Ozempic dan Terapi Hormon Menopause: Kombinasi yang Menjanjikan, tapi Belum Jadi Rekomendasi
Baca dalam 60 detik
- Studi observasional terhadap 2.400 perempuan menemukan terapi hormon menopause meningkatkan efektivitas semaglutide, tetapi tidak signifikan pada tirzepatide.
- Para peneliti menegaskan temuan ini belum melalui peer review dan tidak boleh dijadikan dasar resep hormon hanya untuk menurunkan berat badan.
- Pakar menyoroti perlunya penelitian lanjutan untuk memastikan siapa yang paling diuntungkan dari kombinasi ini.

Perempuan yang menjalani masa menopause dan mengonsumsi semaglutide—zat aktif dalam Ozempic dan Wegovy—berpotensi meraih penurunan berat badan lebih besar bila juga menggunakan terapi hormon menopause (MHT). Kesimpulan itu muncul dari studi observasional berskala besar yang dipresentasikan pada Konferensi Tahunan The Menopause Society 2026, meski hasilnya belum melalui telaah sejawat.
Penelitian yang dipimpin Regina Castaneda, dokter spesialis penyakit dalam dari Mayo Clinic Florida, menganalisis data kesehatan sekitar 2.400 perempuan berusia di atas 45 tahun. Sebagian peserta menggunakan MHT, sebagian lagi tidak, sementara seluruhnya menjalani terapi agonis GLP-1, yakni semaglutide atau tirzepatide (bahan aktif Zepbound dan Mounjaro). Temuan utama: kelompok pengguna semaglutide yang disertai MHT menunjukkan penurunan berat badan lebih besar dan bertahan lebih lama dibandingkan mereka yang hanya memakai semaglutide.
Menariknya, sinyal serupa tidak terlihat pada pengguna tirzepatide. Meski ada indikasi penurunan berat badan awal yang lebih baik pada kelompok dengan MHT, perbedaan itu memudar secara statistik di akhir studi. Castaneda menduga ada dua faktor. Pertama, efek plafon: tirzepatide saja sudah menghasilkan penurunan berat badan sedemikian besar sehingga keunggulan tambahan dari hormon menjadi sulit terdeteksi. Kedua, perbedaan mekanisme kerja—semaglutide hanya menargetkan reseptor GLP-1, sementara tirzepatide juga bekerja pada reseptor GIP. Estrogen diduga memperkuat sinyal GLP-1, sehingga kombinasinya lebih terasa pada semaglutide.
"Temuan ini menggembirakan, tetapi harus dipandang sebagai hipotesis yang perlu diuji lebih lanjut. Terapi hormon menopause memiliki indikasi klinis spesifik, dan penurunan berat badan bukan salah satunya," tegas Castaneda.
Peringatan itu penting. Di media sosial dan pemberitaan, klaim bahwa terapi hormon bisa "menggenjot" efektivitas obat pelangsing telah beredar luas. Castaneda menegaskan penelitiannya tidak boleh menjadi dasar untuk meresepkan hormon demi tujuan kosmetik. MHT tetap ditujukan untuk meredakan gejala menopause yang mengganggu, seperti hot flashes dan keringat malam. Bila gejala itu terkendali, kualitas hidup perempuan membaik dan mereka lebih mampu mempertahankan pola makan serta aktivitas fisik—faktor yang tetap menjadi tulang punggung penurunan berat badan.
Sheryl Ross, dokter kandungan di Providence Saint John’s Health Center, Santa Monica, yang tidak terlibat dalam studi, mengakui kenaikan berat badan adalah keluhan paling umum di masa menopause. "Banyak perempuan berhasil menurunkan berat badan di awal, lalu kembali naik karena motivasi mengendur dan perubahan hormonal melawan mereka," ujarnya. Ia menambahkan, penumpukan lemak perut meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung, sehingga pengendalian berat badan bukan sekadar soal penampilan, melainkan investasi untuk penuaan sehat.
Senada, Prudence Hall, dokter kandungan praktik swasta di Santa Monica, menjelaskan bahwa terapi hormon menyasar akar masalah metabolisme yang tidak bisa ditangani GLP-1 sendirian. Menurutnya, penurunan estrogen memicu peradangan sistemik dan kelelahan kronis yang mengurangi aktivitas fisik; menopause juga meningkatkan kortisol yang memperparah disfungsi metabolik; penurunan testosteron mengurangi massa otot dan laju metabolisme basal; bahkan penurunan fungsi tiroid subklinis dapat mendorong kenaikan berat badan hingga 10–12 kilogram. "GLP-1 bisa mempercepat hasil, tetapi terapi hormon memulihkan mesin metabolisme yang menjaga berat badan tetap stabil dalam jangka panjang," ujarnya.
Meski demikian, Castaneda menekankan perlunya studi lebih besar dengan tindak lanjut lebih lama dan kontrol terhadap faktor perancu. Ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa terapi hormon tetap bermanfaat bagi pengguna tirzepatide, hanya saja desain penelitian ini belum mampu membuktikannya. Pertanyaan yang tersisa: siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari kombinasi ini, dan pada dosis serta durasi seperti apa? Jawabannya hanya bisa dipastikan lewat uji klinis acak yang ketat—bukan dari unggahan media sosial.



