Christina Applegate Bongkar Salah Diagnosis MS: Saya Justru Makin Memburuk
Baca dalam 60 detik
- Christina Applegate mengungkap bahwa diagnosis multiple sclerosis yang diterimanya pada 2021 ternyata keliru, namun kondisinya tak kunjung membaik.
- Aktris 54 tahun itu mengaku kehilangan pekerjaan dan mengalami depresi berat akibat salah diagnosis yang membuat hidupnya terhenti.
- Kasus ini menyoroti pentingnya akurasi diagnosis penyakit autoimun langka dan dampak psikologis yang menyertainya.

Christina Applegate, bintang Hollywood berusia 54 tahun, mengungkap fakta mengejutkan: diagnosis multiple sclerosis (MS) yang diterimanya pada Agustus 2021 ternyata tidak akurat. Dalam podcast MeSsy bersama Jamie Lynn Sigler, ia menceritakan bahwa dokter sempat menyatakan ia bebas dari MS, tetapi gejala yang melemahkan justru terus berlanjut bahkan memburuk.
Pengakuan ini membalik narasi publik tentang perjuangannya melawan penyakit autoimun tersebut. Alih-alih mendapat kepastian, Applegate kini berada di titik nol kembali—tanpa diagnosis pasti, tanpa alasan jelas atas penderitaannya, dan dengan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi sejak 2021. “Saya tidak membaik, Jamie. Kalau ada, saya justru semakin buruk,” ujarnya seperti dikutip dari podcast tersebut.
Kisah Applegate bukan sekadar drama selebriti. Ini adalah cermin betapa rumitnya mendiagnosis penyakit autoimun seperti MS, yang gejalanya sering tumpang tindih dengan kondisi lain. Kesalahan diagnosis bukan hal langka, dan dampaknya bisa sangat destruktif—bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental dan finansial. Applegate mengaku kehilangan pekerjaan, mengalami depresi berat, dan hidupnya seolah terhenti. “Saya kehilangan segalanya. Saya kehilangan pekerjaan saya. Saya masih harus menggunakan kursi roda saat ke dokter. Saya tidak bisa berjalan dari mobil ke ruangan,” tuturnya dengan suara emosional.
Yang membuat kasus ini semakin pelik, Applegate telah menjadi ikon atau “poster child” bagi komunitas MS. Ia merasa telah mengecewakan banyak orang karena diagnosisnya ternyata keliru. “Saya merasa seperti mengecewakan semua orang. Aneh rasanya, karena saya dan Jamie menjadi wajah untuk MS. Segala yang saya lakukan punya alasan. Sekarang saya tidak punya alasan lagi, dan itu sangat mengganggu,” katanya.
Dalam konteks Indonesia, kasus salah diagnosis penyakit autoimun juga menjadi perhatian. Sistem kesehatan yang belum merata dan akses terhadap dokter spesialis yang terbatas membuat pasien di daerah sering menerima diagnosis tidak tepat. MS sendiri tergolong penyakit langka di Indonesia, dengan prevalensi yang belum terdokumentasi baik. Namun, dampak psikologis dan sosial bagi pasien tetap signifikan. Kisah Applegate bisa menjadi pengingat akan pentingnya pendekatan diagnostik yang cermat dan dukungan mental bagi pasien dengan penyakit kronis.
“Tidak ada yang ajaib terjadi ketika dokter mengatakan saya tidak punya MS. Tidak ada yang ajaib,” tegas Applegate.
Ke depannya, Applegate berharap tim medisnya dapat melakukan investigasi menyeluruh untuk menemukan penyebab sebenarnya dari gejalanya. Ia juga berencana mendokumentasikan perjalanan ini secara online. Sementara itu, publik menanti apakah akan ada klarifikasi lebih lanjut dari pihak rumah sakit atau dokter yang menanganinya. Kasus ini membuka diskusi lebih luas tentang transparansi diagnosis dan hak pasien atas kepastian medis.



