Ia berharap Yoshimi Ogawa meninjau ulang penugasan wasit dan tidak asal menempatkan pengadil di pertandingan. Menurutnya, kompetisi kasta tertinggi membutuhkan wasit berkualitas karena keputusan mereka memengaruhi jalannya pertandingan dan integritas liga. "Tolong sampaikan pesan kepada Mr. Ogawa. Minta beliau untuk meninjau kembali penugasan perwasitan ini dan tidak asal menempatkan wasit di pertandingan karena kita membutuhkan kualitas," imbuhnya.
Di sisi lain, PSSI melalui Komite Wasit belum memberikan tanggapan resmi atas protes tersebut. Namun, tekanan publik terhadap transparansi penugasan wasit diperkirakan meningkat menjelang pekan-pekan berikutnya. Java United sendiri akan menghadapi Persijap Jepara di laga tandang, yang di atas kertas menjadi peluang untuk kembali ke jalur kemenangan. Akankah protes Lefundes memicu evaluasi menyeluruh terhadap standar perwasitan di BRI Super League, atau justru menjadi catatan hitam bagi kredibilitas kompetisi?



