Sunderland di Dasar Klasemen: Le Bris Diminta Berani Pasang Malick Fofana
Baca dalam 60 detik
- Sunderland terpuruk di posisi juru kunci Premier League setelah menelan empat kekalahan beruntun, memicu kritik terbuka dari pemain seperti Nordi Mukiele.
- Pelatih Regis Le Bris dinilai terlalu konservatif dengan tetap memainkan Trai Hume di sektor sayap kanan, padahal rekrutan mahal Malick Fofana baru tampil sebagai pengganti.
- Fofana, yang dibeli dari Lyon dengan potensi biaya mencapai £30 juta, memiliki statistik impresif di Ligue 1 dan bisa menjadi solusi untuk membangkitkan lini serang Sunderland.

Krisis yang melanda Sunderland semakin nyata. Setelah tujuh pertandingan Premier League, tim berjuluk Black Cats itu belum beranjak dari dasar klasemen, dan tekanan terhadap pelatih Regis Le Bris pun meningkat tajam. Kekalahan beruntun dari Arsenal, Manchester City, Brighton, dan Bournemouth membuat proyek ambisius Le Bris di Stadium of Light goyah.
Yang lebih mengkhawatirkan, para pemain mulai bersuara terbuka. Bek Nordi Mukiele, usai kekalahan di Bournemouth, menyatakan bahwa timnya kehilangan arah dan bahkan menyinggung soal potensi arogansi. “Mungkin kami menjadi arogan. Kami kesulitan di mana-mana,” ujarnya seperti dikutip Sky Sports. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa ruang ganti mulai retak.
Secara statistik, masalah utama Sunderland terletak pada dua hal: sulit mencetak gol dan mudah kebobolan. Data Understat menunjukkan tim ini telah kebobolan dengan ekspektasi gol (xGA) sebesar 14,88 sejauh musim ini, terburuk ke-18 di liga. Pertahanan yang tadinya solid kini rapuh, sementara lini depan mandek.
Le Bris dianggap terlalu bertahan pada skema yang tidak lagi efektif. Salah satu keputusan yang paling disorot adalah kepercayaan kepada Trai Hume di posisi sayap kanan. Pemain internasional Irlandia Utara itu memang pekerja keras dan disiplin, tetapi terbatas secara ofensif. Melawan Bournemouth, Hume mencatat sepuluh kontribusi defensif, tetapi tidak menciptakan peluang, tidak menyelesaikan satu pun dribel, dan hanya mencatat 59% akurasi umpan. Untuk tim yang sedang kelaparan gol, memainkan pemain bertipe bertahan di sektor menyerang jelas kontraproduktif.
Di bangku cadangan, Le Bris sebenarnya memiliki opsi yang jauh lebih menjanjikan: Malick Fofana. Sayap berusia 21 tahun itu didatangkan dari Lyon dengan harga yang bisa membengkak hingga £30 juta. Ketertarikan Arsenal dan Crystal Palace sebelumnya menunjukkan kualitasnya. Di Ligue 1 musim lalu, Fofana termasuk dalam 7% pemain sayap terbaik untuk duel yang dimenangkan dan 10% terbaik untuk ekspektasi assist per 90 menit — bukti bahwa ia agresif, berani menantang bek, dan produktif dalam menciptakan peluang.
Namun, hingga pekan ketujuh, Fofana hanya tampil sebagai pengganti dalam empat pertandingan. Le Bris tampak enggan memberikan kesempatan start, mungkin karena sistemnya tidak dirancang untuk permainan sayap ekspansif. Akan tetapi, dengan kondisi tim yang sedang terpuruk, mempertahankan status quo justru berisiko memperparah situasi. Fofana memiliki kecepatan, kelincahan, dan insting menyerang yang bisa menjadi pembeda.
“Fofana punya kemampuan elektrik dengan bola. Dia bisa menjadi sosok yang membangunkan Sunderland dari tidurnya,” ujar kreator konten Dev Bajwa, seperti dikutip Football FanCast.
Sejarah Sunderland juga pernah mencatat sosok playmaker maverick asal Benin, Stephane Sessegnon, yang menjadi pemain terbaik klub pada 2011/12. Fofana tidak harus menjadi Sessegnon baru, tetapi ia menawarkan dimensi yang hilang: kreativitas dan keberanian mengambil risiko di sepertiga akhir.
Le Bris perlu segera mengambil langkah berani. Memberi Fofana kesempatan start bukan sekadar soal taktik, melainkan juga pesan bahwa performa buruk tidak akan ditoleransi. Jika Sunderland terus bermain aman tanpa perubahan, maka posisi juru kunci akan semakin sulit ditinggalkan. Pertanyaannya, apakah Le Bris akan bertahan pada prinsipnya atau mulai mendengar desakan untuk mengubah arah?



