Purbaya Yudhi Sadewa Pamit dari Kursi Menkeu: 'Baru Dipecat, Masak Jadi Menteri Lagi?'
Baca dalam 60 detik
- Purbaya Yudhi Sadewa resmi menyerahkan jabatan Menteri Keuangan kepada Suahasil Nazara dan memilih menghabiskan waktu dengan memancing di kolam belakang rumahnya.
- Ia menegaskan tidak akan kembali ke kabinet dalam waktu dekat, menyusul pernyataan bahwa dirinya sudah lama berencana pensiun sejak masih di LPS.
- Pergantian ini menandai babak baru kebijakan fiskal Indonesia, dengan pasar menanti arah Suahasil Nazara mengelola APBN dan program prioritas pemerintah.

Purbaya Yudhi Sadewa menutup masa jabatannya sebagai Menteri Keuangan dengan pernyataan ringan namun sarat makna. Usai serah terima jabatan kepada Suahasil Nazara di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (15/9/2026), ia mengaku ingin segera pulang untuk memancing di kolam belakang rumahnya. "Habis ini mau pulang, mancing di belakang rumah," ujarnya kepada wartawan. Namun di balik gurauan itu, tersirat pesan tegas: ia tidak berencana kembali ke lingkar kekuasaan dalam waktu dekat.
Ketika ditanya soal kemungkinan masuk kabinet lagi, Purbaya menjawab dengan nada bercanda yang tajam. "Enggak lah, baru dipecat Bapak jadi menteri lagi, gimana lo," katanya. Ia bahkan mengaku sudah lama ingin pensiun dari pemerintahan. Sebelum menjabat Menkeu, saat masih di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya sudah hampir memasuki masa pensiun. "Kita pengen bantuin sebentar, udah cukup lah setahun," tambahnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa kepergiannya bukan sekadar rotasi biasa, melainkan keputusan pribadi untuk mundur dari hiruk-pikuk birokrasi.
Pergantian di kursi Bendahara Negara selalu menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar. Suahasil Nazara, yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan, kini memegang kendali penuh atas kebijakan fiskal. Pasar obligasi dan nilai tukar rupiah biasanya bereaksi terhadap transisi semacam ini, terutama jika ada ketidakpastian soal arah belanja negara dan prioritas program. Meski demikian, kesinambungan program antara Purbaya dan Suahasil dinilai relatif terjaga karena keduanya berasal dari lingkaran teknis yang sama.
Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, transisi ini menjadi momen untuk mencermati arah kebijakan fiskal ke depan. Suahasil Nazara dikenal sebagai ekonom yang berpengalaman di bidang makro dan fiskal, namun tantangan yang dihadapi tidak ringan: mulai dari menjaga defisit anggaran, mendorong pertumbuhan, hingga mengelola ekspektasi pasar di tengah ketidakpastian global. Keputusan Purbaya untuk mundur juga bisa dibaca sebagai sinyal bahwa ia tidak ingin terlibat dalam dinamika politik anggaran yang semakin kompleks.
"Gue punya kolam di belakang, ya bisa mancing belakang rumah sambil ngelamun 'kenapa dipecat?', gitu," ujar Purbaya sambil tertawa.
Pernyataan bernada santai itu justru mengundang tafsir. Di satu sisi, ia tampak legawa dan tidak ambisius untuk kembali. Di sisi lain, kata "dipecat" yang ia lontarkan secara bercanda bisa memicu spekulasi tentang dinamika internal kabinet. Namun, dalam konteks politik Indonesia, pergantian menteri menjelang atau setelah periode tertentu adalah hal lumrah. Yang terpenting bagi pasar adalah kepastian kebijakan dan kelanjutan program strategis.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada langkah Suahasil Nazara dalam menyusun APBN dan merespons tekanan global. Apakah ia akan melanjutkan gaya Purbaya yang cenderung pragmatis, atau membawa pendekatan baru? Sementara itu, Purbaya tampaknya sudah mantap menikmati masa pensiunnya. "Udah pensiun, ya udahlah," pungkasnya. Bagi publik, pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di balik jabatan tinggi, ada manusia yang ingin kembali ke hal-hal sederhanaโseperti memancing di kolam belakang rumah.



