Ketika Suami Menjadi Penopang: Kisah di Balik Trauma Pemerkosaan yang Mengubah Pernikahan
Baca dalam 60 detik
- Thomas Trezise memilih bertahan mendampingi istrinya, Susan Brison, setelah serangan brutal tahun 1990 yang hampir merenggut nyawanya.
- Peran pendamping trauma sering luput dari perhatian, padahal tekanan psikologis yang ditanggung tidak kalah berat dari korban utama.
- Kisah ini menegaskan bahwa pemulihan pasca-kekerasan seksual membutuhkan dukungan berlapis, termasuk untuk mereka yang merawat korban.

Pada 4 Juli 1990, Thomas Trezise berdiri gelisah di persimpangan jalan tanah di pedesaan Prancis. Istrinya, Susan Brison, belum kembali dari jalan pagi yang seharusnya singkat. Dua jam berlalu, dan firasat buruk mulai menghantui. Ketika seorang kolega berlari sambil berteriak, Trezise tahu hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Brison ditemukan dalam kondisi mengenaskan: babak belur, leher nyaris hancur, dan nyawanya nyaris melayang akibat serangan brutal seorang pria lokal. Ia diperkosa, dicekik, dan dipukul dengan batu, lalu ditinggalkan di jurang berlumpur. Selama 11 hari di rumah sakit Grenoble, Trezise tak pernah meninggalkan sisinya—tidur di lantai, menjadi juru bicara, dan penjaga setia karena Brison dilanda ketakutan luar biasa.
Peristiwa itu menjadi titik tolak memoir Trezise, Beginning Again, yang terbit 27 Oktober mendatang. Buku ini menawarkan perspektif langka: bagaimana seorang pria menghadapi trauma akibat kekerasan seksual yang menimpa pasangannya. Trezise mengakui ada rasa bersalah karena sebagai laki-laki, ia merasa aman hanya dengan berjalan di jalur yang sama. Namun ia menolak bungkam. "Ini bukan hanya kisah saya, tapi kisah jutaan orang," ujarnya, seraya menegaskan bahwa kekerasan seksual adalah persoalan kemanusiaan, bukan sekadar "masalah perempuan".
Yang membuat kisah ini menggugah adalah kejujuran Trezise tentang kerapuhan peran pendamping. Ia mengaku berusaha tampil tegar seperti "aktor di atas panggung", menekan emosi agar bisa menjadi suami yang kuat. Namun strategi itu justru menciptakan jarak. Brison, yang tenggelam dalam kemarahan dan ketakutan, merasa suaminya tidak benar-benar hadir secara emosional. "Saya butuh ditemani, bukan hanya dilindungi," kenang Brison. Ia bahkan sempat kesal karena Trezise tampak bisa kembali menjalani hidup normal, sementara ia terkurung di rumah dengan pintu terkunci.
Di sisi lain, Trezise diam-diam nyaris tak mampu bertahan. Ia kehilangan minat pada pekerjaan akademiknya, bahkan membatalkan proyek buku tentang Samuel Beckett. Setiap pertanyaan basa-basi seperti "Bagaimana musimu?" terasa menyiksa. "Saya seperti hantu," ujarnya. Terapi psikologis menjadi penyelamat. "Satu jam seminggu dengan seseorang yang paham trauma dan tugasnya mendengarkan—itu sangat penting," kata Trezise. Ia menyarankan para pendamping korban untuk tidak ragu mencari bantuan. "Hanya karena Anda pengasuh, bukan berarti Anda tidak butuh perawatan."
"Kami tidak akan membiarkan pemerkosa ini menghancurkan hidup kami. Seperti kata Susan, kami tidak akan menyelesaikan pekerjaannya untuknya." — Thomas Trezise
Brison sendiri telah lama menjadi suara publik bagi penyintas kekerasan seksual. Setelah serangan, ia menulis di New York Times dan menerbitkan buku Aftermath. Justru Brison yang mendorong Trezise menuliskan pengalamannya. "Saya tahu dia mampu," ujarnya. Dalam memoir itu, Brison mengizinkan deposisi aslinya—ditulis delapan jam di rumah sakit—dimuat apa adanya. Trezise menolak memparafrase karena tak ingin merampas suara istrinya. "Penting bagi pembaca untuk tahu persis apa yang dia lalui," tegasnya.
Kehadiran putra mereka, Gabriel, empat tahun setelah serangan, menjadi titik balik. "Ini awal cerita baru," kata Trezise. "Dia menunjukkan bahwa bab yang kami lalui bukan satu-satunya dalam buku hidup kami." Hingga kini, keduanya masih bergulat dengan PTSD. Brison tak pernah berani berjalan sendirian di pedesaan, dan Trezise panik jika istrinya terlambat. Namun mereka memilih bertahan. "Untuk Gabriel yang hadir, dan Tom yang tetap tinggal," tulis Brison dalam dedikasi bukunya. "Dia tinggal. Itu tidak mudah, dan banyak pria pergi."
Kisah Trezise dan Brison menyoroti pentingnya dukungan bagi para pendamping korban kekerasan seksual—sebuah kelompok yang sering terabaikan. Di Indonesia, layanan konseling untuk keluarga korban masih sangat terbatas. Komnas Perempuan mencatat ribuan kasus kekerasan seksual setiap tahun, namun perhatian pada trauma sekunder yang dialami pasangan atau keluarga korban nyaris tidak ada. Padahal, seperti ditunjukkan Trezise, ketahanan seorang pendamping turut menentukan pemulihan korban. Tanpa dukungan yang memadai, hubungan yang seharusnya menjadi ruang aman justru bisa runtuh.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya bagaimana korban pulih, tetapi juga bagaimana sistem—negara, komunitas, dan institusi kesehatan—bisa merawat mereka yang merawat. Sebab, seperti kata Trezise, "Jika Anda tidak punya dukungan sendiri, Anda tidak akan bisa menjadi pengasuh yang baik."



