Suahasil Nazara Dilantik sebagai Menkeu, Gibran: Figur Tepat untuk APBN Lebih Sehat
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
- Wapres Gibran menilai rekam jejak Suahasil sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 menjadi modal perbaikan tata kelola fiskal.
- Pasar menanti arah kebijakan baru, termasuk sinyal penurunan defisit dan penguatan penerimaan negara.

Presiden Prabowo Subianto resmi menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan Kementerian Keuangan kepada Suahasil Nazara, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam seremoni di Istana Negara, Jakarta, Senin. Pelantikan ini menandai periode ketiga kepemimpinan Menkeu di era pemerintahan Prabowo, setelah sebelumnya dijabat Sri Mulyani Indrawati dan Purbaya.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyatakan keyakinannya bahwa Suahasil merupakan sosok yang tepat untuk mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar lebih sehat dan kredibel. Menurutnya, pengalaman panjang Suahasil di lingkungan Kementerian Keuangan menjadi modal utama dalam memperbaiki tata kelola keuangan negara, memperkuat fiskal pusat dan daerah, serta mencegah korupsi dan inefisiensi.
"Dengan pengalaman dan kompetensi beliau, saya percaya Bapak Suahasil merupakan figur yang tepat untuk mengelola APBN agar lebih sehat dan kredibel, melakukan perbaikan tata kelola keuangan negara, memperkuat fiskal pusat dan daerah," ujar Wapres Gibran dalam pernyataan tertulisnya.
Suahasil bukan nama baru di birokrasi fiskal. Ia pertama kali menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada 25 Oktober 2019 di era Kabinet Indonesia Maju pimpinan Presiden Joko Widodo. Posisi yang sama kembali dipercayakan kepadanya pada 21 Oktober 2024 untuk mendampingi Menteri Keuangan dalam Kabinet Merah Putih. Kini, ia naik ke kursi tertinggi di kementerian yang mengelola lebih dari Rp3.000 triliun belanja negara tersebut.
Bagi pelaku pasar dan dunia usaha, pergantian ini menjadi sinyal penting terkait arah kebijakan fiskal ke depan. Suahasil dikenal sebagai teknokrat yang memiliki pemahaman mendalam tentang instrumen utang dan pembiayaan negara. Ia juga terlibat langsung dalam penyusunan strategi penerimaan negara di tengah tekanan global yang masih membayangi, seperti ketidakpastian harga komoditas dan perlambatan ekonomi Tiongkok.
Sejumlah kalangan menilai tantangan terbesarnya adalah menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sembari mendorong belanja produktif untuk program prioritas seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Di sisi lain, rasio utang terhadap PDB yang terus meningkat memerlukan pengelolaan hati-hati agar tidak mengganggu stabilitas makroekonomi.
Wapres Gibran juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung langkah Presiden Prabowo dalam menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan kepercayaan publik. "Mari kita terus mendukung langkah Bapak Presiden dalam menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan kepercayaan publik, mewujudkan kesejahteraan masyarakat, serta mengelola keuangan negara yang lebih sehat dan bertanggung jawab," katanya.
Dari sisi pasar keuangan, pelantikan ini dapat memengaruhi pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Investor akan mencermati pernyataan perdana Suahasil terkait rencana penerbitan surat utang, optimalisasi penerimaan pajak, serta kelanjutan program restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Suahasil dijadwalkan segera memaparkan data APBN terkini dan prioritas kebijakan fiskal dalam waktu dekat. Sementara itu, Menteri Investasi Rosan Roeslani menyatakan bahwa Danantara siap membahas setoran dividen dengan Menkeu baru, menandakan koordinasi lintas lembaga akan segera berjalan.
Dengan latar belakang akademis sebagai doktor ekonomi dari University of Illinois, Amerika Serikat, Suahasil diharapkan mampu menjembatani kepentingan politik dan kebutuhan pasar. Namun, pertanyaan besarnya: mampukah ia mempercepat reformasi perpajakan dan mendorong belanja negara yang lebih efisien tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan? Hanya waktu yang akan membuktikan, tetapi arah kebijakan fiskal dalam 100 hari pertama kepemimpinannya akan menjadi indikator krusial.



